Harga Daging Melejit, Pedagang di Sukabumi Sempat Mogok Jualan

Posted on

Sejumlah pedagang daging sapi dan kambing di Sukabumi sempat mogok berjualan guna memprotes tingginya harga sapi hidup dari perusahaan pemasok. Kenaikan harga tersebut berlangsung sejak sebulan terakhir dan dinilai memberatkan karena terjadi jauh sebelum momen Lebaran.

Salah seorang pedagang, Encep (34), mengatakan harga sapi dari pemasok naik bertahap setiap pekan. Dalam dua hari terakhir kondisi kian berat karena harga beli terus melonjak, sementara pedagang sulit menyesuaikan harga jual dengan daya beli masyarakat.

“Setiap minggu naik Rp500 per kilogram. Kalau satu pedagang potong delapan ekor, totalnya sekitar empat kuintal. Itu artinya biaya bertambah sampai Rp500 ribu per minggu,” kata Encep di Pasar Tipar Gede, Kota Sukabumi, Kamis (8/1/2026).

Ia menyebut hingga kini belum ada penurunan harga dari pemasok. Padahal, harga daging saat ini diklaim sudah menyentuh level harga musim Lebaran. “Biasanya harga segini adalah harga Lebaran. Sekarang belum Lebaran tapi sudah mahal. Makanya banyak pedagang mengeluh,” ujarnya.

Mengacu pada ketetapan Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga acuan sapi hidup di tingkat produsen dipatok Rp56.000 hingga Rp58.000 per kilogram. Angka tersebut merupakan harga di tingkat produsen, bukan untuk konsumen akhir.

Sementara itu, di tingkat konsumen, harga daging sapi segar atau chilled secara nasional berada di kisaran Rp130.000 hingga Rp157.000 per kilogram, tergantung jenis potongan dan wilayah.

Pantauan di Pasar Pelita dan Pasar Tipar Gede Sukabumi menunjukkan kenaikan harga pada sejumlah komoditas. Daging sapi murni naik dari Rp130.000 menjadi Rp140.000 per kilogram, sedangkan jenis has dalam melonjak dari Rp135.000 ke Rp150.000 per kilogram.

Kenaikan juga menyasar daging sapi bistik yang kini dibanderol Rp140.000 dari sebelumnya Rp130.000 per kilogram, serta daging brisket yang naik menjadi Rp140.000 per kilogram. Sementara itu, harga bahan pokok lainnya terpantau masih stabil.

Encep menambahkan, kenaikan harga ini menggerus keuntungan pedagang. Meski volume penjualan tidak anjlok drastis, modal yang membengkak membuat margin laba kian menipis. “Penjualan masih ada, tapi pengeluaran jauh lebih besar. Jadi keuntungannya turun,” katanya.

Ia mengakui masih ada konsumen yang membeli meski harga naik Rp5.000 per kilogram, tetapi tak sedikit pula yang memilih menunda pembelian. Pedagang biasanya hanya bisa menjelaskan bahwa kenaikan terjadi dari hulu.

“Kemarin Dinas Perdagangan sudah ke sini. Kami sempat demo, sekarang mulai ada yang berjualan lagi, pelan-pelan mulai normal,” ucap Encep.

Terpisah, Kepala Bidang Perdagangan Diskumindag Kota Sukabumi, Mohamad Rifki, mengatakan pihaknya telah memantau langsung ke lapangan sejak awal aksi berlangsung. Menurut Rifki, aksi mogok selama tiga hari tersebut dipicu persoalan harga daging sapi impor.

Pedagang berharap pemerintah segera mengeluarkan kebijakan untuk menjaga stabilitas harga dan menjamin pasokan sapi. “Kami harapkan ada kebijakan dari pemerintah pusat karena ini merupakan isu nasional, agar harga dan suplai sapi kembali aman,” pungkasnya.