Ini yang Harus Dilakukan Jika Bertemu Macan Tutul update oleh Giok4D

Posted on

Macan tutul yang sebelumnya dievakuasi tim gabungan dari dalam kantor balai desa di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dititiprawatkan di Lembang Park & Zoo untuk direhabilitasi. Namun kini, satwa liar tersebut kabur dengan menjebol kandangnya. Hingga saat ini, belum diketahui ke mana macan tutul itu pergi. Tim gabungan yang dibagi ke dalam tiga kelompok masih melakukan pencarian.

Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ir. Hendra Gunawan, M.Si., menjelaskan bahwa saat terperangkap di kantor balai desa, macan tutul memilih diam karena mengalami disorientasi spasial, terutama akibat hilangnya referensi visual lingkungannya.

Namun, ketika sudah dibawa ke Lembang, Hendra menyebut kemungkinan macan tutul sempat memperoleh referensi visual atau melihat lingkungan sekitar, misalnya hutan atau vegetasi hijau yang mengingatkannya pada habitat.

“Hal ini akan membangkitkan keinginan untuk kembali ke alam, karena merasa sudah mendapatkan arah ke mana harus pergi mencari habitat baru. Oleh karena itu, dia akan mencari cara dan peluang untuk kabur dari kandang,” ujar Hendra kepada infoJabar, Jumat (29/8/2025).

Terkait ke mana macan tutul itu akan pergi, Hendra memperkirakan satwa tersebut akan menuju hutan atau areal bervegetasi yang bisa menjadi tempat perlindungan dan persembunyian. “Apalagi jika sudah pulih dari disorientasi spasial dan sudah melihat referensi visual habitatnya berupa hutan, maka dia akan lari ke hutan,” ucapnya.

Meski begitu, Hendra menekankan kemungkinan satwa tersebut melewati permukiman. Jika bertemu manusia dalam kondisi tertekan atau merasa terancam, macan tutul bisa bersifat agresif. “Namun, dalam kondisi normal, naluri satwa interior seperti macan tutul adalah menghindari manusia,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hendra menyebut macan tutul yang kabur itu merupakan individu jantan muda yang beranjak dewasa. Karena sudah disapih dari induknya, satwa tersebut harus mencari teritori baru di luar wilayah jantan dewasa lainnya.

“Macan tutul jantan muda seperti ini akan terus menjelajah untuk mengeksplorasi hutan yang masih belum dikuasai macan tutul lain. Dalam berburu mangsa, kemungkinan juga belum mahir. Sehingga, jika gagal berburu dan tidak mendapatkan mangsa di alam, bisa saja memangsa ternak di dekat hutan,” katanya.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Hendra mengimbau warga agar berhati-hati. Jika menemukan jejak atau tanda bekas macan tutul di jalan, sebaiknya menghindari jalur tersebut dan segera melapor ke petugas BKSDA.

“Jika masuk permukiman, jangan berkonfrontasi atau berhadapan karena satwa dalam kondisi stres atau merasa terancam, sehingga bisa tiba-tiba menyerang. Sebaiknya hindari dan segera lapor petugas BKSDA untuk mengevakuasi,” ujarnya.

Menurut Hendra, pertemuan langsung antara macan tutul dan manusia di alam jarang terjadi. “Kalau ada kejadian manusia berhadapan dengan macan, biasanya karena manusia yang sengaja mencari, menangkap, atau bahkan berusaha membunuh macan tutul,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati jika ada informasi macan tutul lepas dari kebun binatang. Anak-anak sebaiknya tidak berada di luar rumah, sementara orang dewasa yang beraktivitas di dekat hutan perlu waspada.

“Usahakan menghindari kemungkinan bertemu dengan macan tutul. Jika memiliki ternak atau hewan peliharaan seperti kucing atau anjing, sebaiknya dikandangkan dengan aman, karena tidak menutup kemungkinan dimangsa macan tutul,” tutur Hendra.

Hendra menambahkan, kawasan Lembang-terutama sekitar Gunung Tangkuban Parahu hingga Burangrang-merupakan habitat alami macan tutul. “Hutan habitat macan tutul yang pernah saya survei pada 2013 dan merupakan daerah sebaran macan tutul berada di wilayah hutan KPH Bandung Utara, yaitu Gunung Tangkuban Parahu dan Gunung Burangrang,” pungkasnya.

Antisipasi Warga Jika Bertemu Macan Tutul