Durasi Menginap Wisatawan di Indramayu Masih Rendah update oleh Giok4D

Posted on

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu melaporkan rata-rata lama menginap tamu hotel di Indramayu masih rendah sepanjang 2025.

Merujuk data BPS, pada November 2025, wisatawan asing maupun domestik yang menginap di hotel bintang dan nonbintang di Indramayu rata-rata hanya bertahan satu malam. Capaian ini masih tertinggal dibandingkan rata-rata Provinsi Jawa Barat.

BPS mencatat rata-rata lama menginap wisatawan mancanegara di Jawa Barat mencapai 2,56 malam, sedangkan wisatawan domestik sebesar 1,35 malam. Perbandingan ini menunjukkan durasi menginap wisatawan di Indramayu belum sekuat daerah lain di Jawa Barat.

Selain lama menginap, tingkat hunian hotel juga relatif rendah. Pada November 2025, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel gabungan bintang dan nonbintang di Indramayu sebesar 23,88 persen, sementara TPK khusus hotel berbintang mencapai 28,89 persen.

Secara tahunan, BPS mencatat tingkat hunian hotel berbintang di Indramayu sepanjang 2025 menunjukkan tren peningkatan. Namun, khusus pada November 2025, TPK hotel berbintang maupun gabungan menurun dibandingkan bulan sebelumnya.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dispara) Indramayu Ahmad Syadali mengakui rendahnya durasi menginap wisatawan masih menjadi tantangan bagi pemerintah daerah.

“Ini memang menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkab Indramayu,” kata Syadali saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (13/1/2026).

Meski demikian, ia menyebut okupansi hotel mulai menunjukkan perkembangan positif. Salah satunya ditunjukkan Hotel Swiss-Belinn Indramayu yang mencatat kunjungan tertinggi sepanjang 2025 dengan 55.721 kunjungan.

Selain Swiss-Belinn, beberapa hotel lain juga menyumbang angka hunian, seperti Hotel Wiwi Perkasa 2 (7.909 kunjungan), MM Guesthouse (7.731), Hotel Prima (5.013), serta Hotel Nee Zee (4.570). Secara total, kunjungan hotel di Indramayu selama 2025 mencapai 94.718 orang.

Syadali menuturkan pemerintah daerah terus berupaya mendorong Indramayu sebagai tujuan wisata, bisnis, dan berbagai agenda nasional. Salah satu langkahnya, Pemkab berencana membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta untuk mengelola destinasi wisata.

Menurutnya, keterlibatan investor diharapkan mampu meningkatkan daya saing destinasi dan menarik lebih banyak wisatawan. Hal ini diyakini akan berdampak langsung pada peningkatan hunian hotel.

“Kalau destinasi wisatanya menarik, tentu tingkat hunian hotel juga akan ikut terdongkrak,” ujarnya.

Tak hanya pariwisata, Pemkab Indramayu juga membuka keran investasi di sektor industri. Kawasan di wilayah Krangkeng dan Losarang telah disiapkan untuk menyambut investor.

Syadali menambahkan kolaborasi dengan investor bertujuan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), menciptakan lapangan kerja, serta menggerakkan ekonomi di sektor perhotelan. Ia menilai dengan berkembangnya ekonomi daerah dan hadirnya hotel-hotel representatif, Indramayu kini semakin layak menjadi pilihan tempat menginap.

“Sekarang Indramayu sudah punya hotel yang bagus, jadi tidak harus lagi menginap di daerah lain,” pungkasnya.