Virus Nipah kembali viral setelah muncul laporan kasus baru di India dan Bangladesh pada pada Desember 2025 yang berujung pada kondisi kritis hingga kematian. Infeksi virus nipah adalah penyakit menular yang dapat berpindah dari hewan ke manusia, juga dari manusia ke manusia.
Tingkat kematian akibat infeksi virus Nipah pun tergolong tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 70 persen. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk mengatasi infeksi virus Nipah.
Simak ulasan selengkapnya tentang virus Nipah berikut ini, sebagaimana disarikan dari website World Health Organization (WHO), Kemenkes RI, dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
Virus Nipah adalah virus RNA dari kelompok Paramyxovirus. Kelompok virus ini juga mencakup patogen penyebab campak, gondongan, dan pneumonia. Namun, virus Nipah memiliki karakteristik khusus yang membuatnya jauh lebih berbahaya.
Infeksi virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang menular ke manusia melalui hewan yang terinfeksi seperti kelelawar atau babi, atau melalui makanan yang terkontaminasi air liur, urine, dan kotoran hewan yang terinfeksi. Berikut beberapa poin penting tentang virus Nipah:
Tingkat kematian akibat infeksi virus Nipah diperkirakan berada di kisaran 40 persen hingga 75 persen. Angka ini dapat berbeda di setiap wabah, tergantung pada kesiapan sistem kesehatan dan kecepatan penanganan pasien.
Inang alami virus ini adalah kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae. Virus Nipah kemudian dapat menular ke hewan lainnya seperti babi. Melalui makanan yang terkontaminasi, Nipah lalu berpindah ke manusia. Bila manusia sudah terjangkit, maka virus ini pun bisa menular langsung dari manusia ke manusia melalui kontak erat.
Gejala infeksi virus Nipah pada manusia dapat menimbulkan gejala yang beragam. Bahkan, sebagian orang yang terinfeksi juga bisa tidak menunjukkan gejala apa pun. Namun, banyak pasien mengalami demam, gangguan pernapasan, hingga peradangan otak yang dapat menyebabkan kematian.
Penanganan pasien Nipah masih berfokus pada perawatan untuk menjaga kondisi pernapasan dan sistem saraf pasiennya. Pasalnya, belum ada obat khusus maupun vaksin yang tersedia untuk mengatasi infeksinya.
Wabah virus Nipah sejauh ini dilaporkan terjadi di Bangladesh, India, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Namun, kelelawar buah yang membawa virus Nipah tersebar luas di seluruh Asia, kawasan Pasifik Selatan, dan Australia.
Dilansir dari WHO, wabah virus Nipah pertama kali terdeteksi pada tahun 1999 di Malaysia dan Singapura. Saat itu, ratusan orang terinfeksi dan lebih dari seratus orang meninggal dunia. Penularan awal terjadi dari kelelawar ke babi, lalu ke manusia yang bekerja di peternakan.
Pada wabah tersebut, banyak pasien merupakan pekerja yang berhubungan langsung dengan babi yang terinfeksi. Penularan terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh hewan, sekresi pernapasan, serta jaringan tubuh hewan sakit.
Setelah wabah di Malaysia, kasus virus Nipah kembali muncul di beberapa negara Asia, terutama Bangladesh dan India. Pola penularan di wilayah ini menunjukkan jalur yang berbeda. Dalam sejumlah kasus, infeksi terjadi akibat konsumsi buah atau produk buah yang terkontaminasi oleh air liur atau urine kelelawar.
Selain itu, penularan antar manusia juga dilaporkan, terutama di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan. Perawat dan anggota keluarga yang merawat pasien dengan gejala berat memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi.
Virus Nipah dapat menular ke manusia melalui beberapa jalur utama, yakni lewat kontak dengan hewan yang terinfeksi, kontaminasi makanan, dan manusia dengan manusia. Berikut penjelasannya :
Manusia bisa terjangkit Nipah melalui hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar dan babi. Seseorang dapat terinfeksi saat bersentuhan dengan darah, air liur, atau urine hewan yang membawa virus.
Transmisi virus Nipah bisa terjadi melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Buah yang terpapar air liur atau urine kelelawar dapat menjadi sumber penularan jika dikonsumsi tanpa dicuci atau diolah dengan baik. Produk seperti nira kurma mentah juga pernah dikaitkan dengan kasus infeksi.
Virus Nipah dapat menyebar melalui kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi, terutama saat pasien mengalami gejala berat yang menghasilkan banyak cairan tubuh. Risiko penularan meningkat di lingkungan rumah sakit dan dalam perawatan keluarga.
Perubahan lingkungan turut berperan dalam penyebaran virus. Penebangan hutan dan hilangnya habitat alami mendorong kelelawar berpindah lebih dekat ke pemukiman manusia dan area peternakan. Kondisi ini meningkatkan peluang perpindahan virus dari satwa liar ke hewan ternak, lalu ke manusia.
Gejala awal ketika seseorang terjangkit virus Nipah sering menyerupai penyakit flu atau infeksi virus lain, sehingga sulit dikenali pada tahap awal. Masa inkubasi virus Nipah umumnya berkisar antara 4 hingga 14 hari. Namun, dalam beberapa kasus, masa inkubasi dapat berlangsung lebih lama hingga lebih dari satu bulan.
Gejala awal yang umum meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, sakit tenggorokan, dan batuk. Sebagian pasien juga mengalami kelelahan, pusing, dan gangguan ringan pada sistem pernapasan.
