Udara kering menyelimuti hutan kecil di lereng Gunung Tangkil, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Jalan setapak licin membawa infoJabar ke sebuah gubuk reyot berukuran tak lebih dari 2×2 meter.
Atapnya disambung seng karat dengan genteng tua, sementara dindingnya tambal-sulam dari bilik bambu dan karung pakan ayam.
Di halaman sempit yang dipenuhi daun kering, seorang perempuan berkerudung biru tampak menyapu tanah dengan sapu lidi. Namanya Iis (43), buruh penyadap karet yang tinggal di sini bersama dua anaknya, jauh dari keramaian, di tengah sunyi hutan Palabuhanratu.
“Kalau hujan gede, bocor. Kalau kena angin, goyang-goyang,” ungkapnya sambil menunjuk bagian atap yang miring dan berdebu, Sabtu (30/8/2025).
Begitu sekat karung yang disulap jadi pintu gubuk dibuka, aroma lembap langsung menyeruak. Di dalam, kasur tipis terbentang di atas terpal biru. Dua anak Iis tidur saling berhimpitan, berbagi satu selimut lusuh. Celah kecil pada anyaman bilik membuat cahaya matahari memantul seperti titik-titik bintang di dinding.
“Enggak ada listrik di sini, kalau malam cuma lampu minyak kecil,” tuturnya.
Sudah hampir dua tahun Iis tinggal di sini. Awalnya, ia tak punya pilihan lain setelah rumahnya dijual mantan suami. Bekas suaminya, pria yang ia nikahi selama 20 tahun, kini hidup bersama istri barunya.
“Pas saya pulang, suami sudah nikah lagi, rumah juga dijual sama dia, saya enggak punya apa-apa lagi,” ucapnya lirih.
Setiap pagi, sebelum kabut turun terlalu tebal, Iis menapaki jalan tanah menuju kebun karet. Dengan pisau kecil, ia menyayat kulit batang pohon, menunggu getah menetes ke wadah kecil yang digantung di bawahnya.
“Kalau sekarang mah kurang bagus, kadang dapat, kadang enggak. Kalau lagi bagus paling besar Rp 400 ribu sebulan,” ujarnya.
Uang itu menjadi satu-satunya sumber penghidupan. Jika hasil sadapan tak cukup, Iis kerap harus berutang. Untuk makan, ia mengandalkan bantuan seadanya dari orang sekitar. Untuk minum, air diambil dari sawah di atas bukit.
“Kalau air untuk minum ya ambil dari sawah di atas, seadanya,” tambahnya.
Iis hidup bersama dua anaknya. Si sulung berusia 14 tahun, sedangkan si bungsu baru 2,5 tahun. Kondisi ekonomi membuat si sulung terpaksa berhenti sekolah sejak lulus madrasah.
“Putus dari madrasah, enggak ada biaya jadi enggak melanjutkan,” ujarnya.
Meski hidup serba kekurangan, Iis tetap berusaha memberikan kenyamanan untuk anak-anaknya. Setiap sore, ia menyapu halaman, merapikan pakaian, dan memastikan ada makanan untuk mereka.
Sebenarnya, Iis masih punya saudara jauh di Cilograng, Banten. Namun, ia enggan kembali. Bukan karena hubungan yang retak, melainkan rasa malu pulang dengan tangan kosong.
“Saudara jauh di Cilograng ada, tapi mau pulang malu, cuma bawa anak. Lebih baik bertahan di sini,” ujarnya.
Setiap hari, ia menaruh harapan pada pohon-pohon karet yang ia sadap. Setiap tetes getah adalah secercah peluang untuk membeli beras, membayar utang, atau setidaknya memastikan anak-anaknya tidak kelaparan.
Ketika malam datang, hutan Gunung Tangkil hanya menyisakan suara jangkrik dan gesekan dedaunan. Di dalam gubuk, lampu minyak kecil menerangi wajah Iis dan anak-anaknya. Mereka tidur saling berdekapan, menghangatkan tubuh dari udara dingin.
Iis tahu, hidupnya jauh dari kata cukup. Tapi ia juga tahu, menyerah bukan pilihan.
“Apa boleh buat, selama anak-anak mau sama saya, saya bakal bertahan di sini,” ucapnya pelan, matanya berkaca-kaca.