Bogor dan Riwayat ‘Emas Hijau’ Bangsa-bangsa Eropa

Posted on

Ketika pemerintah sibuk mengejar emas kuning tambang di kawasan Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor, mereka lupa bahwa kota ini dulu diperebutkan Eropa karena ’emas hijau’-nya, yaitu Ilmu botani, warisan Kebun Raya yang lebih berharga dari sekadar batangan logam mulia di perut bumi.

Di balik hiruk-pikuk tambang hari ini, ada jejak masa lalu yang nyaris terlupakan, yaitu kisah bagaimana Kebun Raya Bogor menjadi laboratorium raksasa tempat bangsa-bangsa Eropa berebut menguasai pengetahuan tentang alam tropis.

Bagi banyak orang, Kebun Raya Bogor hanya dikenal sebagai ruang hijau untuk berlibur. Namun dalam sejarahnya, tempat ini pernah menjadi jantung dari perebutan global atas apa yang oleh para ilmuwan disebut sebagai ’emas hijau’, berupa tanaman tropis bernilai ekonomi tinggi yang diperebutkan bangsa-bangsa Eropa.

Gambaran itu diungkap dalam jurnal ilmiah Laborious Transformations: Plants and Politics at the Bogor Botanical Gardens yang ditulis dua sejarawan sains, Andreas Weber dan Robert-Jan Wille, terbit tahun 2018 dalam jurnal Studium (Vol. 11, No. 3, hlm. 169-177).

Dalam jurnal tersebut, sejak awal berdirinya pada 1817, Kebun Raya Bogor yang kala itu bernama ‘s Lands Plantentuin di Buitenzorg (sekarang Bogor), tidak pernah dimaksudkan hanya sebagai taman. Ia dirancang sebagai instrumen kolonial untuk mengelola alam tropis.

Para peneliti menegaskan bahwa hubungan antara sains dan politik di Bogor tidak pernah terpisah. Keduanya tumbuh saling membentuk dalam satu sistem.

“The relationship between science and politics at the Bogor Botanical Gardens can best be described as co-evolutionary,” tulis Weber & Wille (hal. 170). (Hubungan antara sains dan politik di Kebun Raya Bogor paling tepat digambarkan sebagai hubungan ko-evolusioner).

Dalam praktiknya, ilmuwan kebun bukan sekadar akademisi. Mereka justru menjadi bagian langsung dari struktur kekuasaan kolonial yang menentukan kebijakan pertanian dan ekonomi.

“The directors of the gardens were deeply embedded in the colonial infrastructure as high-ranking government officials, whose advice was crucial for actual policy making,” jelas Weber & Wille (hal. 171). (Para direktur kebun terikat erat dalam infrastruktur kolonial sebagai pejabat tinggi pemerintahan, yang nasihatnya sangat menentukan kebijakan nyata).

Dari mekanisme itulah lahir sistem kerja yang rapi. Bogor menjadi pusat eksperimen tropis, sementara Leiden di Belanda berperan sebagai pusat legitimasi ilmiah. Spesimen tanaman yang dikumpulkan di Jawa dikirim ke Eropa untuk diklasifikasi, diberi nama ilmiah, lalu dikembalikan sebagai kebijakan resmi kolonial.

“The Botanical Gardens in Buitenzorg (1817), the National Museum of Natural History in Leiden (1820), and the National Herbarium (1829) were established to support colonial agricultural and economic policies,” terang kedua peneliti (hal. 172). (Kebun Raya di Buitenzorg, Museum Sejarah Alam Leiden, dan Herbarium Nasional didirikan untuk mendukung kebijakan pertanian dan ekonomi kolonial).

Namun kebun ini tidak hanya digerakkan oleh ilmuwan Eropa. Ribuan pekerja lokal, mulai tukang kebun, pengumpul tanaman, pemandu, hingga pedagang menjadi fondasi utama operasional kebun.

“A myriad of laborers and visitors sustained the garden not only with their hands but also with their plant-related expertise,” tulis mereka (hal. 173).(Ribuan pekerja dan pengunjung menopang kebun ini bukan hanya dengan tenaga mereka, tetapi juga dengan keahlian mereka tentang tanaman).

Pada pertengahan abad ke-19, Kebun Raya Bogor telah menyimpan lebih dari 9.000 spesies tanaman dan berkembang menjadi salah satu kebun botani terbesar di dunia. Dari sinilah terbentuk jaringan pertukaran tanaman global yang menjadikan Jawa sebagai pusat distribusi komoditas bernilai tinggi.

“Sugarcane from Brazil, palm oil trees from Africa, corn from America, litchi trees from China, and sago palms from the Moluccan islands,” catat Weber & Wille (hal. 174). (Tebu dari Brasil, kelapa sawit dari Afrika, jagung dari Amerika, leci dari Tiongkok, dan sagu dari Kepulauan Maluku).

Tanaman-tanaman itu bukan sekadar koleksi ilmiah. Ia adalah komoditas strategis yang menggerakkan ekonomi kolonial. Dari Bogor, “emas hijau” mengalir ke pelabuhan-pelabuhan Eropa dan menjadi bahan baku revolusi industri pertanian.

Menariknya, perebutan emas hijau ini tidak hanya melibatkan Belanda. Negara seperti Swiss, yang tidak memiliki koloni dan bahkan tidak punya akses laut atau terkungkung daratan, ikut memetik manfaat dari jaringan botani Buitenzorg. Informasi ini diuraikan dalam artikel berjudul Green gold from Dutch India karya Gabriel Heim, yang terbit di blog Swiss National Museum pada 15 Oktober 2024.

