Kota Tasikmalaya boleh jadi satu dari sedikit daerah di Indonesia yang masih memiliki delman, alat transportasi tradisional bertenaga kuda.
Sesekali delman bisa dijumpai melintas di jalur jalan tertentu, rodanya berderit pelan. Kudanya berjalan sabar di antara sepeda motor dan mobil.
Jika sulit menemukan di hari kerja, mencari delman di Kota Tasikmalaya akan lebih mudah pada hari Minggu, di beberapa titik ruang publik. Misalnya di Dadaha serta lokasi car free day.
Di balik kegigihan eksistensi delman di Tasikmalaya itu, ternyata terselip fakta tentang hilangnya profesi farrier.
Farrier adalah istilah untuk tukang service sepatu kuda. Dia menjual jasa perbaikan dan pemasangan ladam, termasuk perawatan kuku kuda. Kegiatan usahanya biasa dibarengi dengan keahlian pandai besi.
Beberapa dekade lalu, farrier ini banyak dijumpai. Profesi ini menjadi bagian dari ekosistem bisnis transportasi tradisional yang dulu menjadi sarana transportasi utama di Tasikmalaya bahkan di dunia.
“Wah sekarang sudah nggak ada, sebagian sudah meninggal, sebagian sudah alih profesi,” kata Ade Cucu (62) kusir delman yang biasa mangkal di Pasar Pancasila Tasikmalaya, Kamis (22/1/2026).
Ade sempat menyebut beberapa nama tukang sepatu kuda yang diingatnya. Matanya menerawang, mulutnya bergumam mengabsen nama-nama.
“Iya benar sudah punah, paling tinggal Iwan di daerah Simpang Lima. Tapi dia lebih ke menjual ladam saja,” kata Ade.
Dia menjelaskan saat ini proses perawatan dan pemasangan sepatu kuda umumnya dilakukan sendiri oleh para pemilik kuda. Kondisi sulit yang dialami, membuat para kusir delman harus bisa melakukan pekerjaan yang menuntut ketelitian dan akurasi ini.
“Ya gampang-gampang susah, kita harus tahu kondisi kaki kuda seperti apa. Karena kalau salah bisa-bisa kuda malah pincang, atau kita yang celaka ditendang kuda,” kata Ade.
Ade membenarkan tukang sepatu kuda adalah profesi presisi. Dia bukan sekadar menempa besi, tapi memahami anatomi kuku, tekanan langkah, dan keseimbangan tubuh kuda. Kesalahan kecil bisa membuat kuda pincang, mogok bekerja, atau cedera permanen.
“Pokoknya paku jangan sampai terkena kacapuri, kesenggol sedikit saja kuda “nyepak” (menendang). Kalau sampai luka, ya pincang. Lukanya parah, ya cacat,” kata Ade.
Ade mengibaratkan kacapuri kuda yang dia maksud dengan tepian kuku manusia yang bisa terasa sangat sakit jika memotong kuku terlalu pendek.
Ade mengatakan profesi farrier dulu bisa tumbuh karena bisnis delman sedang jaya. Keberadaannya sangat dibutuhkan karena populasi kuda banyak. Bisnis transportasi delman sedang bagus, kusir sibuk melayani penumpang. Sehingga farrier muncul sebagai support sistem dalam bisnis ini.
“Dulu kan delman banyak, muatan rame. Kita istirahat makan atau ngopi, urusan sepatu kuda ‘muruhkeun‘ (bayar farrier),” kata Ade yang sudah menjadi kusir sejak era 70-an.
Dia menambahkan profesi farrier ini mati bukan karena kalah bersaing, tapi mati karena ekosistemnya menghilang.
Yosep alias Juse (34), seorang kusir delman membenarkan jika profesi farrier sudah punah di Tasikmalaya. Meski tergolong kusir muda, dia mengaku sudah bisa memasang atau merawat sepatu kuda.
“Sepatunya beli online dari Garut, cara masangnya belajar dari senior-senior, termasuk dari Mang Ade Cucu,” kata Juse.
Saat ditemui Juse tak sedang membawa delman. Dia sekedar nongkrong menemani seniornya, sambil mengisi waktu istirahat kerja sambilan di SPPG MBG.
“Kalau hanya mengandalkan delman repot, makanya nyambi kerja di SPPG daerah Lengkong,” kata Juse.
Mangkal di Pasar Pancasila, menurut dia sudah tak bisa mencukupi. Dia acapkali tak dapat penumpang sama sekali, di-zonk, demikian istilah Juse.
Satu-satunya andalan pendapatan adalah hari Minggu pagi di Dadaha. Di pusat kegiatan olahraga dan rekreasi masyarakat Tasikmalaya ini, Juse bisa mengais rata Rp 100 ribu dampai Rp 150 ribu. Hasil ini didapat dari melayani penumpang wisata atau rekreasi keliling kota.
