Persib Bandung tengah merayakan hari jadi ke-107. Klub berjuluk Maung Bandung tersebut telah menyepakati perubahan tanggal hari jadi dari 14 Maret 1933 menjadi 5 Januari 1919.
Selama berpuluh tahun, Persib dan pendukung setianya, bobotoh, merayakan hari ulang tahun pada 14 Maret 1933. Namun, sejak 2023, tradisi itu berubah seiring mencuatnya diskusi perubahan hari jadi ke publik.
Salah satu argumen yang dipaparkan adalah Persib seharusnya lahir sebelum induk organisasi sepak bola Indonesia, PSSI, berdiri pada 1930. Sebab, Persib merupakan salah satu dari tujuh klub penggagas PSSI bersama Persija Jakarta, PSIM Yogyakarta, Persis Solo, PSM Madiun, PPSM Magelang, dan Persebaya Surabaya pada era Hindia Belanda.
Persib kemudian menggandeng akademisi hingga sejarawan dari Universitas Padjadjaran (Unpad). Meski sempat memicu polemik karena ditentang bobotoh, manajemen Persib akhirnya mengesahkan hari jadi klub pada 5 Januari 1919.
Pengesahan perubahan hari jadi tersebut dilakukan pada 17 Desember 2023. Ketua Tim Peneliti Hari Jadi Persib, Prof. Kunto Sofianto, menyatakan bahwa perubahan ini didasarkan pada hasil penelusuran arsip Hindia Belanda tahun 1919, 1923, hingga 1928.
Dari penelusuran tersebut, tim peneliti menemukan koran lokal bernama Kaoem Moeda terbitan 7 Januari 1919. Koran itu memberitakan pembentukan Bandoengsch Inlandsch Voetbal Bond (Perserikatan Sepak bola Bumiputra Bandung).
Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa pembentukan Bandoengsch Inlandsch Voetbal Bond dilakukan pada 5 Januari 1919 yang disertai pertandingan sepak bola. Berdasarkan hasil penelitian selama enam bulan, manajemen Persib sepakat menetapkan 5 Januari 1919 sebagai hari jadi klub.
Polemik muncul tidak sekadar dari obrolan suporter dan pencinta Persib Bandung. Pada April 2024, sekelompok orang menggugat manajemen Persib karena mengubah hari jadi dari 14 Maret 1933 menjadi 5 Januari 1919.
Namun, setelah beberapa bulan, gugatan tersebut berakhir sekaligus menuntaskan kisruh hari jadi. Para penggugat mencabut gugatan yang terdaftar di PN Bandung setelah mencapai kesepakatan damai.
Adapun delapan penggugat manajemen PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) adalah M. Faturochim, Wahyu Gunawan, Teddy Sumery, Yusuf Sutendi, Taufik Hidayat, Syahrul Aziz, Hendrik Alexsander Suoth, dan Rusli Sadang. Mereka berasal dari Persatuan Sepak Bola (PS) Fatto, Bina Pakuan, Kewalram, Diana, Jatira, Turangga, Young Tigers, dan PS Bara Siliwangi, yang merupakan anggota Askot PSSI Kota Bandung.
Dalam petitumnya, kedelapan orang ini menggugat agar hari jadi Persib Bandung tetap 14 Maret 1933. Mereka juga menuntut agar naskah akademik buatan Tim Prodi Sejarah Universitas Padjadjaran dinyatakan tidak sah.
Namun, setelah mendaftarkan gugatan, kedelapan penggugat justru memutuskan untuk mencabutnya. Hakim PN Bandung telah mengesahkan pencabutan gugatan tersebut sejak 3 Oktober 2024.
“Menetapkan. Mengabulkan permohonan para penggugat. Menyatakan perkara ini dicabut,” demikian bunyi keterangan pencabutan gugatan tersebut sebagaimana dikutip infoJabar dari laman SIPP PN Bandung, Rabu (9/10/2024).
Dalam pertimbangannya, Majelis Hakim PN Bandung yang diketuai Taryan Setiawan menyatakan telah terjadi kesepakatan damai antara kedua belah pihak.
Pengacara penggugat, Bhudi Agung, membeberkan alasan pencabutan gugatan. Dalam wawancara dengan infoJabar, Bhudi menyebut PT PBB menunjukkan keseriusan setelah polemik hari jadi ini masuk ke ranah hukum.
“Latar belakang pencabutan itu karena kami dengan pihak PT PBB yang diwakili Pak Kuswara sudah bertemu beberapa kali. Akhirnya, kami sepakat perlu ada solusi. Kalau masing-masing keukeuh, tidak akan ada kesepakatan,” katanya.
Bhudi menambahkan, seiring berjalannya waktu, pihaknya melihat ada keseriusan dari PT PBB untuk mengerucut ke arah pembicaraan lebih lanjut. “Ada permintaan dari PT PBB agar gugatan dicabut dulu sebelum bicara lebih dalam,” ungkapnya.
Bhudi mengungkapkan bahwa PT PBB telah menunjukkan komitmen untuk memperhatikan poin-poin gugatan yang dilayangkan sebelumnya.
“Awalnya kami berharap ada pembicaraan dulu sebelum dicabut. Namun, dengan berbagai pertimbangan, kami mengambil sikap untuk mencabutnya lebih dulu. Mereka menjanjikan poin-poin kesepakatan setelah putusan pencabutan tersebut,” tuturnya.
Tidak hanya itu, Bhudi juga menyinggung adanya janji dari PT PBB yang menjadi dasar pencabutan gugatan di pengadilan. Ia menyebut PT PBB berjanji segera menggelar pertemuan dengan para penggugat untuk membahas tuntutan tersebut.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat. Kami berharap proses ini efisien dan sesegera mungkin mencapai kesepakatan. Intinya, kami berharap ini saatnya ada win-win solution antara teman-teman PS dengan PT PBB,” pungkasnya.
Setelah kisruh mereda, Persib seolah menemukan kembali sentuhan terbaiknya. Maung Bandung berhasil meraih gelar juara Liga 1 musim 2023/2024 dan 2024/2025 secara beruntun, serta berpotensi mencetak hattrick juara pada musim 2025/2026.







