Jabar Hari Ini: Satu Bocah Tewas Tenggelam di Sungai Batu Beulah

Posted on

Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat, Jumat 2 Januari 2026. Rangkuman ini memuat mulai dari wisata berujung duka di Tasikmalaya, di mana satu orang anak dilaporkan tewas saat bermain di Sungai Batu Beulah, hingga atlet terjun payung asal Kabupaten Bandung, Widiasih (58), yang ditemukan tewas setelah empat hari pencarian.

Berikut rangkuman Jabar:

Sejumlah anak di Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, mengisi waktu liburan dengan bermain di Sungai Batu Beulah. Namun nahas, dua anak hanyut terbawa arus saat berenang di sungai tersebut.

Satu anak berhasil diselamatkan warga, sementara satu anak lainnya tenggelam dan sempat dinyatakan hilang.

Ketua FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adi Setia, mengatakan peristiwa itu melibatkan empat anak. Dua anak selamat, satu di antaranya sempat dievakuasi ke Puskesmas, sementara satu anak lainnya tenggelam.

“Menurut informasi dari kepala desa setempat, ada empat anak. Dua orang selamat, satu dievakuasi ke Puskesmas, dan satu lainnya tenggelam,” kata Jembar kepada infoJabar.

Korban tenggelam diketahui merupakan pelajar perempuan yang masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar. Korban diduga tidak bisa berenang sehingga terbawa arus sungai yang cukup deras.

“Korban anak perempuan diduga tidak bisa berenang saat bermain di sungai bersama teman-temannya,” ujar Jembar.

Upaya pencarian dilakukan oleh warga sekitar bersama aparat desa, Tagana, TNI, dan kepolisian. Proses pencarian dilakukan secara manual menggunakan tali dengan metode tradisional *teuleum* (menyelam secara manual).

Ratusan warga turut menyaksikan proses pencarian itu yang memadati lokasi. Selama proses berlangsung, lantunan selawat terus dikumandangkan.

Setelah sekitar dua jam pencarian, jasad korban akhirnya ditemukan, namun telah meninggal dunia. Isak tangis keluarga pecah saat proses evakuasi dilakukan. Korban diketahui berinisial D (Didah), berusia 13 tahun, warga Kampung Cipicung Koneng, Desa Singasari.

“Korban akhirnya ditemukan, namun telah meninggal dunia,” kata Jembar.

Sementara itu, Kapolsek Taraju AKP Ali mengatakan pihaknya masih mendalami kronologi kejadian tersebut. Petugas kepolisian telah turun langsung ke lokasi.

“Kami masih mengumpulkan informasi secara detail. Petugas sudah di lapangan. ‘Info awal anak-anak mau berenang,’ kata Kapolsek Taraju AKP Ali.”

Persib Bandung kembali dirumorkan sedang memburu penyerang asing. Kali ini nama yang muncul adalah Igor Sergeev, striker timnas Uzbekistan yang ikut mengantar negaranya lolos ke Piala Dunia 2026.

Jika kabar ini benar, Maung Bandung bisa mendapat paket pengalaman internasional dan naluri gol yang tajam dari pemain yang sedang *on form* di Asia Tengah.

Igor Sergeev lahir pada 30 April 1993. Posturnya ideal untuk penyerang sentral dengan tinggi 1,86 meter dan berkaki dominan kiri. Saat ini ia tercatat sebagai pemain Pakhtakor Tashkent, klub yang diperkuatnya sejak awal 2025.

Menurut laman Transfermarkt, nilai pasar Sergeev tercatat Rp20,86 miliar dan merupakan pemain penting dari skuad Uzbekistan dengan puluhan penampilan dan kontribusi golnya.

Bersama negaranya, Sergeev memiliki 81 *caps* dengan catatan 24 gol. Ia juga tampil dalam momen penting saat Uzbekistan memastikan tiket Piala Dunia 2026.

