Ki Warsad dan Sanggar Jaka Baru, Penjaga Warisan Wayang Cepak Indramayu

Posted on

Kesenian wayang cepak serta tari topeng berkembang pesat di Kabupaten Indramayu, Kabupaten/Kota Cirebon, dan sekitarnya. Dulu berjaya dan sangat mudah menjumpai sanggarnya, kini hanya sedikit yang memilih bertahan di tengah persoalan yang beragam.

Salah satunya adalah Sanggar Jaka Baru yang terletak di Desa Gadingan, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu. infoJabar berkesempatan mengunjungi sanggar itu pada Selasa (13/1/2026). Kondisi sanggar tampak masih terawat. Di tempat ini, ratusan kerajinan wayang cepak dan topeng dibuat.

Ki Warsad Darya (87), seorang pendiri Sanggar Jaka Baru sekaligus dalang wayang cepak, bercerita tentang perjalanannya melestarikan seni budaya khas Indramayu dan Cirebon.

Menurut Ki Warsad, sanggar ini berdiri sekitar tahun 1964, saat itu keadaan sedang tidak menentu, gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) meletus.

Tidak ada kaitannya PKI dengan pendirian sanggar, ia hanya mengatakan bahwa saat itu kondisi masyarakat sedang cemas dengan beredarnya kabar tentang partai itu.

Sanggar Jaka Baru bermula dari perasaan sakit hati Ki Warsad. Ia memulai perjalanannya sebagai dalang dengan menyewa wayang milik kerabatnya pada tahun 1962.

Selang beberapa tahun, pihak pemilik wayang menghentikan penyewaan tersebut tanpa alasan yang jelas. Merasa sakit hati, Ki Warsad mendirikan sanggar dan membuat wayang sendiri. Penamaan Jaka Baru diambil dari status Ki Warsad yang saat itu masih perjaka.

“Sebelum ada Jaka Baru, saya mementas tanpa nama, menggunakan wayang milik kerabat,” ujar Ki Warsad saat ditemui di sanggar.

Dalam periode 1964-1970, grup sanggarnya bisa melaksanakan pementasan hingga 150 kali dalam setahun. Paling sedikit 100 kali pementasan, itu pun masih tergolong jumlah yang banyak.

“Saya sampai lupa tidur, pernah waktu itu sehabis dari Bogor Sukra langsung menuju tempat pementasan berikutnya di Lombang Juntinyuat. Tidak pulang dulu,” ungkap Ki Warsad.

Ia memastikan, hampir semua wilayah di Kabupaten Indramayu sudah pernah disinggahi oleh Sanggar Jaka Baru. Masyarakat sudah banyak yang menikmati sentuhan magis Ki Warsad dan grupnya.

Ki Warsad menuturkan saat itu kendaraan yang digunakan menuju lokasi pementasan adalah sepeda dan pedati. Seiring berjalannya waktu, dari pedati berganti ke oplet.

“Satu oplet diisi seperangkat wayang dan para pemainnya, gong-alat yang paling besar-ditaruh di atas oplet, lalu ada sebagian pemain yang naik sepeda,” ujarnya.

Waktu itu, Sanggar Jaka Baru menerima bayaran dalam sekali pentas yaitu 5 kuintal padi kering jika di desa sendiri dan desa tetangga, sedangkan di luar itu biasanya dibayar 7 kuintal.

Memasuki era modern, pembayaran sudah menggunakan uang tunai. Jaka Baru, kata Ki Warsad, biasanya menerima bayaran mulai dari Rp 10 juta hingga Rp 15 juta dalam satu kali pementasan.

“Sudah sering pentas di wilayah Indramayu dan Cirebon, serta wilayah sekitarnya seperti Brebes, Tegal, dan Subang. Kami juga sering diundang pentas di Gedung Sate, di kampus-kampus yang ada di Bandung, pernah juga di Yogyakarta. Di Pulau Jawa, kami sudah tampil di mana-mana,” ucap Ki Warsad menceritakan perjalanannya dari satu tempat pementasan ke tempat lainnya.

