Lampu ‘Pucuhensap’ di Cianjur: Pengendara Keluhkan Silau-Bahaya

Posted on

Kabupaten Cianjur tengah viral akibat pepohonan di kanan-kiri jalur protokol yang dipasangi lampu berwarna. Lampu yang menyilaukan pengendara itu bahkan dijuluki Lampu ‘Pucuhensap’ (Put Your Hands Up) yang dikaitkan dengan nuansa Tempat Hiburan Malam (THM).

Pantauan infoJabar, lampu berwarna biru dan ungu itu dipasang di pepohonan sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan Mangunsarkoro, dan kawasan Citywalk.

Lampu itu dipasang mulai dari pangkal pohon hingga bagian atas pohon. Alih-alih memberikan nuansa estetik, pemasangan itu justru menyilaukan mata, terutama para pengendara yang melintas.

Bahkan beberapa warganet sempat mengunggah suasana jalur protokol Cianjur dengan gemerlap lampu tersebut dan menyebutnya lampu ‘Pucuhensap’, yang diambil dari bahasa Inggris Put Your Hands Up, yang merupakan lirik musik remix DJ.

“Ka Cianjur teh sok ujug-ujug hayang pucuhensap, pucuhensap. Ti ditu nepika dieu lomba lampu pucuhensap kieu (ke Cianjur tuh suka tiba-tiba ingin pucuhensap, pucuhensap. Dari sana sampai sini berlomba-lomba memasang lampu pucuhensap seperti ini),” ungkap pemilik akun @w***u dalam unggahan video di media sosial TikTok.

Rian Hidayat (26), pengendara, mengaku sinar dari lampu tersebut juga mengganggu pandangan, sebab posisi yang sejajar dengan jalan membuat pandangan ke depan tidak jelas.

“Lampu PJU juga kalah terang dibandingkan lampu pucuhensap. Silau kena mata, sulit untuk lihat ke depan,” ungkap dia, Kamis (1/1/2026).

Dia meminta Pemkab Cianjur segera meninjau kembali pemasangan lampu di pohon tersebut. “Karena tidak menciptakan kesan estetik, malah bisa membahayakan,” kata dia.

Sementara itu, Bupati Cianjur Muhammad Wahyu mengatakan, lampu tersebut dipasang untuk menerangi jalan perkotaan Cianjur.

“Lebih baik terang daripada gelap,” ujar dia.

Terkait pemilihan warna yang menjadi sorotan publik karena menilainya bernuansa THM dan menyilaukan pengendara, Pemkab akan melakukan evaluasi.

“Kata siapa seperti THM. Ini kan ada yang suka ada yang nggak. Tapi nanti kami evaluasi,” kata dia.

Pemasangan lampu ‘Pucuhensap’ di pepohonan sepanjang jalur protokol Cianjur disorot aktivis lingkungan. Pasalnya, lampu yang dipasang menggunakan paku dinilai akan merusak dan menyakiti pohon tersebut.

Lampu LED tersebut terlihat dipasang menggunakan klep kabel berwarna putih dengan bagian sisinya diperkuat dengan paku. Pada satu pohon terhitung ada lebih dari 20 klep dan paku yang ditancapkan. Jumlahnya tergantung pada diameter dan ketinggian pohon.

Aktivis Lingkungan Cianjur, Eko Wiwid mengatakan, tindakan Pemerintah Kabupaten Cianjur salah kaprah meskipun tujuannya baik untuk menerangi jalan.

Menurut dia, pemasangan paku itu akan berdampak panjang pada pohon. Padahal seharusnya pohon dibiarkan tumbuh secara alami tanpa ada tindakan yang dapat melukai dan merusak.

“Kalau dipasang paku begitu tentu itu menyakiti pohon, bahkan jangka panjangnya dapat merusak. Sebab paku itu bisa berkarat, dan karatnya tentu bisa mengancam pohon itu sendiri dalam jangka panjang,” kata dia.

Dia mengatakan, Pemkab juga seharusnya mengalokasikan anggaran lebih tepat, jika tujuannya untuk memberikan nuansa terang.

“Kalau memang tujuannya penerangan, ya pasang saja PJU. Atau kalau mau pasang tiang khusus, jangan di pohon. Manfaatkan fasilitas umum lain yang sesuai peruntukannya,” kata dia.

Selain itu, lanjut Eko, Pemkab juga mesti menerapkan teknologi ramah lingkungan atau energi terbarukan, di antaranya sumber listrik yang tidak lagi dari kabel listrik tetapi panel surya.

“Ini bisa jadi salah satu solusi, pakai panel surya. Supaya ramah lingkungan dan energi terbarukan. Jadi kami harap ini dievaluasi lagi,” kata dia.

Lampu ‘Pucuhensap’ Dipasang dengan Paku

Pemasangan lampu ‘Pucuhensap’ di pepohonan sepanjang jalur protokol Cianjur disorot aktivis lingkungan. Pasalnya, lampu yang dipasang menggunakan paku dinilai akan merusak dan menyakiti pohon tersebut.

Lampu LED tersebut terlihat dipasang menggunakan klep kabel berwarna putih dengan bagian sisinya diperkuat dengan paku. Pada satu pohon terhitung ada lebih dari 20 klep dan paku yang ditancapkan. Jumlahnya tergantung pada diameter dan ketinggian pohon.

Aktivis Lingkungan Cianjur, Eko Wiwid mengatakan, tindakan Pemerintah Kabupaten Cianjur salah kaprah meskipun tujuannya baik untuk menerangi jalan.

Menurut dia, pemasangan paku itu akan berdampak panjang pada pohon. Padahal seharusnya pohon dibiarkan tumbuh secara alami tanpa ada tindakan yang dapat melukai dan merusak.

“Kalau dipasang paku begitu tentu itu menyakiti pohon, bahkan jangka panjangnya dapat merusak. Sebab paku itu bisa berkarat, dan karatnya tentu bisa mengancam pohon itu sendiri dalam jangka panjang,” kata dia.

Dia mengatakan, Pemkab juga seharusnya mengalokasikan anggaran lebih tepat, jika tujuannya untuk memberikan nuansa terang.

“Kalau memang tujuannya penerangan, ya pasang saja PJU. Atau kalau mau pasang tiang khusus, jangan di pohon. Manfaatkan fasilitas umum lain yang sesuai peruntukannya,” kata dia.

Selain itu, lanjut Eko, Pemkab juga mesti menerapkan teknologi ramah lingkungan atau energi terbarukan, di antaranya sumber listrik yang tidak lagi dari kabel listrik tetapi panel surya.

“Ini bisa jadi salah satu solusi, pakai panel surya. Supaya ramah lingkungan dan energi terbarukan. Jadi kami harap ini dievaluasi lagi,” kata dia.

Lampu ‘Pucuhensap’ Dipasang dengan Paku