Pagi bagi Sudrajat selalu dimulai dengan cara yang sama. Dari Depok, ia menjinjing boks es kue titipan bosnya, naik KRL menuju Jakarta. Turun di stasiun, lalu berjalan kaki menyusuri titik-titik ramai Kemayoran, Pasar Baru, kadang sampai Kota Tua.
Rutinitas itu ia jalani sejak 2007. Bahkan, jika dihitung sejak pertama kali berdagang, hampir 30 tahun hidupnya bertumpu pada es warna-warni yang ia bawa ke jalanan. Dari boks es itulah dapurnya mengepul.
Namun Sabtu, tanggal 24 Januari 2026 itu, langkahnya terhenti oleh tuduhan yang tak pernah ia bayangkan. Es kue yang dijualnya disebut berbahan spons dan beracun.
“Dia belaga-belaga beli es kue,” kata Sudrajat, mengawali cerita, saat ditemui di rumah kontrakannya di Rawa Panjang, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Rabu (27/1/2026).
Dia yang dimaksud adalah aparat yang ‘menangkap’ Sudrajat dan viral di media sosial atas tuduhan menjual ea beracun berbahan spon.
Perlahan Sudrajat menuturkan kejadian awal yang berujung fitnah tak berdasar tersebut. Saat itu, seseorang membeli lima es. Tak lama, seorang anak berteriak, “Pak, ini es racun.” Ia dipanggil. Pria paruh baya berbadan Kuria ini merasa pembelian itu bukan pembeli biasa, melainkan pancingan.
Di tengah keramaian, pedagang kecil itu berdiri dikelilingi orang-orang berseragam. Ia tidak membawa apa pun selain boks es di tangannya.
Di situ, gambaran itu terasa kontras, seorang lelaki 50 tahun pedagang es keliling, berdiri di hadapan aparat berseragam, mencoba meyakinkan bahwa dagangannya bukan spons, bukan racun, hanya es kue yang biasa dibeli anak-anak.
“Lama-lama saya dikepung, ditonjok,” ujarnya.
Sudrajat menyebut yang memukul bukan hanya polisi, tetapi juga seorang anggota TNI yang berada di lokasi. Ia mengaku ditarik, dikerumuni, lalu dibawa menggunakan ambulans.
Ia dibawa ke Polsek Kemayoran. Namun, menurut ceritanya, bukan di kantor polisi kekerasan itu terjadi.
“Di pos, dekat-dekat situ,” katanya.
Di pos itulah, menurut Sudrajat, ia dipaksa mengakui bahwa es yang dijualnya berbahan spons. Ia mengaku disuruh memakan es tersebut.
“Suruh makan. Saya bilang bukan spons, itu es beneran,” tuturnya lirih.
Pengakuan Sudrajat dia dipukul, ditendang sepatu bot di bagian kaki, dan disabet selang di dada hingga tiga kali. Di tempat itu pula, ia mengaku sempat ‘dikurung’ sekitar satu jam.
Kalimat yang paling ia ingat adalah peringatan agar tidak lagi berjualan di sana.
“Jangan sekali-sekali lagi dagang sini. Kalau dagang sini, saya tarik lagi,” begitu ia menirukan.
Menjelang dini hari, Sudrajat dilepas. Ia pulang sendiri naik kereta dan tiba di rumah sekitar pukul empat pagi. Tidak ada pemeriksaan medis atas perlakuan aparat yang dia terima.
Ia menunjukkan bagian dada dan kakinya yang masih terasa sakit. Wajahnya, kata dia, sempat lebam. Setelah kondisinya memburuk, ia mengaku diberi uang Rp300 ribu oleh atasan polisi di lokasi.
“Sudah bonyok baru dikasih duit,” ujarnya.
Empat hari setelah kejadian, ia berhenti berjualan. Bukan karena tidak ada dagangan, tetapi karena trauma.
“Pusing kepala saya. Kapok,” katanya.
Padahal, Kemayoran adalah wilayah langganannya. Setiap hari ia bisa membawa pulang Rp200 ribu sampai Rp300 ribu keuntungan bersih. Es diambil dari bosnya di Depok dengan setoran Rp500 per buah, lalu dijual Rp2.000 dengan laba Rp1.500.
Kini, ia berencana mengubah rute. Mangga Besar dan Sawah Besar menjadi pilihan. Ia menghindari titik yang menurutnya menjadi lokasi kejadian.
“Besok saya dagang lagi,” katanya.
Sementara itu, aparat TNI dan Polri yang mengamankan Sudrajat meminta maaf. Melansir , pengamanan Sudrajat semata untuk memastikan keamanan masyarakat.
Permintaan maaf itu disampaikan Babinsa Kelurahan Utan Panjang Serda Hari Purnomo dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa Aiptu Ikhwan Mulyadi di Aula Mako Polsek Kemayoran pada Senin (26/1) malam.
