Di tengah keriuhan ratusan wisatawan yang menikmati Telaga Biru Cicerem, Desa Wisata Kaduela, Kuningan, tampak seorang wanita penjual pakan ikan bernama Uti (65). Meski tak lagi muda, Uti tetap bersemangat menawarkan dagangannya kepada setiap pengunjung yang melintas.
Sambil duduk di anak tangga Telaga Biru Cicerem, Uti bercerita bahwa pakan tersebut tidak ia racik sendiri, melainkan dibeli secara kiloan di pasar. Pakan itu kemudian ia kemas ulang ke dalam plastik klip. Kemasan kecil dijual seharga Rp5.000 per dua bungkus, sedangkan kemasan besar dibanderol Rp10.000 per bungkus.
Pengunjung yang membeli biasanya langsung menaburkan pakan tersebut ke telaga. Seketika, ratusan ikan hias berukuran besar langsung menyambar pakan yang dilemparkan wisatawan, menciptakan pemandangan yang menarik bagi pengunjung lainnya.
“Bukan racikan sendiri, tapi beli kiloan di pasar. Saya mulai jualan dari pukul 08.00 WIB sampai tempat wisata tutup,” tutur Uti saat berbincang dengan tim redaksi.
Uti mengaku sudah enam tahun berjualan pakan ikan. Sebelumnya, ia adalah pedagang sembako di rumahnya. Namun, lantaran banyak pembeli yang berutang, ia memilih beralih profesi dengan memanfaatkan keramaian pengunjung di objek wisata unggulan Kuningan tersebut.
“Dulu puluhan tahun jualan sembako di rumah. Tapi karena banyak yang berutang, saya berhenti. Akhirnya jualan pakan ikan di sini sudah enam tahun. Saya asli orang Kaduela,” kata Uti.
Saat musim liburan, Uti mampu menjual ratusan bungkus pakan dengan omzet mencapai ratusan ribu rupiah. Namun, pada hari biasa, pendapatannya tak menentu, sangat bergantung pada jumlah kunjungan wisatawan.
“Kalau lagi liburan seperti sekarang bisa dapat sampai Rp300 ribu. Kalau hari biasa tidak menentu, paling Rp30 ribu sampai Rp50 ribu, tergantung pengunjung yang datang saja,” ungkapnya.
Meski penghasilannya fluktuatif, Uti tetap bersyukur. Baginya, berjualan pakan jauh lebih menguntungkan ketimbang berdagang sembako yang kerap terhambat masalah piutang. Selain itu, aktivitas ini membuatnya tetap produktif di masa senja.
“Lebih baik di sini daripada di rumah, banyak yang berutang. Hasilnya cukup untuk diri sendiri, apalagi anak sudah besar dan punya cucu. Jadi di sini sambil mengisi waktu luang saja daripada menganggur. Biarpun dapat sedikit, yang penting tidak ada yang berutang,” pungkas Uti.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.