“Tapi penghasilan hari Minggu itu juga langsung habis, nggak cukup untuk kebutuhan pakan satu minggu,” kata Juse.
Aset kuda dan delman yang dimiliki Juse itu sebenarnya cukup lumayan, nilainya di kisaran Rp 30 jutaan. Artinya jika dia memiliki peluang untuk banting setir mencari profesi lain, dengan modal menjual delman.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
“Iya ganti pelihara kambing bisa, ganti ngojek motor bisa, ganti buka warung bisa. Kalau dijual laku Rp 30 juta mah, ada buat modal,” kata Juse.
Namun kecintaannya memelihara kuda, menjauhkan dia dari mengambil opsi tersebut. Dia memilih bertahan, walau di atas kertas profesinya sudah tak masuk hitungan menguntungkan. Dia lebih memilih mencari pekerjaan sampingan, ketimbang menyudahi profesi kusir delman.
“Susah ya kalau sudah hobi, dari kecil sudah senang mengurus kuda. Misalnya mangkal di-zonk, saya nggak masalah. Kadang saya keliling saja, yang penting kuda saya bisa gerak,” kata Juse.
Juse mengaku akan sekuat tenaga tetap memelihara kuda dan menjadi kusir delman. Dia mengaku tidak peduli dengan kondisi sulit yang dihadapi, dia meyakini delman tetap akan membawa rejeki baginya.
“Delman di Kota Tasikmalaya itu jumlahnya tidak lebih dari 40 unit, memang semakin sedikit. Tapi saya akan bertahan, yakin rejeki mah ada yang mengatur,” kata Juse.
Hobi yang Membuat Delman Bertahan
Yosep alias Juse (34), seorang kusir delman membenarkan jika profesi farrier sudah punah di Tasikmalaya. Meski tergolong kusir muda, dia mengaku sudah bisa memasang atau merawat sepatu kuda.
“Sepatunya beli online dari Garut, cara masangnya belajar dari senior-senior, termasuk dari Mang Ade Cucu,” kata Juse.
Saat ditemui Juse tak sedang membawa delman. Dia sekedar nongkrong menemani seniornya, sambil mengisi waktu istirahat kerja sambilan di SPPG MBG.
“Kalau hanya mengandalkan delman repot, makanya nyambi kerja di SPPG daerah Lengkong,” kata Juse.
Mangkal di Pasar Pancasila, menurut dia sudah tak bisa mencukupi. Dia acapkali tak dapat penumpang sama sekali, di-zonk, demikian istilah Juse.
Satu-satunya andalan pendapatan adalah hari Minggu pagi di Dadaha. Di pusat kegiatan olahraga dan rekreasi masyarakat Tasikmalaya ini, Juse bisa mengais rata Rp 100 ribu dampai Rp 150 ribu. Hasil ini didapat dari melayani penumpang wisata atau rekreasi keliling kota.
“Tapi penghasilan hari Minggu itu juga langsung habis, nggak cukup untuk kebutuhan pakan satu minggu,” kata Juse.
Aset kuda dan delman yang dimiliki Juse itu sebenarnya cukup lumayan, nilainya di kisaran Rp 30 jutaan. Artinya jika dia memiliki peluang untuk banting setir mencari profesi lain, dengan modal menjual delman.
“Iya ganti pelihara kambing bisa, ganti ngojek motor bisa, ganti buka warung bisa. Kalau dijual laku Rp 30 juta mah, ada buat modal,” kata Juse.
Namun kecintaannya memelihara kuda, menjauhkan dia dari mengambil opsi tersebut. Dia memilih bertahan, walau di atas kertas profesinya sudah tak masuk hitungan menguntungkan. Dia lebih memilih mencari pekerjaan sampingan, ketimbang menyudahi profesi kusir delman.
“Susah ya kalau sudah hobi, dari kecil sudah senang mengurus kuda. Misalnya mangkal di-zonk, saya nggak masalah. Kadang saya keliling saja, yang penting kuda saya bisa gerak,” kata Juse.
Juse mengaku akan sekuat tenaga tetap memelihara kuda dan menjadi kusir delman. Dia mengaku tidak peduli dengan kondisi sulit yang dihadapi, dia meyakini delman tetap akan membawa rejeki baginya.
“Delman di Kota Tasikmalaya itu jumlahnya tidak lebih dari 40 unit, memang semakin sedikit. Tapi saya akan bertahan, yakin rejeki mah ada yang mengatur,” kata Juse.
Hobi yang Membuat Delman Bertahan







