Fenomena Arus Wuwulih dan Jasad yang Terseret dari Banten ke Sukabumi

Posted on

Perairan selatan Jawa kembali menjadi sorotan akibat kejadian tak terduga. Di tengah gempuran gelombang tinggi musim barat, perairan Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menemukan kedatangan jasad seorang wisatawan yang telah hilang selama tiga hari.

Bagi masyarakat pesisir Kabupaten Sukabumi termasuk Ujung Genteng, penemuan jasad yang terbawa arus lintas provinsi ini tidak lepas dari fenomena alam yang mereka kenal dengan sebutan arus ‘Wuwulih’.

Pada Selasa (20/1) sore, sebuah video amatir merekam momen memilukan ketika sesosok jasad terombang-ambing di perairan Cibuaya.

Belakangan diketahui, jasad tersebut adalah Salman Abdul Latif (19), wisatawan asal Jakarta Timur yang dilaporkan hilang terseret ombak di Pantai Goa Langir, Sawarna, Banten, puluhan kilometer dari lokasi penemuan.

Ketua Kerukunan Nelayan Ujung Genteng, Asep Jeka (Asep JK), menuturkan bahwa fenomena terbawanya benda-benda dari laut lepas menuju teluk Ujung Genteng adalah hal yang lumrah terjadi saat musim angin barat. Warga lokal menyebut pola arus ini sebagai Wuwulih.

“Saat ini sedang musim barat, gelombang tinggi dan didorong oleh angin. Istilahnya ya benar itu ‘Wuwulih’, maksudnya (arus) mengarah ke situ,” ujar Asep JK saat dihubungi infoJabar, Rabu (21/1/2026).

Menurut Asep, Wuwulih bukan sekadar mitos, melainkan interpretasi nelayan mengenai karakter laut. Arus ini kerap membawa berbagai material dari tengah laut ke tepian, mulai dari kayu-kayu besar hingga, dalam kasus duka ini, jasad manusia.

“Jasad itu ditemukan bersama sampah laut dan sempat terdorong ke tepian. Saat akan diraih pakai bambu susah, lalu ke tengah lagi. Akhirnya dikejar pakai perahu dan akhirnya bisa dievakuasi,” jelasnya.

Jarak tempuh jasad Salman tidaklah dekat. Asep memperkirakan jarak garis lurus laut antara titik hilangnya korban di Bayah, Banten, hingga ditemukan di Ujung Genteng mencapai lebih dari 10 mil laut.

“Jaraknya sekitar 10-11 mil antara Bayah dan titik koordinat Ujung Genteng. Karena ombak dan angin kencang, akhirnya (benda) ke tengah lagi, lalu terbawa arus masuk ke wilayah kita,” jelas Asep JK.

Koordinator Balawista (Badan Penyelamat Wisata Tirta) Kabupaten Sukabumi wilayah selatan, Piat Supriatna, mengonfirmasi kronologi penemuan tersebut. Laporan bermula dari kesaksian warga sekitar pukul 16.45 WIB yang melihat objek mencurigakan mengapung di perairan arah Cibuaya.

“Balawista Pos Cibuaya menerima laporan masyarakat telah melihat sesosok mayat mengapung. Tim penyelamat segera mengambil tindakan evakuasi dengan berkoordinasi bersama Polair dan TNI AL,” kata Piat.

Proses evakuasi tidak berjalan mudah. Tim gabungan harus berjibaku dengan kondisi laut yang sedang tidak bersahabat menggunakan perahu nelayan untuk menjangkau jenazah.

Saat dievakuasi, kondisi fisik korban sudah sulit dikenali, namun ciri-ciri pakaian berupa celana pendek merah putih menjadi petunjuk utama identifikasi.

“Korban diketahui adalah wisatawan yang dilaporkan hilang dari Pantai Goa Langir, Banten. Berdasarkan koordinasi dengan Balawista Lebak, korban terseret arus pada Sabtu (17/1/2026) pagi saat berenang,” tambah Piat.

Fenomena Wuwulih dan Musim angin barat

Penemuan Jasad