Unggahan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyentak perhatian publik. Di sana, tergambar nasib pilu seorang siswa SMP penyandang disabilitas speech delay (keterlambatan bicara) yang dikabarkan putus sekolah lantaran diduga tak kuat menahan perundungan.
Narasi tentang keamanan ruang belajar bagi anak istimewa pun seketika dipertanyakan.
Farhan, yang mengunjungi langsung anak tersebut beserta orang tuanya, menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi benteng paling aman bagi setiap anak, tanpa terkecuali.
“Setiap anak berhak merasa aman di sekolah. Tak ada ruang untuk bullying. Pemerintah Kota Bandung terus berupaya semaksimal mungkin (menangani kasus ini),” tulis Farhan dalam unggahannya yang dikutip Selasa (20/1/2026).
Namun, di balik kabar perundungan yang menyeruak, pihak sekolah memiliki penjelasan tersendiri mengenai kondisi sang siswa.
Kepala sekolah tempat anak itu terdaftar, Aisyah Amiawaty, membenarkan bahwa siswa tersebut adalah anak didiknya yang diterima melalui jalur zonasi, sebuah sistem yang membuat sekolah tak bisa menolak siswa berdasarkan kondisi akademis atau fisik di awal masuk.
“Anak ini Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK). Karena masuk melalui jalur zonasi, kami tidak bisa menolak. Kami tidak tahu (kondisinya) karena tidak ada tes saat masuk. Setelah diterima, baru kami ketahui bahwa anak ini PDBK,” ujar Aisyah, Rabu (21/1/2026).
Setelah proses belajar berjalan, barulah pihak sekolah menyadari adanya hambatan kognitif yang cukup signifikan, seperti kesulitan membaca dan mencerna pelajaran. Sekolah lantas berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) untuk mencari solusi terbaik.
Saran pun diberikan, mengarahkan siswa tersebut ke Sekolah Luar Biasa (SLB) agar mendapatkan penanganan yang lebih spesifik dan tepat sasaran. Sayangnya, upaya persuasif ini menghadapi jalan terjal.
“Kami arahkan ke sekolah yang khusus menangani PDBK, bahkan sempat diantar oleh guru kami ke sana. Namun, pihak keluarga belum bersedia. Padahal kami terus berusaha agar anak ini tetap sekolah. Kasihan, anak yang sekolah saja banyak tantangannya, apalagi jika sampai tidak sekolah,” beber Aisyah.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Di tengah sorotan tajam, Aisyah meluruskan satu hal penting. Ia menegaskan bahwa sekolah tidak pernah melakukan pengusiran. Hingga info ini, nama siswa tersebut masih tercatat, dan pintu sekolah masih terbuka lebar sembari berharap ada solusi terbaik bagi masa depan pendidikannya.
“Kami tidak mengeluarkan siswa tersebut, statusnya masih anak didik kami. Kami masih berusaha agar dia mau belajar lagi. Kalaupun memang tidak mau di sini, kami arahkan ke sekolah yang khusus,” pungkasnya.