Tidak hanya itu, Sanggar Jaka Baru juga pernah menapak jejak di Jepang saat Negeri Sakura itu mengadakan pesta olahraga terbesar se-Asia, bertajuk Asian Games 1994 Hiroshima.

“Suatu kebanggaan, kesenian kita mendapat panggung di Hiroshima dan diakui dunia,” ucapnya dengan haru.

Namun, roda kehidupan terus berputar, era baru hadir dan sanggar milik Ki Warsad kian tergerus. Saat ini, Ki Warsad sudah berhenti mendalang sejak 2018 lantaran sakit dan fisiknya sudah tidak seperti dulu. Anaknya kini meneruskan aksinya memainkan wayang cepak.

Dengan nada getir, Ki Warsad mengakui adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang sangat signifikan, para penikmat perlahan mulai meninggalkan wayang cepak. Saat ini ia hanya berharap wayang cepak bisa sekadar menyambung hidup.

“Kalau sekarang sudah jarang pentas, hanya orang-orang yang masih suka wayang saja. Kira-kira setahun paling cuma 15 kali (pementasan),” ungkapnya.

Selain pementasan, Sanggar Jaka Baru juga menjual kerajinan wayang cepak, topeng khas Indramayu-Cirebon, dan berokan.

Terbaru, dua paket wayang cepak akan dikirim ke Yogyakarta pada Januari 2026, untuk diterbangkan ke Amerika Serikat.

Sanggar Jaka Baru adalah salah satu dari segelintir sanggar seni budaya di Indramayu yang memilih bertahan di zaman sekarang.

Ki Warsad memiliki lima anak, putri sulungnya menjadi sintren di sanggarnya tetapi kini sudah meninggal dunia. Anak kedua, laki-laki, memilih jalan berbeda dengan bapaknya, lalu anak ketiga dan keempat, laki-laki, keduanya meneruskan kiprah bapaknya menjadi dalang.

Sementara itu, putri bungsu menyiapkan busana untuk wayang cepak, sekaligus membuka usaha jahit-menjahit pakaian untuk umum di rumahnya.

Diwariskan ke Anak

Namun, roda kehidupan terus berputar, era baru hadir dan sanggar milik Ki Warsad kian tergerus. Saat ini, Ki Warsad sudah berhenti mendalang sejak 2018 lantaran sakit dan fisiknya sudah tidak seperti dulu. Anaknya kini meneruskan aksinya memainkan wayang cepak.

Dengan nada getir, Ki Warsad mengakui adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang sangat signifikan, para penikmat perlahan mulai meninggalkan wayang cepak. Saat ini ia hanya berharap wayang cepak bisa sekadar menyambung hidup.

“Kalau sekarang sudah jarang pentas, hanya orang-orang yang masih suka wayang saja. Kira-kira setahun paling cuma 15 kali (pementasan),” ungkapnya.

Selain pementasan, Sanggar Jaka Baru juga menjual kerajinan wayang cepak, topeng khas Indramayu-Cirebon, dan berokan.

Terbaru, dua paket wayang cepak akan dikirim ke Yogyakarta pada Januari 2026, untuk diterbangkan ke Amerika Serikat.

Sanggar Jaka Baru adalah salah satu dari segelintir sanggar seni budaya di Indramayu yang memilih bertahan di zaman sekarang.

Ki Warsad memiliki lima anak, putri sulungnya menjadi sintren di sanggarnya tetapi kini sudah meninggal dunia. Anak kedua, laki-laki, memilih jalan berbeda dengan bapaknya, lalu anak ketiga dan keempat, laki-laki, keduanya meneruskan kiprah bapaknya menjadi dalang.

Sementara itu, putri bungsu menyiapkan busana untuk wayang cepak, sekaligus membuka usaha jahit-menjahit pakaian untuk umum di rumahnya.

Diwariskan ke Anak