Di level klub, total ia telah bermain sebanyak 401 kali dengan 193 gol, di mana 145 gol di antaranya ia cetak bersama Pakhtakor. Pemain 32 tahun ini juga tercatat pernah membela BG Pathum United (Thailand), BJ Guoan (China) dan Al Dhafra FC (UEA).

Di laman Transfermrkt, ada dua klub yang dirumorkan berminat memboyong Sergeev. Selain Persib, ada klub asal Iran, Sepahan FC yang juga kabarnya berminat menggunakan jasa Igor Sergeev.

Nama Igor Sergeev muncul sebagai opsi penyerang segudang pengalaman. Jika benar gabung ke Persib, ia bisa memperkuat Maung Bandung yang akan berjuang di babak playoff 16 besar AFC Champions League Two (ACL 2).

Malam pergantian Tahun Baru di pusat Kota Sukabumi diwarnai peristiwa berdarah. Sekitar pukul 00.30 WIB, empat pemuda dilarikan ke RSUD R Syamsudin SH (Bunut) karena luka sabetan benda tajam, salah satunya mengalami cedera parah di jari hingga nyaris putus.

Peristiwa pembacokan tersebut terjadi di Jalan Syamsudin, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, sekitar 100 meter dari Balai Kota Sukabumi.

Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengaku terkejut ketika sedang bekerja dan mendengar keributan di pinggir jalan pusat Kota Sukabumi. Karena penasaran, ia pun keluar dari tokonya dan melihat korban sudah berlumuran darah.

“Awalnya ramai-ramai di luar, pengunjung juga akhirnya keluar dan saya juga ikut. Pas dilihat itu kondisinya korban sudah banyak darahnya, terus dibawa sama temannya ke rumah sakit. Saya juga enggak tahu permasalahannya apa,” katanya kepada infoJabar di lokasi kejadian.

Lebih lanjut, pihak kepolisian sempat mendatangi tempatnya bekerja untuk mencari CCTV. Namun sayangnya, kamera itu tidak mengarah ke lokasi atau merekam aksi kekerasan tersebut.

Humas dan Ketua Tim Penanganan Keluhan RSUD R Syamsudin SH (Bunut), dr Irfan Nugraha Triputra Irawan membenarkan bahwa empat korban pembacokan telah datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit tersebut pada Kamis (1/1) sekitar pukul 00.30 WIB.

“Jadi betul memang ada empat korban pembacokan yang datang ke IGD kami sekitar pukul 00.30 WIB tanggal 1 Januari 2026,” ujar dr Irfan.

Menurutnya, keempat korban dikelompokkan menjadi dua kategori berdasarkan tingkat keparahan luka. Dua korban mengalami luka ringan dan diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan, sementara dua lainnya harus menjalani perawatan lanjutan.

“Kalau kami kelompokkan, ada yang lukanya ringan sehingga boleh pulang, dan ada juga yang lukanya cukup serius dan perlu perawatan lebih lanjut,” jelasnya.

Berdasarkan keterangan para korban, kronologi kejadian hampir serupa. Sebagian korban diketahui sedang berkumpul di sekitar lokasi kejadian, sementara lainnya tengah melintas. Para pelaku pembacokan tidak dikenali korban dan diduga menyerang secara acak.

“Pelakunya tidak dikenali, sepertinya *random* karena mereka tidak saling kenal,” katanya.

Untuk korban dengan luka ringan, luka terdapat di bagian pipi, bahu kiri, serta punggung. Seluruhnya telah ditangani di IGD dengan penjahitan luka dan pemberian obat sebelum diperbolehkan pulang.

Sementara itu, dua korban lainnya mengalami luka serius. Salah satu korban mengalami luka di telapak tangan kanan dan lutut kanan. Korban lainnya mengalami luka parah di jari tengah tangan kiri yang kondisinya hampir putus saat tiba di IGD.

“Untuk yang lukanya di jari tengah tangan kiri, datang ke IGD sudah dalam kondisi hampir putus. ‘Saat ini masih dalam perawatan,’ ungkapnya.”

