Saat matahari mulai menyembul di balik rimbunnya pepohonan dan hawa sejuk Bandung membalut kulit, suasana di Taman Lansia seketika berubah. Deru mesin kota meredup, digantikan gesekan sapu lidi dan langkah kaki para pelari pagi yang mulai memadati lintasan. Bagi pengunjung, area ini bukan sekadar taman, melainkan tempat pelarian dari penatnya rutinitas sekaligus ruang untuk mencari ketenangan diri.
Di sudut taman, seorang pria berseragam tampak sibuk menyapu. Ia adalah Sandi (30), pria yang telah lama mendedikasikan waktunya untuk menjaga Taman Lansia. Bekerja mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, Sandi menjadi saksi bisu transformasi taman ini.
Namun, sepuluh tahun bekerja tak membuat tugasnya kian ringan. Tantangan terbesar Sandi bukanlah luasnya area yang harus dibersihkan, melainkan rendahnya kesadaran pengunjung.
“Tantangannya ada di SDM. Kadang sudah kita bersihkan, tapi yang lain malah buang sampah sembarangan. Ya, saling sadar sajalah. Kita kan cuma menjaga, fasilitas sudah dikasih pemerintah, tolong dijaga,” keluh Sandi saat berbincang dengan infoJabar, Senin (12/1/2026).
Ia bercerita sering melihat pengunjung membuang sampah tepat di depan matanya. “Menurut saya, kesadaran menjaga kebersihan masih rendah. Pengalaman pribadi saya, di depan mata saja mereka malas buang sampah ke tempatnya, padahal sudah disediakan. Kesadarannya masih jauh sekali,” ungkapnya.
Bagi Sandi, kebersihan taman bukan sekadar estetika, melainkan nyawa bagi ekosistem kota. Area di sekitar kolam menjadi titik tersulit untuk dibersihkan saat hujan karena permukaannya menjadi licin dan basah.
“Sangat penting menjaga kebersihan. Ini kan ruang terbuka hijau untuk penyegaran dan sumber oksigen kita. Kalau tidak dijaga, tidak enak dilihatnya,” tambahnya.
Frida (36) datang ke Taman Lansia untuk mencari ketenangan. Sebagai warga yang rutin berkunjung dua hingga tiga kali seminggu, Frida menganggap taman ini sebagai obat bagi anxiety yang ia alami.
“Environment-nya mendukung, orang olahraga itu butuh mood, Teh. Hijau-hijau begini bikin mood kita seimbang. Apalagi yang punya anxiety, benar-benar butuh suasana seperti ini. Di sini oksigennya terasa segar karena banyak pohon,” tutur Frida.
Frida biasanya memulai aktivitasnya pukul 06.00 WIB dengan sarapan, lalu dilanjutkan dengan jogging selama satu jam. Spot favoritnya di area Taman Lansia adalah meja panjang yang nyaman untuk menikmati bekal makanannya.
Namun, kenyamanan Frida kerap terganggu oleh asap rokok ketika hari mulai siang. “Kalau jogging saya mulai jam 7 atau 8 karena belum ada yang merokok. Kalau sudah siang, mulai banyak yang merokok. Itu lumayan mengganggu pernapasan pas lagi jalan-jalan,” jelasnya.
Meski masih ada perilaku pengunjung yang kurang tertib, Frida mengakui Taman Lansia saat ini jauh lebih baik dibandingkan sebelum direnovasi. Dulu, fasilitas seperti toilet dan musala belum tersedia. Sekarang, infrastruktur tersebut sudah tersedia dengan baik. Bahkan saat hujan turun, rimbunnya pohon di Taman Lansia memberikan perlindungan alami, sehingga pengunjung tidak langsung basah kuyup.
Di akhir perbincangan, baik Sandi maupun Frida menitipkan pesan yang sama: kepedulian. “Pesan saya untuk masyarakat, semoga kita saling melengkapi untuk menjaga. Kalau tamannya bersih, kalian juga yang nyaman,” pesan Sandi.
Sementara itu, Frida mengajak masyarakat, terutama dari luar kota, untuk tidak ragu berkunjung. “Banyak-banyak jalan kaki di Taman Lansia, sudah sangat nyaman. Track-nya bagus, jangan khawatir tempat duduk kotor atau tidak ada fasilitas. Di sini semua bersih, sudah ada musala dan toilet lengkap. Pekerjanya rajin,” pungkasnya.
Healing dan Oksigen untuk Kesehatan Mental
Transformasi yang Membawa Kenyamanan








