Melihat ‘Harta Karun’ di Museum Zoologi ITB update oleh Giok4D

Posted on

Gedung itu memiliki atap berbentuk ‘sontog jolopong’ (jenis atap tradisional) dan dikelilingi banyak pohon. Suasana sejuk dan hening, identik seperti di pedesaan. Banyak burung hinggap di pepohonan yang mengelilingi gedung itu, sehingga kicauan burung yang riuh sering terdengar di pagi atau sore menjelang malam.

Gedung bercat putih dengan atap genteng tanah liat merupakan salah satu gedung milik Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB). Tidak banyak yang tahu isi dari gedung itu. Jika dilihat dari luar, gedung itu tampak seperti gedung pada umumnya, namun jika Anda masuk ke dalamnya, Anda akan menemukan banyak ‘harta karun’.

Gedung itu merupakan Museum Zoologi, dan harta karun yang dimaksud adalah koleksi yang ada di dalamnya. Museum Zoologi menyimpan koleksi invertebrata laut, amfibi, reptil, burung, hingga mamalia besar.

Dari catatan ITB, koleksi museum ini merupakan hasil penemuan peneliti yang berasal dari Eropa dan Amerika Serikat, yakni Prof. Poul Heegaard dan Prof. Walter Roepke, yang melakukan berbagai ekspedisi ke berbagai wilayah di Indonesia. Sebagian koleksi ekspedisi itu kemudian disimpan di Departemen Biologi ITB (sekarang menjadi SITH ITB). Penyimpanan ini bertujuan sebagai bahan penunjang penelitian dan pendidikan biologi, khususnya dalam bidang zoologi.

infoJabar berkesempatan berkunjung ke Museum Zoologi ITB belum lama ini. Saat berkunjung, infoJabar bertemu dengan Kurator Museum Zoologi ITB, Ganjar Cahyadi. Ganjar kemudian mengajak masuk ke museum untuk melihat langsung koleksi-koleksi yang dipajang.

“Jadi Museum Zoologi ITB ini sudah mulai menjadi salah satu fasilitas untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar di Departemen Biologi dulu, tahun 1947. Jadi pas ada Departemen Biologi, dibutuhkan beberapa fasilitas, salah satunya fasilitas untuk kegiatan mengajar dan belajar zoologi, makanya beberapa spesimen itu dikumpulkan di sini,” kata Ganjar kepada infoJabar.

Spesimen hewan yang ada di Museum Zoologi ITB ini di antaranya harimau, musang, rusa, tikus, babi, monyet, landak, ular, buaya, biawak, macam-macam burung, seperti cendrawasih, merak, burung hantu, dan lainnya.

Menurut Ganjar, keberadaan museum ini merupakan fasilitas pendukung Tridharma Perguruan Tinggi, berfungsi sebagai bahan penelitian dan bahan ajar.

Disinggung terkait jumlah koleksi, Ganjar menyebutkan bahwa saat ini terdapat sekitar 3.000 spesies hewan dari sekitar 11.000 spesimen.

“Meliputi vertebrata mulai dari amfibi, reptil, ikan, burung, mamalia. Itu lumayan representatif lah kalau misalnya buat praktikum dan penelitian. Lalu ada juga invertebrata, misalnya invertebrata laut, seperti moluska, cephalopoda, terus terumbu karang, serangga dan arthropoda,” ungkapnya.

Ganjar menuturkan, asal-usul spesimen ini karena Departemen Biologi sudah mulai aktif untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Dulu para penelitinya atau pengajarnya mengumpulkan spesimen itu dari seluruh Indonesia.

“Jadi dikumpulkan untuk mempelajari taksonomi dan ekologi hewan di Departemen Biologi. Kalau yang besar, misalnya burung dan mamalia, dulu sejarahnya itu, mahasiswa biologi jadi semacam konsultan. Dulu kan Kebun Binatang Bandung namanya Zoological Garden Bandung. Dulu mungkin jadi konsultan, seperti misalnya ini hewannya apa, nama spesiesnya, dan selanjutnya, cara rawatnya bagaimana. Kalau misalnya ada yang mati, sebagai timbal balik, bangkai hewan itu dibawa dan dimasukkan ke fasilitas kami,” jelasnya.

Sebelum pindah ke Kampus ITB Jatinangor, Sumedang, Museum Zoologi ITB ada di Kampus ITB Tamansari, Kota Bandung. Karena lokasinya dekat, ketika ada satwa mati di Kebun Binatang Bandung, tim museum membawa bangkai tersebut untuk langsung diawetkan.

