Dalam kehidupan sehari-hari, plastik seringkali digunakan dalam berbagai kebutuhan. Mulai dari botol minum, kantong belanja, kemasan makanan, hingga alat makan. Penggunaan plastik membuat apapun terasa lebih praktis dan mudah untuk digunakan.
Di balik kemudahan yang ditawarkan dari penggunaan plastik, dapat timbul permasalahan, seperti mikroplastik yang muncul dan dapat mengganggu kesehatan.
Menurut Thompson, et al. (2004) dalam jurnal berjudul “Lost at sea: where is all the plastic?”, mikroplastik adalah partikel plastik yang memiliki ukuran kurang dari 5 mm.
Melansir dari laman Ayo Sehat Kemenkes, mikroplastik terbagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Primer berasal dari produk yang digunakan manusia, seperti pakaian, sabun, kosmetik. Sedangkan sekunder yang muncul akibat proses penguraian sampah plastik di laut.
Mikroplastik dapat masuk ke dalam makanan yang dikonsumsi oleh manusia dengan beberapa cara. Di laut, mikroplastik dapat tertelan oleh hewan laut, sehingga ketika dikonsumsi oleh manusia, mikroplastik akan masuk ke dalam tubuh.
Penggunaan wadah berbahan plastik, seperti botol, kantong, ataupun wadah plastik lainnya pun dapat menjadi sebab masuknya mikroplastik ke dalam makanan. Selain itu, proses pengolahan dan penyimpanan makanan juga berperan dalam paparan mikroplastik.
Berdasarkan penelitian oleh Emenike, et al. (2023) dalam jurnal berjudul “From oceans to dinner plates: The impact of microplastics on human health”, ada beberapa dampak yang diberikan mikroplastik pada kesehatan manusia.
Mengonsumsi makanan yang terpapar dengan mikroplastik akan menyebabkan masalah pencernaan, seperti peradangan, sembelit, iritasi usus besar, hingga gangguan microbiota usus.
Lalu, mikroplastik dapat menyerap dan mengandung bahan kimia, termasuk senyawa yang pengganggu endokrin (EDC). Gangguan ini akan berdampak buruk pada keseimbangan hormone.
Paparan mikroplastik melalui saluran pernapasan juga dapat menyebabkan masalah pernapasan, jantung, dan masalah kesehatan lainnya. Partikel-partikelnya yang kecil, bila terhirup akan menyebabkan iritasi dan menimbulkan gejala seperti batuk, sesak napas, dan memperburuk kondisi pernapasan.
Partikel kecil ini juga dapat memicu stres oksidatif hingga peradangan yang dapat mengganggu fungsi jantung.
1. Makanan yang Mengandung Antosianin
Antosianin merupakan pigmen alami bagi buah dan sayuran yang memberi warna biru, ungu, dan merah yang memiliki sifat antioksidan yang kuat. Kandungan ini juga memiliki sifat anti inflamasi yang dapat membantu mengatasi peradangan hingga antimikroba. Antosianin juga membantu melawan radikal bebas, menjaga kesehatan jantung dan otak.
Antosianin dapat mengatasi paparan dari mikroplastik, sebab dapat melawan stres oksidatif dan mengurangi kerusakan sel. Kandungan antosianin juga dapat mengurangi peradangan akibat paparan mikroplastik.
Makanan dengan kandungan antosianin dapat ditemukan pada blueberry, blackberry, ubi ungu, acai berry, raspberry, delima, anggur merah, terong, kubis merah, dan ceri.
2. Makanan Tinggi Serat
Melansir laman Super Age, serat terbagi menjadi dua jenis, yaitu serat larut dan serat tidak larut. Serat tidak larut dapat membantu mengikat partikel mikroplastik di dalam usus, sehingga mikroplastik lebih cepat dikeluarkan dan tidak terserap ke dalam tubuh.
Sementara itu, serat larut membantu memperkuat dinding usus dengan menghasilkan zat baik dari proses fermentasi oleh bakteri usus, sehingga mikroplastik lebih sulit masuk ke aliran darah. Selain itu, serat juga menjadi makanan bagi bakteri baik di usus, sehingga menjadi microbiota yang sehat dan dapat melawan paparan mikroplastik.
Makanan yang tinggi serat dapat ditemukan pada sayuran, seperti sayuran berdaun hijau, wortel, kubis, ubi jalar, buah-buah seperti apel pisang, jeruk, pir, kacang buncis, kacang polong, biji chia, biji rami, almond, dan masih banyak lagi.
3. Makanan Kaya Omega-3
Makanan yang kaya akan kandungan Omega-3 juga berperan dalam menghadapi paparan mikroplastik. Makanan ini dapat membantu mengatasi peradangan yang diakibatkan oleh paparan plastik. Selain itu, makanan dengan kandungan Omega-3 juga dapat membantu memperbaiki sel yang rusak.
Kandungan Omega-3 dapat ditemukan dalam ikan salmon, ikan kembung, ikan tuna, sarden, biji rami, minyak kedelai, hingga kacang kenari.
4. Yoghurt dan Kefir
Kedua produk susu tersebut merupakan produk yang dibuat dengan cara difermentasi dengan bakteri baik. Produk tersebut dapat membantu memperkuat lapisan usus dan menjaga kesehatan usus.
5. Bawang Putih dan Bawang Merah
Kedua jenis bawang ini dapat membantu detoksifikasi, karena mengandung senyawa sulfur yang berperan dalam mendukung kerja hati. Senyawa tersebut dapat membantu menghilangkan bahan kimia dan plastik.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Untuk mengonsumsi bawang merah dan bawang putih pun mudah, karena sering digunakan sebagai bumbu yang menambahkan rasa pada menu makanan sehari-hari.
Cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan mikroplastik adalah dengan memilih jenis makanan dan cara mengolahnya, seperti jangan memanaskan makanan dalam wadah plastik, mengurangi makanan ultra-processed food, hindari penggunaan cangkir kopi sekali pakai ataupun kantong teh, hindari minum dari botol plastik, jangan konsumsi makanan laut yang terkontaminasi plastik dari perairan yang tercemar.
Kemudian, mengurangi penggunaan alat makan, wadah, ataupun kemasan yang berbahan plastik. Ganti alat dan wadah berbahan plastik dengan wadah berbahan kaca, kayu, atau logam. Lalu, membawa botol minum sendiri, serta batasi penggunaan plastik agar tidak menimbulkan banyak limbah plastik.
