Jalan Dipatiukur Bandung yang ‘Berhias’ Lubang

Posted on

Jalan Dipatiukur menjadi salah satu kawasan yang tak pernah sepi di Kota Bandung. Sebagai kawasan yang strategis, setiap harinya Jalan Dipatiukur dilalui ribuan kendaraan, mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga wisatawan yang berburu kuliner.

Namun, di balik padatnya aktivitas mahasiswa dan pengunjung, kondisi Jalan Dipatiukur dikeluhkan banyak pihak, terutama pengendara motor.

Sejumlah titik di Jalan Dipatiukur mengalami kerusakan. Aspal banyak yang mengelupas dan berlubang, bahkan di beberapa titik terlihat permukaan jalan yang tidak rata.

May (19), seorang mahasiswa, mengaku kurang nyaman ketika melintasi jalan tersebut, padahal jalan itu merupakan akses tercepat menuju kampus.

“Sering lewat sini karena memang aksesnya paling cepat untuk ke kampus,” ujar May, Selasa (2/1/2026).

May menilai kondisi jalan yang rusak, ditambah keramaian saat musim wisuda dan waktu puncak kunjungan kuliner, membuat kenyamanan dan keamanan berkendara berkurang.

“Kadang padat, apalagi kalau lagi wisuda atau sore ke malam banyak yang jajan ke daerah sini. Agak kurang nyaman karena jalannya tidak rata dan banyak lubang. Itu membuat bahaya juga, motor sering bergetar dan jadi tidak seimbang,” katanya.

Ia menyebut, titik kerusakan paling parah berada di sekitar Universitas Padjajaran (Unpad). Di daerah itu, May pernah mengalami insiden.

“Pernah, ban motor saya jadi rusak. Saat hendak berangkat kuliah dan melintasi depan Unpad, ban motor saya menghantam jalan yang tidak rata sehingga langsung rusak dan goyang-goyang,” ujar May.

Karena kejadian itu, ia terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju kampus Unikom.

Menurutnya, kondisi Jalan Dipatiukur mendesak untuk segera diperbaiki. Sebagai kawasan yang dikelilingi kampus ternama dan merupakan jalur utama sekaligus alternatif untuk wisata kuliner, jalan tersebut perlu aman dan nyaman untuk dilalui.

Sabil (23) merasakan kekhawatiran serupa. Sebagai warga yang tinggal di sekitar Jalan Dipatiukur, Sabil merasakan kerawanan ketika melewati jalanan itu.

“Terutama malam, jalanan tidak rata terus banyak yang kulineran juga, kadang susah harus menghindar,” ujarnya.

Menurut Sabil, kerusakan jalan ini berisiko membahayakan, terutama ketika kawasan sedang ramai pengunjung dan jarak pandang terbatas di malam hari. Jalan yang rusak kerap membuat pengendara melakukan manuver mendadak untuk menghindarinya.

“Kalau lagi ramai kan tidak kelihatan, kadang tuh orang suka belok tiba-tiba. Itu bahaya,” katanya.

Sabil berharap segera ada perbaikan di titik-titik jalan yang rusak, terutama di area yang kerap dipenuhi pengunjung kuliner. Mengingat pentingnya jalur ini sebagai gerbang kuliner dan pendidikan yang juga didatangi pengunjung dari luar daerah, perbaikan mendesak dilakukan.