Terkait kemungkinan amputasi, dr Irfan mengatakan hal tersebut belum dapat dipastikan dan masih menunggu evaluasi lanjutan dari dokter spesialis ortopedi.

“Rencana amputasi belum bisa dipastikan. Nanti akan dievaluasi oleh dokter ortopedi di ruang operasi untuk menentukan apakah perlu amputasi atau tidak,” ujarnya.

Dari pola luka yang dialami korban, pihak rumah sakit menduga kuat luka tersebut akibat kekerasan menggunakan benda tajam. Namun, jenis senjata yang digunakan belum dapat dipastikan.

“Dari gambaran lukanya, tepinya tajam sehingga mengindikasikan kekerasan benda tajam. Tapi bendanya apa tidak bisa dipastikan karena tidak ada yang tertancap dan korban juga tidak mengingat,” ungkapnya.

Seluruh korban telah diberikan serum anti tetanus dan hingga saat ini tidak ditemukan tanda-tanda infeksi. Keempat korban diketahui berusia antara 17 hingga 27 tahun dan seluruhnya berjenis kelamin laki-laki.

Identitas korban masing-masing yaitu MY (27), MP (20), AA (19), dan MR (17). MY dan MR masih menjalani perawatan. MY telah mendapatkan penanganan di ruang operasi, sementara MR dijadwalkan menjalani operasi. Adapun MP dan AA telah menjalani penjahitan luka di IGD dan diperbolehkan pulang.

Hingga saat ini, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait peristiwa pembacokan tersebut.

Libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) segera berakhir. Polda Jabar masih menyiagakan sekitar 15.000 personel untuk mengamankan arus lalu lintas di berbagai wilayah Jawa Barat, khususnya jalur wisata dan arus balik menuju Jabotabek.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan puncak arus balik diprediksi tidak terkonsentrasi pada satu hari, melainkan terpecah mulai Jumat, Sabtu, hingga Minggu.

“Kami perkirakan puncak arus balik tidak terkonsentrasi, karena mulai Jumat, Sabtu, dan Minggu terurai,” kata Hendra.

Meski demikian, Hendra menyebut potensi puncak arus balik masih mungkin terjadi pada Jumat dan Minggu. Namun, peningkatannya diperkirakan tidak terlalu signifikan.

“Puncak tidak terlalu signifikan, tapi perkiraan Jumat dan Minggu,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan, Polda Jabar telah menyiapkan cara bertindak (CB) berupa rekayasa lalu lintas, baik di ruas tol maupun jalur arteri.

“CB, kita melihat manakala ada volume meningkat, pertama *contra flow*. Kita berikan satu atau dua lajur, ketika betul-betul sangat banyak akan *one way*, tapi sampai saat ini *one way* belum dilakukan (di tol),” ujarnya.

“*One way* baru diberlakukan di tempat wisata. Turun dari tempat wisata ke kota kita lakukan *one way* dengan waktu 20-30 menit,” tambahnya.

Hendra mengungkapkan hingga Kamis (1/1), jumlah wisatawan yang berlibur di Kota Bandung dan sekitarnya masih cukup tinggi. Kondisi itu terlihat dari tingkat hunian hotel yang masih berada di atas 60 persen.

“Pengunjung dari luar kota masih ada di Bandung, okupansi hotel masih di atas 60 persen. Diperkirakan sampai Sabtu dan Minggu,” tuturnya.

Arus lalu lintas di pusat kota hingga menuju kawasan wisata juga masih ramai, terutama jalur menuju Ciwidey yang hingga kini tetap menjadi destinasi favorit.

“Ciwidey masih diminati, sehingga beberapa hari ini ada jam tertentu kita lakukan one way. Kita cukup efektif, lakukan *one way* 20-30 menit. Masyarakat jangan resah kalau ada *one way*, karena kita lihat situasi,” terangnya.

Hendra memastikan Polri tetap hadir untuk memberikan pelayanan dan rasa aman kepada masyarakat hingga akhir masa libur. Meski Operasi Nataru berakhir pada 2 Januari, pengamanan akan diperpanjang hingga Senin mendatang.

