Bubur ayam merupakan salah satu kreasi kuliner, yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Bubur berbahan beras dengan taburan daging ayam ini mudah dijumpai di berbagai daerah, termasuk di Tasikmalaya.
Banyak fakta unik terkait kuliner yang cocok dijadikan menu sarapan pagi ini. Misalnya soal polarisasi di masyarakat akibat perbedaan cara memakannya. Perdebatan antara kubu diaduk dan kubu tidak diaduk, seakan jadi “konflik” yang tak berujung.
Fakta unik lain dari bubur ayam adalah fenomena culture shock yang dirasakan warga luar Tasikmalaya saat membeli bubur ayam.
Mayoritas pedagang di Tasikmalaya membungkus bubur ayam dengan kertas nasi. Hal ini membuat banyak pembeli warga luar Tasikmalaya kaget, karena hal ini dianggap tak lumrah.
Rupanya di daerah lain, seperti wilayah Bandung Raya dan sebagainya, bubur ayam lazim dibungkus dengan menggunakan plastik.
Sementara bagi masyarakat Tasikmalaya membungkus bubur ayam dengan plastik justru dihindari.
“Bungkus bubur ayam pakai kertas nasi itu sudah paling benar, nggak bisa dibungkus pakai plastik bening,” kata Lusi Nurasiah (44) warga Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya, Rabu (7/1/2026).
Menurut dia menikmati kuliner bukan hanya soal cita rasa di mulut, melainkan perlu kenyamanan visual.
“Kalau pakai kertas nasi, saat dibuka di rumah, tampilan bubur ayam masih bagus. Plating-nya terjaga. Kalau pakai plastik kan harus dituangkan ke mangkuk, udah pasti berantakan,” kata Lusi.
Menurut Lusi, di daerah Indihiang ada satu pedagang bubur ayam yang mengemas dagangannya dengan plastik bening. Saking enggan dibungkus plastik, dia selalu membawa rantang atau wadah jika mau membungkus bubur ayam tersebut.
“Kalau malam di Jalan Raya Indihiang ada bubur ayam lumayan enak, Bubur Haneut namanya. Nah dia aneh sendiri, bungkusnya pakai plastik, kalau terpaksa membungkus, saya mendingan bawa rantang susun dari rumah,” kata Lusi.
Lusi mengatakan meski termasuk “penganut sekte” makan bubur ayam diaduk, melihat bubur ayam dibungkus plastik memberikan kesan yang berbeda. “Ah pokoknya jadi nggak nyaman aja melihatnya, geuleuh,” kata Lusi.
Lain lagi komentar Dadang Holis (49), warga Kecamatan Indihiang. Sebagai penganut sekte makan bubur diaduk, Dia mengaku tak masalah dengan cara bubur ayam dikemas.
“Kan saya makan buburnya diaduk, mau pakai plastik kayak di Bandung juga nggak masalah,” kata Dadang.
Sebagai warga yang pernah tinggal di luar Tasikmalaya dia membenarkan hanya di Tasikmalaya bubur ayam dibungkus kertas nasi.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
“Di Sukabumi bubur ayam dibungkus plastik, apalagi kan di sana ditambahkan kuah. Bandung juga sama, kalau nggak salah bubur PR yang depan Hotel Homan juga dibungkus plastik, tapi topingnya dipisah. Memang hanya di Tasik dibungkus kertas nasi,” papar Dadang.
Salah seorang pedagang bubur ayam di Tasikmalaya, Cecep Kurniawan mengaku sejak awal berjualan beberapa tahun lalu, dia sudah menggunakan kertas nasi sebagai pembungkus.
“Sudah kebiasaan, lagi pula lebih mudah. Kertas nasi digelar di mangkuk langsung diisi bubur kasih toping, beres. Kalau pakai plastik, rasanya sulit. Mungkin harus pakai corong, atau plastiknya harus agak besar,” kata Cecep.
Cecep menambahkan hal lain yang membuat bubur ayam di Tasik dibungkus kertas nasi, boleh jadi karena tekstur bubur yang agak kental. Sehingga penggunaan kertas nasi masih memungkinkan, tak sampai membuat kertas jebol.
“Mungkin karena buburnya kental, kalau encer mungkin susah dibungkusnya,” kata pedagang bubur ayam yang biasa mangkal di sekitar Kelurahan Nagarasari Kecamatan Cipedes ini.
Terlepas dari “kontroversi” cara membungkus, bubur ayam di Tasikmalaya sendiri terdiri dari beragam varian.
Di wilayah pusat kota Tasikmalaya, bubur ayam memiliki ciri khasnya tersendiri. Bubur ayam disajikan tanpa kerupuk, tanpa kacang dan tanpa kecap. Rasa gurih sangat dominan, karena toping fokus pada daging ayam, tongcay dan irisan daun bawang.
Sementara di wilayah selatan pusat kota, banyak pedagang bubur ayam yang menambahkan irisan mentimun sebagai toping tambahan. Kehadiran mentimun ini acapkali menimbulkan keheranan dari warga luar Kota Tasikmalaya.
Sisanya adalah bubur ayam pada umumnya, atau dikenal dengan sebutan bubur ayam kampung. Bubur ini umumnya dijajakan pedagang keliling. Setelan topingnya dilengkapi kerupuk, kacang, kecap, bawang goreng dan lainnya.*