Artikel tersebut menjelaskan bahwa pada akhir abad ke-19, Swiss sangat membutuhkan akses ke tanaman tropis untuk menopang industri pangan dan farmasi mereka. Karena tidak memiliki koloni sendiri, Swiss memandang Kebun Raya Buitenzorg sebagai pintu masuk strategis menuju kekayaan botani tropis dunia.

Kerja sama itu makin kuat ketika direktur Kebun Raya Bogor, Melchior Treub, membuka jalur kolaborasi ilmiah. Dari Bogor, benih dan spesimen tanaman dikirim ke Zurich dan Basel, menjadi bahan penelitian dan inovasi industri Swiss. Bahkan sejak 1902, pemerintah Swiss mendanai beasiswa khusus yang memungkinkan para botanisnya melakukan penelitian langsung di Jawa.

Melalui jalur inilah Swiss memperoleh keuntungan pengetahuan jangka panjang. Tanpa perlu menjadi kekuatan kolonial, mereka ikut menikmati limpahan ’emas hijau’ dari Nusantara yang merupakan hasil dari jaringan ilmu yang berpusat di Bogor.

Memasuki abad ke-20, Kebun Raya Bogor menjelma menjadi pusat riset berskala besar. Weber dan Wille menyebut fase ini sebagai era “colonial and transdisciplinary big science.”

Ketika Indonesia merdeka, kebun ini tidak ikut runtuh. Ia justru menemukan peran baru sebagai pusat sains nasional yang tetap terhubung dengan jaringan dunia.

“Political change did not lead to a decline in science at the Bogor Gardens,” tegas Weber & Wille (hal. 176). (Perubahan politik tidak menyebabkan kemunduran sains di Kebun Raya Bogor).

Kini, warga menikmati Kebun Raya Bogor sebagai ruang publik yang teduh. Namun di balik pepohonannya tersimpan sejarah panjang bagaimana kolonialisme bekerja bukan hanya lewat senjata, tetapi juga lewat ilmu pengetahuan.

Dari Bogor Mengalir ke Dunia


Pada pertengahan abad ke-19, Kebun Raya Bogor telah menyimpan lebih dari 9.000 spesies tanaman dan berkembang menjadi salah satu kebun botani terbesar di dunia. Dari sinilah terbentuk jaringan pertukaran tanaman global yang menjadikan Jawa sebagai pusat distribusi komoditas bernilai tinggi.

“Sugarcane from Brazil, palm oil trees from Africa, corn from America, litchi trees from China, and sago palms from the Moluccan islands,” catat Weber & Wille (hal. 174). (Tebu dari Brasil, kelapa sawit dari Afrika, jagung dari Amerika, leci dari Tiongkok, dan sagu dari Kepulauan Maluku).

Tanaman-tanaman itu bukan sekadar koleksi ilmiah. Ia adalah komoditas strategis yang menggerakkan ekonomi kolonial. Dari Bogor, “emas hijau” mengalir ke pelabuhan-pelabuhan Eropa dan menjadi bahan baku revolusi industri pertanian.

Menariknya, perebutan emas hijau ini tidak hanya melibatkan Belanda. Negara seperti Swiss, yang tidak memiliki koloni dan bahkan tidak punya akses laut atau terkungkung daratan, ikut memetik manfaat dari jaringan botani Buitenzorg. Informasi ini diuraikan dalam artikel berjudul Green gold from Dutch India karya Gabriel Heim, yang terbit di blog Swiss National Museum pada 15 Oktober 2024.

Artikel tersebut menjelaskan bahwa pada akhir abad ke-19, Swiss sangat membutuhkan akses ke tanaman tropis untuk menopang industri pangan dan farmasi mereka. Karena tidak memiliki koloni sendiri, Swiss memandang Kebun Raya Buitenzorg sebagai pintu masuk strategis menuju kekayaan botani tropis dunia.

Kerja sama itu makin kuat ketika direktur Kebun Raya Bogor, Melchior Treub, membuka jalur kolaborasi ilmiah. Dari Bogor, benih dan spesimen tanaman dikirim ke Zurich dan Basel, menjadi bahan penelitian dan inovasi industri Swiss. Bahkan sejak 1902, pemerintah Swiss mendanai beasiswa khusus yang memungkinkan para botanisnya melakukan penelitian langsung di Jawa.

Melalui jalur inilah Swiss memperoleh keuntungan pengetahuan jangka panjang. Tanpa perlu menjadi kekuatan kolonial, mereka ikut menikmati limpahan ’emas hijau’ dari Nusantara yang merupakan hasil dari jaringan ilmu yang berpusat di Bogor.

Memasuki abad ke-20, Kebun Raya Bogor menjelma menjadi pusat riset berskala besar. Weber dan Wille menyebut fase ini sebagai era “colonial and transdisciplinary big science.”

Ketika Indonesia merdeka, kebun ini tidak ikut runtuh. Ia justru menemukan peran baru sebagai pusat sains nasional yang tetap terhubung dengan jaringan dunia.

“Political change did not lead to a decline in science at the Bogor Gardens,” tegas Weber & Wille (hal. 176). (Perubahan politik tidak menyebabkan kemunduran sains di Kebun Raya Bogor).

Kini, warga menikmati Kebun Raya Bogor sebagai ruang publik yang teduh. Namun di balik pepohonannya tersimpan sejarah panjang bagaimana kolonialisme bekerja bukan hanya lewat senjata, tetapi juga lewat ilmu pengetahuan.

Dari Bogor Mengalir ke Dunia