Di balik rimbunnya perkebunan karet di Warkop Di Bawah Pohon Rindang (DPR) Kuningan, tersimpan cerita perjuangan memberdayakan masyarakat sekitar, khususnya para petani kopi di Desa Cibuntu.
Yahya (25), pendiri sekaligus pengelola Warkop DPR, mengisahkan bahwa perjalanannya bermula sebagai peternak kambing perah. Kala itu, ia kerap menggembalakan belasan ekor kambing di tengah hutan karet tersebut bersama rekannya. Melihat potensi lokasi yang asri, ia sempat membuka lapak sederhana untuk menjual susu kambing segar.
“Dulu ini hutan tempat kami main sambil menggembala. Kami buka warung karena stok susu banyak tapi tidak ada tempat jual. Untuk lahannya, kami mengelola dengan status hak guna,” ujar Yahya kepada infoJabar.
Namun, roda nasib berputar. Pada 2024, usaha susunya bangkrut. Banyak kambingnya yang sakit sehingga kualitas dan kuantitas produksi menurun drastis di tengah permintaan pasar yang sedang memuncak. Meski sempat mencoba mengambil pasokan dari Bandung dan Majalengka, bisnis tersebut tetap tidak tertolong.
Tak ingin terpuruk, Yahya melihat peluang lain, kopi robusta Desa Cibuntu. Ia prihatin melihat lahan kopi seluas 25 hektare di desa tersebut terbengkalai karena petani sering merugi akibat rantai distribusi yang buntu.
“Banyak lahan tidak diurus karena tidak ada pembeli. Akhirnya, kami putuskan berjualan kopi di sini sambil mendampingi petani agar kualitas panen mereka meningkat,” tambahnya.
Kini, sedikitnya lima petani rutin menyuplai hasil panen ke kedainya. Tak hanya kopi, Yahya juga menerapkan sistem pemberdayaan ekonomi bagi warga sekitar. Untuk menu makanan, ia melibatkan penduduk desa dengan sistem bagi hasil.
Setiap ada pesanan makanan berat atau camilan, Yahya akan menghubungi warga-termasuk istri para penyadap karet-untuk memasak di rumah masing-masing, lalu mengantarkannya ke kedai.
“Kami tes dulu rasanya. Dengan melibatkan masyarakat, kita bisa saling membantu,” jelasnya.
Meski sempat mengalami fase sepi di tahun pertama, Yahya tetap bertahan. Pengalaman pahit ditolak saat melamar kerja justru memicu motivasi kuat untuk mandiri. Kini, usahanya mulai membuahkan hasil dengan omzet harian mencapai Rp1 juta. Ia bahkan bermimpi membangun wisata edukasi di kawasan tersebut.
Bagi pengunjung, Warkop DPR menawarkan kemewahan alam dengan harga terjangkau. Cukup dengan Rp25.000, pengunjung bisa menikmati kombinasi teh tarik yang kental dan pisang goreng hangat, atau pilihan makanan berat seperti nasi ayam rica-rica dan soto ayam. Menariknya, tidak ada biaya tiket masuk untuk menikmati kesejukan hutan karet di sini.
“Harga di sini sangat terjangkau, kopi mulai Rp5.000 sampai Rp15.000. Bawa uang Rp25.000 sudah sangat cukup untuk makan dan minum,” kata Yahya.
Senada dengan Yahya, Muhammad Ramadan (23), salah satu pengunjung, mengaku betah nongkrong di lokasi ini. “Cukup banget bawa Rp25.000. Bisa makan berat dan beli air mineral. Suasananya enak, sejuk, dan nyaman,” tuturnya.
Warkop DPR buka setiap hari pukul 10.00 WIB hingga 20.00 WIB. Berlokasi di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, rute menuju lokasi ini cukup mudah. Dari Kota Cirebon, arahkan kendaraan menuju Sumber, lalu ikuti jalur Jalan Cirea Pasawahan hingga menemukan papan informasi kedai di tengah rimbunnya pepohonan karet.
