Penemuan di Malawi memicu pertanyaan baru tentang ritual pemakaman prasejarah. Arkeolog berhasil menemukan bukti kremasi manusia dewasa tertua yang dilakukan secara sengaja, sebuah praktik yang sebelumnya dianggap belum ada pada masa tersebut.
Melansir Independent, situs arkeologi Hora 1 yang terletak di kaki bukit granit Malawi sebenarnya telah dikenal selama beberapa dekade. Di sana, para ilmuwan menemukan abu prasejarah seukuran kasur queen size berisi sisa jenazah seorang perempuan dengan tinggi sekitar 150 cm yang terawetkan selama ribuan tahun.
“Kami beruntung menemukan tempat pembakaran ini di lokasi yang terlindung. Tulang-tulangnya terawetkan dengan baik karena tidak terkena hujan,” ujar arkeolog dari Yale University, Jessica Thompson.
Abu prasejarah tersebut ditemukan dalam kondisi mengeras seperti semen. Dr Thompson menjelaskan bahwa kelembapan tanah, bukan air hujan, yang menyebabkan abu tersebut membatu. Kondisi ini justru menguntungkan karena lapisan keras tersebut melindungi tulang dari kerusakan akibat rayap.
Temuan ini sangat signifikan secara kronologis. Sebelumnya, kremasi tertua yang terkonfirmasi melalui bukti tumpukan kayu bakar diperkirakan terjadi 3.500 tahun lalu. Namun, kremasi di Hora 1 ini dilakukan oleh pemburu-pengumpul Afrika sekitar 9.500 tahun yang lalu.
“Ini adalah cara pemakaman yang sangat tidak biasa. Kami jarang menemukan jasad yang dibakar dari periode ini, jadi penemuan ini cukup mengejutkan,” kata antropolog Jessica Cerezo-Román.
Menurut para peneliti, ritual pemakaman memberikan wawasan mendalam tentang cara manusia prasejarah memperlakukan sesamanya. Status dan bagaimana seseorang diperlakukan semasa hidup akan sangat memengaruhi prosesi pemakamannya.
Di situs Malawi, jenazah perempuan tersebut menunjukkan tanda-tanda manipulasi. Hal ini mengindikasikan bahwa tubuhnya dikremasi dengan sangat hati-hati hanya beberapa hari setelah kematian, sebelum proses pembusukan alami terjadi.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini membuktikan bahwa pemburu-pengumpul Afrika kuno telah menjalankan praktik pemakaman komunal yang rumit. Praktik ini muncul jauh sebelum era produksi pangan (pertanian), sekaligus menantang asumsi tradisional mengenai skala kerja sama dalam masyarakat tropis purba.
“Tindakan seperti memotong daging dari tulang atau melepas tengkorak mungkin terdengar mengerikan bagi kita, namun ada alasan kuat di baliknya, yakni berkaitan dengan memori sosial dan pemujaan leluhur,” jelas Dr Cerezo-Román.
Secara teknis, kremasi adalah pekerjaan berat. Dibutuhkan sekitar 30 kg kayu kering dan rumput untuk mencapai suhu api lebih dari 500 derajat Celsius guna mengubah tubuh menjadi abu. Inilah alasan mengapa kremasi sangat jarang dilakukan oleh masyarakat pemburu-pengumpul yang berpindah-pindah.
Penemuan ini kini mendorong para arkeolog untuk meninjau kembali pandangan mereka tentang dinamika kelompok masyarakat kuno. Muncul sebuah misteri besar: mengapa perempuan ini mendapatkan perlakuan istimewa dengan dikremasi, sementara jenazah lainnya di situs yang sama hanya dikuburkan secara biasa?
“Pasti ada sesuatu yang sangat khusus tentang dirinya sehingga ia mendapatkan perlakuan yang berbeda,” tutup Thompson.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
