Menjelang siang, Pasar Andir masih lengang. Beberapa pedagang tetap ceria menunggu pembeli tiba meski belum tentu juga ada. Di tengah kesunyian lorong-lorong pasar, pemilik kios pakaian anak dan seragam sekolah duduk sembari mendengarkan radio kecil di sampingnya.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Namanya Jaya, usianya di kisaran 60 tahun. Sudah hampir dua dekade ia menggantungkan hidup di Pasar Andir. Sejak awal, ia konsisten berjualan seragam sekolah dan pakaian anak. Ia juga menjadi saksi bagaimana Pasar Andir pernah berada di masa paling hidup hingga perlahan kehilangan denyutnya.
Jaya masih mengingat betul masa ketika lorong pasar nyaris tak bisa dilewati. Pembeli datang berombongan, kios-kios penuh transaksi, dan dagangan berputar cepat. “Dulu ramai, ya ramai,” ujarnya saat berbincang dengan infoJabar, Rabu (21/1/2026)
Namun semuanya berubah pelan-pelan. Titik balik paling terasa baginya terjadi menjelang dan setelah pandemi. Pandemi sempat membuat pasar tutup total. Setelah dibuka kembali, kondisi tak pernah benar-benar pulih. Alih-alih kembali ramai, Pasar Andir justru makin sepi.
“Akhir jualan masih ada 2019. Sesudah pandemi makin turun. 2020 ada pandemi, pasar sempat tutup. Habis itu ke sananya makin sepi. Sekarang buat saya nol, apalagi zamannya online,” ujarnya.
Di lantai tempat Jaya berjualan tepatnya lantai 1 Pasar Andir, pembeli kini semakin jarang terlihat. Ia mengakui, ada masa ia memilih tidak membuka kios sama sekali untuk beristirahat sejenak di tengah menurunnya omzet penjualan. “Saya sempat sembilan bulan nggak jualan. Sekarang jualan lagi,” katanya.
Keputusan itu bukan tanpa dilema. Menutup kios berarti tak ada pemasukan. Tapi membuka kios pun sering kali berakhir dengan kerugian. “Bingung juga. Nggak jualan nggak dapat pendapatan. Tapi jualan juga rugi. Misal ongkos datang ke sini keluar Rp10 ribu, pendapatan nol. Jadi rugi,” jelasnya.
Situasi itulah yang membuat Jaya kerap memilih menutup kios. Bukan karena menyerah, melainkan karena berhitung agar tidak makin tekor. Berbeda dengan sebagian pedagang muda, Jaya tidak masuk ke dunia jualan online. Bukan karena tidak mau, melainkan karena tidak mampu mengingat usianya yang sudah tak lagi muda
“Enggak, nggak bisa saya. Yang bisa online ya online kebanyakan anak muda,” katanya jujur.
Baginya, peralihan belanja ke online menjadi pukulan ganda. Pembeli berkurang drastis, sementara ia tak punya jalan alternatif untuk mengejar pasar digital.
Lalu mengapa Jaya masih bertahan? Baginya tak ada pilihan untuk melanjutkan hidup meski situasinya semakin sukit. Yang terpenting Jaya tetap berusaha sembari berharap masih ada pembeli tiba di kiosnya. “Ya ikhtiar aja, siapa tahu masih ada yang datang. Bingung juga mau jualan apa lagi,” tuturnya.
Usia menjadi pertimbangan besar. Di usia yang tak lagi muda, pilihan pekerjaan semakin sempit. Meski demikian, ada satu momen yang masih memberi Jaya sedikit harapan yakni tiap tahun ajaran baru yang membuat penjualannya sedikit lebih banyak. “Kalau tahun ajaran baru lumayan ramai. Tapi tetap nggak seperti dulu ramainya,” ungkapnya.
Kini, Jaya mulai memikirkan langkah lain, bukan keluar dari pasar, tapi pindah lokasi di dalam pasar. Pindah kios menjadi bentuk adaptasi terakhir yang bisa ia lakukan. Bertahan dengan cara mencari titik yang masih dilewati orang. “Mungkin harus cari tempat lagi. Rencananya pindah ke basement. Soalnya yang masih agak ramai itu di basement,” katanya
Jika dibandingkan masa lalu, perubahan yang dirasakan Jaya terasa amat tajam. Dulu ia dibuat lelah melayani pembeli, sekarang lelah dirasakan karena tak ada satupun pembeli yang datang. “Dulu mah cukup, pokoknya buat hidup. Sekarang mah aduh,” ungkapnya lirih.
Dalam lima tahun terakhir, penurunan terjadi tanpa henti. “Sejak lima tahun terakhir udah weh, turun terus. Bahkan nggak laku satu pun,” ujarnya.
Menjelang pasar benar-benar tutup di sore hari, Jaya kembali merapikan dagangannya dengan beberapa baju anak dan seragam sekolah yang masih tergantung rapi, menunggu pembeli yang mungkin datang, mungkin juga tidak. “Yang penting tetap ikhtiar,” katanya pelan.
Di Pasar Andir, kisah Jaya bukan cerita tunggal. Ia mewakili banyak pedagang yang berada di persimpangan sama, antara bertahan atau pergi, antara harapan dan kenyataan. Pasar ini belum mati, tetapi sedang diuji oleh waktu, teknologi, dan perubahan cara hidup.







