Di Jalan Karang Anyar, Kota Bandung, terdapat sebuah kompleks pemakaman bersejarah, yaitu Makam Para Bupati Bandung. Di antara para dalem dan petinggi Kota Bandung yang beristirahat tenang di sana, terdapat pula dr. Hasan Sadikin, sosok yang namanya kini menjadi rujukan utama kesehatan bagi warga Jawa Barat.
Salah satu daya tarik unik yang kerap tak diketahui publik adalah keberadaan makam dr. Hasan Sadikin di kompleks ini. Banyak warga Jawa Barat mengenal nama Hasan Sadikin semata-mata sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) di Jawa Barat. Namun, sedikit yang mengetahui bahwa sosok aslinya beristirahat dengan tenang di Karang Anyar, bersanding dengan para leluhurnya dari trah Wiranatakusumah.
Lahir sebelum masa pendudukan Jepang, Hasan Sadikin kemudian menempuh pendidikan di Ika Daigaku, sekolah kedokteran pengganti GHS (Geneeskundige Hoogeschool te Batavia) dan NIAS (Nederlandsch-Indische Artsen School) pada akhir tahun 1943. Segera setelah lulus, ia mengawali pengabdiannya di Kabupaten Bogor.
Setelah lulus, ia beralih peran dari dunia medis sipil ke dunia militer. Sekitar tahun 1944-1945, Hasan Sadikin bergabung sebagai dokter di Batalion ke-3 (Dai San Daidan) PETA di Sukabumi dengan pangkat Letnan Kesehatan (Eisei C).
Pascakemerdekaan, sosok ini terlibat aktif dalam pertempuran di Bojongkokosan dan sekitarnya, merawat para pejuang di garis depan. Ia mengakhiri karier militernya pada tahun 1949 dengan pangkat terakhir Mayor dan kembali fokus pada dunia medis sipil.
Kembali ke kehidupan sipil, karier Hasan Sadikin melesat berkat dedikasinya di spesialisasi penyakit dalam. Ia tidak hanya bersinar sebagai klinisi, tetapi juga sebagai akademisi dan pemimpin.
Pada tahun 1962, dr. Hasan Sadikin ditunjuk menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK UNPAD). Perannya dalam memajukan pendidikan kedokteran di Jawa Barat berjalan beriringan dengan tugasnya di rumah sakit.
Puncak kariernya di dunia manajemen rumah sakit terjadi pada bulan Agustus 1965. Saat itu, ia ditunjuk menjadi Direktur Rumah Sakit Rantja Badak, menggantikan dr. H. Chasan Boesoirie, Sp. THT. Di masa inilah, Hasan Sadikin memikul tanggung jawab ganda sebagai pimpinan rumah sakit rujukan utama sekaligus pimpinan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.
Masa kepemimpinannya tidak berlangsung lama. Di tengah masa jabatannya sebagai Direktur RS Rantja Badak dan Dekan FK UNPAD, kondisi fisiknya menurun. Ia wafat pada 16 Juli 1967, saat masih menjabat.
Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya dalam perang kemerdekaan, dunia pendidikan, dan pelayanan kesehatan, nama Rumah Sakit Rantja Badak secara resmi diganti menjadi Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin (RSHS).
Kini, jasad dr. Hasan Sadikin beristirahat dengan tenang di pemakaman para Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, sementara namanya terus hidup melayani kemanusiaan di jantung Kota Bandung.
