Virus Influenza A subclade K atau yang dikenal sebagai super flu dilaporkan telah menyebar ke sejumlah provinsi di Indonesia. Berdasarkan analisis epidemiologi Kementerian Kesehatan hingga akhir Desember 2025, terdapat 62 kasus super flu di Indonesia yang tersebar di delapan provinsi.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur dengan 23 kasus, disusul Kalimantan Selatan 18 kasus, dan Jawa Barat 10 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan Edi Martono memaparkan, meski Jawa Barat sudah mencatatkan kasus super flu, wilayah Kuningan sejauh ini masih nihil laporan masyarakat yang terpapar Influenza A subclade K tersebut.
“Sampai saat ini, kami belum menerima informasi terkait kasus super flu di Kuningan. Belum ada laporan, semoga saja tidak masuk,” tutur Edi, Jumat (9/1/2026).
Meski belum ada laporan, Edi mengimbau masyarakat Kuningan tetap waspada. Varian baru virus Influenza A H3N2 ini menyebar melalui udara sehingga sulit terdeteksi. Biasanya, lanjut Edi, virus akan menyerang warga dengan imunitas rendah.
“Sulit diidentifikasi karena penularannya lewat udara. Virus menyerang saat imunitas turun. Kalau daya tahan tubuh lemah, ya gampang terkena,” tutur Edi.
Edi menjelaskan, gejala super flu serupa dengan flu pada umumnya, yakni demam, batuk, dan sakit kepala. Namun, super flu memiliki tingkat keparahan lebih tinggi dengan intensitas penularan yang lebih cepat.
“Gejalanya sama seperti flu biasa, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, lemas, nyeri otot, sendi, hingga diare. Namun, ini lebih berat, bisa lemas berhari-hari karena penularannya cepat,” jelas Edi.
Untuk mencegah penularan, pihaknya mengimbau masyarakat lebih memperhatikan kebersihan lingkungan, menerapkan pola hidup sehat, istirahat cukup, mengonsumsi makanan bergizi, serta melengkapi imunisasi pada balita.
“Pencegahannya tetap dengan pola hidup bersih dan sehat, makan nutrisi seimbang, dan istirahat cukup. Kalau perlu, lakukan imunisasi. Gunanya agar jika terpapar, gejalanya tidak terlalu parah,” tambah Edi.
Ia juga mengimbau masyarakat memakai masker saat beraktivitas di luar rumah untuk mencegah penularan. Menurutnya, selama tidak ada gejala tambahan yang parah, pengobatannya serupa dengan flu biasa.
“Jaga kebersihan, kalau keluar pakai masker. Selama tidak ada gejala khusus, penanganannya sama dengan flu biasa. Hanya saja rasa sakitnya memang lebih berat,” pungkas Edi.