“Jumlah personel masih sama, operasi berakhir tanggal 2 ini. Tapi pengamanan ditingkatkan sampai Hari Senin. Total 15.000 personel (2.000 dari Polda dan 13.000 dari Polres jajaran),” pungkasnya.

Pada hari keempat pencarian penerjun payung yang tenggelam di sekitar Pantai Batukaras, Widiasih (58), atlet terjun payung yang hilang, ditemukan meninggal dunia. SAR Gabungan Pangandaran langsung mengevakuasi jenazah.

Nelayan asal Cilacap menemukan jenazah tersebut, yang sedang menangkap keong laut di sekitar Keramba Susi Pantai Timur Pangandaran pagi sekitar pukul 06.48 WIB. Korban ditemukan dalam kondisi tengkurap dan masih mengenakan pakaian lengkap terjun payung.

Ketua SAR Barakuda Pangandaran, Sakio Andrianto membenarkan penemuan jenazah yang diduga penerjun payung yang tenggelam sejak Selasa lalu.

“Kami mendapatkan informasi dari nelayan pencari keong di sekitar Pantai Timur Pangandaran blok Keramba Susi,” ucap Sakio saat dihubungi infoJabar.

Usai mendapatkan informasi penemuan, SAR Gabungan Pangandaran yang selama ini melakukan pencarian di sekitar Pantai Batukaras langsung meluncur ke lokasi penemuan jenazah. “Langsung tim SAR cek dan evakuasi jenazah,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Anwar, nelayan Cilacap tersebut, yang pertama kali menemukan korban saat melewati keramba. “Ditemukan Anwar, nelayan Cilacap. Ia menghubungi nelayan Batukaras dan Ketua Rukun Nelayan (RN). Kemudian kami langsung koordinasi untuk evakuasi,” ucapnya.

Untuk sementara, jenazah korban sudah dibawa ke posko evakuasi di pesisir Batukaras, sebelum dibawa ke RSUD Pandega. “Jenazah akan dibawa dulu ke RSUD Pandega untuk diidentifikasi,” katanya.

Empat Anak Tenggelam di Tasikmalaya, 1 Tewas

Persib Dirumorkan Minati Igor Sergeev

4 Pemuda Dibacok Saat Malam Tahun Baru

Puncak Arus Balik Libur Nataru di Jabar

Atlet Terjun Payung Ditemukan Meninggal

Malam pergantian Tahun Baru di pusat Kota Sukabumi diwarnai peristiwa berdarah. Sekitar pukul 00.30 WIB, empat pemuda dilarikan ke RSUD R Syamsudin SH (Bunut) karena luka sabetan benda tajam, salah satunya mengalami cedera parah di jari hingga nyaris putus.

Peristiwa pembacokan tersebut terjadi di Jalan Syamsudin, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, sekitar 100 meter dari Balai Kota Sukabumi.

Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengaku terkejut ketika sedang bekerja dan mendengar keributan di pinggir jalan pusat Kota Sukabumi. Karena penasaran, ia pun keluar dari tokonya dan melihat korban sudah berlumuran darah.

“Awalnya ramai-ramai di luar, pengunjung juga akhirnya keluar dan saya juga ikut. Pas dilihat itu kondisinya korban sudah banyak darahnya, terus dibawa sama temannya ke rumah sakit. Saya juga enggak tahu permasalahannya apa,” katanya kepada infoJabar di lokasi kejadian.

Lebih lanjut, pihak kepolisian sempat mendatangi tempatnya bekerja untuk mencari CCTV. Namun sayangnya, kamera itu tidak mengarah ke lokasi atau merekam aksi kekerasan tersebut.

Humas dan Ketua Tim Penanganan Keluhan RSUD R Syamsudin SH (Bunut), dr Irfan Nugraha Triputra Irawan membenarkan bahwa empat korban pembacokan telah datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit tersebut pada Kamis (1/1) sekitar pukul 00.30 WIB.