“Kami, Bhabinkamtibmas dan Babinsa yang bertugas dan membuat video tentang penjual es hunkue yang diduga berbahan spons di wilayah Kemayoran, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas kegaduhan yang timbul akibat video yang sempat beredar luas di media sosial,” ujar Aiptu Ikhwan dalam keterangannya yang diterima wartawan.
Ikhwan menyampaikan tindakan keduanya itu sebagai respons cepat terhadap laporan masyarakat yang khawatir adanya dugaan makanan berbahaya di lingkungan mereka, dalam hak ini pihak RW 05 Kelurahan Rawa Panjang. Hal itu juga untuk memastikan agar masyarakat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kedua, niat kami semata-mata untuk mengedukasi, agar tidak ada konsumen yang dirugikan dan memastikan masyarakat merasa aman dalam membeli makanan di lingkungannya. Dalam situasi tersebut, kami hanya berusaha menjalankan tugas dengan cepat untuk mencegah potensi bahaya,” jelasnya.
Mereka meminta maaf lantaran telah menyimpulkan terlalu cepat tanpa menunggu hasil pemeriksaan dari Labfor. Ikhwan pun menyampaikan permintaan maaf dan menyampaikan tidak bermaksud mencemarkan nama baik pedagang bernama Sudrajat itu.
“Kami turut merasakan bagaimana situasi ini dapat mempengaruhi usaha dan kehidupan beliau sebagai pedagang kecil yang mencari nafkah untuk keluarga. Kami juga memohon maaf kepada warga masyarakat seluruhnya apabila video tersebut menimbulkan keresahan, kesalahpahaman, ataupun sentimen negatif terhadap institusi kami,” kata dia.
Kejadian ini menjadi pembelajaran bagi keduanya. Ikhwan memastikan ke depan akan mengedepankan prinsip kehati-hatian sebelum menyebarkan informasi kepada masyarakat luas.
“Ke depan, kami berkomitmen untuk lebih berhati-hati, selalu mengedepankan prosedur yang tepat, serta memastikan setiap informasi yang disampaikan kepada masyarakat telah melalui pemeriksaan dan verifikasi ilmiah. Kami tetap bertekad memberikan pelayanan terbaik, profesional, dan humanis bagi seluruh warga,” imbuhnya.
Pihak kepolisian juga telah melakukan penyelidikan terhadap es yang dijual Sudrajat. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium forensik (labfor), tidak ada bahan berbahaya dari makanan yang dijual Sudrajat.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra sebagaimana dilansir dari mengatakan pemeriksaan dilakukan oleh Tim Keamanan Pangan (Security Food) Dokpol Polda Metro Jaya. Dari hasil pemeriksaan, seluruh sampel es kue, es gabus, agar-agar, dan cokelat dipastikan aman dan laik dikonsumsi.
“Tim Dokkes telah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan hasilnya jelas. Produk tersebut layak dikonsumsi atau tidak mengandung zat berbahaya. Namun untuk menjamin ketenangan publik dan memastikan hasil yang lebih pasti dan ilmiah, kami juga mengirim sampel ke Dinas Kesehatan dan Laboratorium Forensik (Labfor) Polri untuk hasil resmi masih menunggu proses uji,” Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra dalam keterangannya, Minggu (25/1).
Tim penyidik dari Krimsus juga melakukan penelusuran ke tempat pembuatan es yang berlokasi di Depok. Roby memastikan tidak ada penggunaan spons pada es tersebut seperti yang dinarasikan di media sosial.
“Hasilnya tetap konsisten tidak ada penggunaan bahan berbahaya maupun material spons sebagaimana isu yang beredar luas di media sosial,” ujarnya.
Aparat TNI-Polri Minta Maaf
Tak Mengandung Spons
Pihak kepolisian juga telah melakukan penyelidikan terhadap es yang dijual Sudrajat. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium forensik (labfor), tidak ada bahan berbahaya dari makanan yang dijual Sudrajat.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra sebagaimana dilansir dari mengatakan pemeriksaan dilakukan oleh Tim Keamanan Pangan (Security Food) Dokpol Polda Metro Jaya. Dari hasil pemeriksaan, seluruh sampel es kue, es gabus, agar-agar, dan cokelat dipastikan aman dan laik dikonsumsi.
“Tim Dokkes telah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan hasilnya jelas. Produk tersebut layak dikonsumsi atau tidak mengandung zat berbahaya. Namun untuk menjamin ketenangan publik dan memastikan hasil yang lebih pasti dan ilmiah, kami juga mengirim sampel ke Dinas Kesehatan dan Laboratorium Forensik (Labfor) Polri untuk hasil resmi masih menunggu proses uji,” Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra dalam keterangannya, Minggu (25/1).
Tim penyidik dari Krimsus juga melakukan penelusuran ke tempat pembuatan es yang berlokasi di Depok. Roby memastikan tidak ada penggunaan spons pada es tersebut seperti yang dinarasikan di media sosial.
“Hasilnya tetap konsisten tidak ada penggunaan bahan berbahaya maupun material spons sebagaimana isu yang beredar luas di media sosial,” ujarnya.