“Kebetulan waktu itu, ada mahasiswa kami yang cukup intensif untuk melakukan, misalnya taksidermi atau koleksi hewan yang besar-besar gitu ya, namanya itu Max van Balgooy. Dia keturunan Belanda-Indonesia, keturunan Bojonegoro kalau tidak salah. Max van Balgooy merupakan salah satu mahasiswa Departemen Biologi yang banyak mengoleksi hewan-hewan, termasuk hewan yang besar juga,” terangnya.

Selain koleksi spesimen, ada juga koleksi bahan ajar. Menurut Ganjar, bahan ajar ini sebelumnya ada di buku dan dipindahkan ke kertas yang lebih besar ukuran A0, dengan skala yang spesifik.

“Bahan ajar, baik itu awetan basah maupun kering, kita juga punya koleksi bahan ajar zaman dulu, dalam bentuk ilustrasi zoologi. Jadi berupa gambar-gambar spesimen, lalu gambar-gambar proses di biologi, dan gambar representatif lah buat beberapa taksa tertentu, atau kelompok hewan tertentu,” tambahnya.

Ratusan lembar bahan ajar ini meliputi beberapa mata kuliah zaman dulu, di antaranya fisiologi, taksonomi, ekologi dan genetika. Bahan ajar itu bermacam-macam, digambarkan dan diilustrasikan. Menurut Ganjar, bahan ajar itu masih digunakan di tahun 1970-an.

“Nah informasinya, sempat wawancara dengan beberapa dosen senior di sini, bahwa angkatan tahun 70-an itu masih memakai. Jadi sekitar tahun 70-an lah berarti masih dipakai. Dan SITH ITB sendiri atau Departemen Biologi zaman dulu masih punya ilustratornya dari orang lokal bernama Pak Adang sama Pak Usman,” tuturnya.

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke Museum Zoologi ITB, lokasinya ada di Kampus ITB Jatinangor, Jalan Letnan Jenderal Purn. (Purnawirawan) Dr. (HC) Mashudi No. 1, Sumedang. Waktu kunjungan setiap Senin-Jumat pukul 08.00-16.00 WIB (istirahat pukul 11.45 – 13.00 WIB). Jika ingin ke museum ini Anda harus janjian terlebih dahulu dengan menghubungi Ganjar Cahyadi melalui nomor WhatsApp 085720339120 atau e-mail: ganjar@sith.itb.ac.id.

Ratusan Bahan Ajar


Selain koleksi spesimen, ada juga koleksi bahan ajar. Menurut Ganjar, bahan ajar ini sebelumnya ada di buku dan dipindahkan ke kertas yang lebih besar ukuran A0, dengan skala yang spesifik.

“Bahan ajar, baik itu awetan basah maupun kering, kita juga punya koleksi bahan ajar zaman dulu, dalam bentuk ilustrasi zoologi. Jadi berupa gambar-gambar spesimen, lalu gambar-gambar proses di biologi, dan gambar representatif lah buat beberapa taksa tertentu, atau kelompok hewan tertentu,” tambahnya.

Ratusan lembar bahan ajar ini meliputi beberapa mata kuliah zaman dulu, di antaranya fisiologi, taksonomi, ekologi dan genetika. Bahan ajar itu bermacam-macam, digambarkan dan diilustrasikan. Menurut Ganjar, bahan ajar itu masih digunakan di tahun 1970-an.

“Nah informasinya, sempat wawancara dengan beberapa dosen senior di sini, bahwa angkatan tahun 70-an itu masih memakai. Jadi sekitar tahun 70-an lah berarti masih dipakai. Dan SITH ITB sendiri atau Departemen Biologi zaman dulu masih punya ilustratornya dari orang lokal bernama Pak Adang sama Pak Usman,” tuturnya.

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke Museum Zoologi ITB, lokasinya ada di Kampus ITB Jatinangor, Jalan Letnan Jenderal Purn. (Purnawirawan) Dr. (HC) Mashudi No. 1, Sumedang. Waktu kunjungan setiap Senin-Jumat pukul 08.00-16.00 WIB (istirahat pukul 11.45 – 13.00 WIB). Jika ingin ke museum ini Anda harus janjian terlebih dahulu dengan menghubungi Ganjar Cahyadi melalui nomor WhatsApp 085720339120 atau e-mail: ganjar@sith.itb.ac.id.

Ratusan Bahan Ajar