“Jadi betul memang ada empat korban pembacokan yang datang ke IGD kami sekitar pukul 00.30 WIB tanggal 1 Januari 2026,” ujar dr Irfan.

Menurutnya, keempat korban dikelompokkan menjadi dua kategori berdasarkan tingkat keparahan luka. Dua korban mengalami luka ringan dan diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan, sementara dua lainnya harus menjalani perawatan lanjutan.

“Kalau kami kelompokkan, ada yang lukanya ringan sehingga boleh pulang, dan ada juga yang lukanya cukup serius dan perlu perawatan lebih lanjut,” jelasnya.

Berdasarkan keterangan para korban, kronologi kejadian hampir serupa. Sebagian korban diketahui sedang berkumpul di sekitar lokasi kejadian, sementara lainnya tengah melintas. Para pelaku pembacokan tidak dikenali korban dan diduga menyerang secara acak.

“Pelakunya tidak dikenali, sepertinya *random* karena mereka tidak saling kenal,” katanya.

Untuk korban dengan luka ringan, luka terdapat di bagian pipi, bahu kiri, serta punggung. Seluruhnya telah ditangani di IGD dengan penjahitan luka dan pemberian obat sebelum diperbolehkan pulang.

Sementara itu, dua korban lainnya mengalami luka serius. Salah satu korban mengalami luka di telapak tangan kanan dan lutut kanan. Korban lainnya mengalami luka parah di jari tengah tangan kiri yang kondisinya hampir putus saat tiba di IGD.

“Untuk yang lukanya di jari tengah tangan kiri, datang ke IGD sudah dalam kondisi hampir putus. ‘Saat ini masih dalam perawatan,’ ungkapnya.”

Terkait kemungkinan amputasi, dr Irfan mengatakan hal tersebut belum dapat dipastikan dan masih menunggu evaluasi lanjutan dari dokter spesialis ortopedi.

“Rencana amputasi belum bisa dipastikan. Nanti akan dievaluasi oleh dokter ortopedi di ruang operasi untuk menentukan apakah perlu amputasi atau tidak,” ujarnya.

Dari pola luka yang dialami korban, pihak rumah sakit menduga kuat luka tersebut akibat kekerasan menggunakan benda tajam. Namun, jenis senjata yang digunakan belum dapat dipastikan.

“Dari gambaran lukanya, tepinya tajam sehingga mengindikasikan kekerasan benda tajam. Tapi bendanya apa tidak bisa dipastikan karena tidak ada yang tertancap dan korban juga tidak mengingat,” ungkapnya.

Seluruh korban telah diberikan serum anti tetanus dan hingga saat ini tidak ditemukan tanda-tanda infeksi. Keempat korban diketahui berusia antara 17 hingga 27 tahun dan seluruhnya berjenis kelamin laki-laki.

Identitas korban masing-masing yaitu MY (27), MP (20), AA (19), dan MR (17). MY dan MR masih menjalani perawatan. MY telah mendapatkan penanganan di ruang operasi, sementara MR dijadwalkan menjalani operasi. Adapun MP dan AA telah menjalani penjahitan luka di IGD dan diperbolehkan pulang.

Hingga saat ini, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait peristiwa pembacokan tersebut.

Libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) segera berakhir. Polda Jabar masih menyiagakan sekitar 15.000 personel untuk mengamankan arus lalu lintas di berbagai wilayah Jawa Barat, khususnya jalur wisata dan arus balik menuju Jabotabek.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan puncak arus balik diprediksi tidak terkonsentrasi pada satu hari, melainkan terpecah mulai Jumat, Sabtu, hingga Minggu.

“Kami perkirakan puncak arus balik tidak terkonsentrasi, karena mulai Jumat, Sabtu, dan Minggu terurai,” kata Hendra.

Meski demikian, Hendra menyebut potensi puncak arus balik masih mungkin terjadi pada Jumat dan Minggu. Namun, peningkatannya diperkirakan tidak terlalu signifikan.

“Puncak tidak terlalu signifikan, tapi perkiraan Jumat dan Minggu,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan, Polda Jabar telah menyiapkan cara bertindak (CB) berupa rekayasa lalu lintas, baik di ruas tol maupun jalur arteri.

“CB, kita melihat manakala ada volume meningkat, pertama *contra flow*. Kita berikan satu atau dua lajur, ketika betul-betul sangat banyak akan *one way*, tapi sampai saat ini *one way* belum dilakukan (di tol),” ujarnya.

“*One way* baru diberlakukan di tempat wisata. Turun dari tempat wisata ke kota kita lakukan *one way* dengan waktu 20-30 menit,” tambahnya.

Hendra mengungkapkan hingga Kamis (1/1), jumlah wisatawan yang berlibur di Kota Bandung dan sekitarnya masih cukup tinggi. Kondisi itu terlihat dari tingkat hunian hotel yang masih berada di atas 60 persen.

“Pengunjung dari luar kota masih ada di Bandung, okupansi hotel masih di atas 60 persen. Diperkirakan sampai Sabtu dan Minggu,” tuturnya.

Arus lalu lintas di pusat kota hingga menuju kawasan wisata juga masih ramai, terutama jalur menuju Ciwidey yang hingga kini tetap menjadi destinasi favorit.

“Ciwidey masih diminati, sehingga beberapa hari ini ada jam tertentu kita lakukan one way. Kita cukup efektif, lakukan *one way* 20-30 menit. Masyarakat jangan resah kalau ada *one way*, karena kita lihat situasi,” terangnya.

Hendra memastikan Polri tetap hadir untuk memberikan pelayanan dan rasa aman kepada masyarakat hingga akhir masa libur. Meski Operasi Nataru berakhir pada 2 Januari, pengamanan akan diperpanjang hingga Senin mendatang.

“Jumlah personel masih sama, operasi berakhir tanggal 2 ini. Tapi pengamanan ditingkatkan sampai Hari Senin. Total 15.000 personel (2.000 dari Polda dan 13.000 dari Polres jajaran),” pungkasnya.

Pada hari keempat pencarian penerjun payung yang tenggelam di sekitar Pantai Batukaras, Widiasih (58), atlet terjun payung yang hilang, ditemukan meninggal dunia. SAR Gabungan Pangandaran langsung mengevakuasi jenazah.

Nelayan asal Cilacap menemukan jenazah tersebut, yang sedang menangkap keong laut di sekitar Keramba Susi Pantai Timur Pangandaran pagi sekitar pukul 06.48 WIB. Korban ditemukan dalam kondisi tengkurap dan masih mengenakan pakaian lengkap terjun payung.

Ketua SAR Barakuda Pangandaran, Sakio Andrianto membenarkan penemuan jenazah yang diduga penerjun payung yang tenggelam sejak Selasa lalu.

“Kami mendapatkan informasi dari nelayan pencari keong di sekitar Pantai Timur Pangandaran blok Keramba Susi,” ucap Sakio saat dihubungi infoJabar.

Usai mendapatkan informasi penemuan, SAR Gabungan Pangandaran yang selama ini melakukan pencarian di sekitar Pantai Batukaras langsung meluncur ke lokasi penemuan jenazah. “Langsung tim SAR cek dan evakuasi jenazah,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Anwar, nelayan Cilacap tersebut, yang pertama kali menemukan korban saat melewati keramba. “Ditemukan Anwar, nelayan Cilacap. Ia menghubungi nelayan Batukaras dan Ketua Rukun Nelayan (RN). Kemudian kami langsung koordinasi untuk evakuasi,” ucapnya.

Untuk sementara, jenazah korban sudah dibawa ke posko evakuasi di pesisir Batukaras, sebelum dibawa ke RSUD Pandega. “Jenazah akan dibawa dulu ke RSUD Pandega untuk diidentifikasi,” katanya.

4 Pemuda Dibacok Saat Malam Tahun Baru

Puncak Arus Balik Libur Nataru di Jabar

Atlet Terjun Payung Ditemukan Meninggal