Pada fase lanjutan, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat seperti pneumonia dan sindrom gangguan pernapasan akut. Pasien dapat mengalami sesak napas yang membutuhkan perawatan intensif.
Virus Nipah juga dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak. Gejala ensefalitis meliputi kantuk berlebihan, penurunan kesadaran, disorientasi, sulit berkonsentrasi, serta perubahan perilaku dan suasana hati.
Dalam kasus yang lebih parah, pasien dapat mengalami kejang dan koma dalam waktu singkat. Kondisi ini dapat berkembang dengan cepat dalam 24 hingga 48 jam setelah munculnya gejala neurologis.
Sebagian pasien dapat pulih sepenuhnya setelah menjalani perawatan. Namun, beberapa orang mengalami gangguan saraf jangka panjang seperti gangguan memori, kesulitan berkonsentrasi, dan perubahan perilaku. Selain itu, terdapat laporan kasus kambuh pada pasien yang sebelumnya dinyatakan sembuh.
Virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi dibandingkan banyak penyakit menular lainnya. Diperkirakan sekitar 40 persen hingga 75 persen pasien yang terinfeksi dapat meninggal dunia. Tingginya angka kematian menjadikan virus ini sebagai salah satu patogen paling berbahaya di kawasan Asia.
Risiko kematian dapat meningkat pada pasien dengan gejala berat, terutama yang mengalami gangguan pernapasan dan ensefalitis. Keterlambatan diagnosis dan keterbatasan fasilitas medis juga dapat memperburuk kondisi pasien.
Selain dampak pada kesehatan manusia, wabah virus Nipah juga berdampak besar pada sektor ekonomi. Infeksi pada hewan ternak seperti babi dapat menyebabkan kematian massal, pembatasan perdagangan, serta kerugian besar bagi peternak dan industri pangan.
Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin untuk mencegah infeksi virus Nipah. Penanganan pasien masih berfokus pada perawatan untuk mengurangi komplikasi dan menjaga fungsi organ vital.
Perawatan meliputi pemantauan ketat kondisi pasien, pemberian cairan, dukungan pernapasan, serta penanganan komplikasi neurologis. Pasien dengan gejala berat sering membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Pencegahan terhadap penyakit virus Nipah dapat dilakukan dengan pengendalian faktor risiko. Berikut adalah cara pencegahan dari penularan virus Nipah sebagaimana yang dipaparkan oleh Kemenkes RI :
Pada rentang 1 Januari hingga 29 Agustus 2025, National Focal Point IHR Bangladesh melaporkan kepada WHO bahwa terdapat empat kasus infeksi virus Nipah yang berujung kematian di negara tersebut. Keempat kasus tersebut terjadi pada waktu yang berbeda dan berasal dari empat distrik terpisah di tiga divisi wilayah Bangladesh, yaitu Barisal, Dhaka, dan Rajshahi.
Sementara itu, India melaporkan adanya dua tenaga kesehatan yang terinfeksi virus Nipah di Rumah Sakit Spesialisasi Narayana, sebuah rumah sakit swasta yang berlokasi di Barasat, Bengal Barat. Berdasarkan penyelidikan awal, salah satu perawat dilaporkan berada dalam kondisi koma. Keduanya diketahui sempat bekerja bersama dalam rentang waktu 28 hingga 30 Desember 2025.
Pada periode 31 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, kedua perawat tersebut mulai mengalami gejala seperti demam dan sesak napas. Diduga, penularan terjadi saat mereka merawat seorang pasien dengan gangguan pernapasan berat, yang kemudian meninggal dunia sebelum sempat menjalani pemeriksaan laboratorium.
Demikian ulasan lengkap mengenai pengertian virus Nipah beserta gejala, resiko penularan, angka kematian kasus hingga cara pencegahannya. Semoga bermanfaat!
Apa Itu Virus Nipah?
1. Tingkat Kematian Tinggi
2. Berasal dari Kelelawar
3. Gejala Beragam
4. Belum Ada Obat
5. Terjadi di Beberapa Negara di Asia
Sejarah dan Penyebaran Virus Nipah di Asia
Cara Penularan Virus Nipah
1. Kontak dengan Hewan
2. Makanan yang Terkontaminasi
3. Penularan Antar Manusia
Gejala Infeksi Virus Nipah
Tingkat Kematian Virus Nipah
Pengobatan Virus Nipah
Cara Mencegah Penularan Virus Nipah
Kasus Terbaru Virus Nipah di Bangladesh dan India
Gejala awal ketika seseorang terjangkit virus Nipah sering menyerupai penyakit flu atau infeksi virus lain, sehingga sulit dikenali pada tahap awal. Masa inkubasi virus Nipah umumnya berkisar antara 4 hingga 14 hari. Namun, dalam beberapa kasus, masa inkubasi dapat berlangsung lebih lama hingga lebih dari satu bulan.
Gejala awal yang umum meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, sakit tenggorokan, dan batuk. Sebagian pasien juga mengalami kelelahan, pusing, dan gangguan ringan pada sistem pernapasan.
Pada fase lanjutan, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat seperti pneumonia dan sindrom gangguan pernapasan akut. Pasien dapat mengalami sesak napas yang membutuhkan perawatan intensif.
Virus Nipah juga dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak. Gejala ensefalitis meliputi kantuk berlebihan, penurunan kesadaran, disorientasi, sulit berkonsentrasi, serta perubahan perilaku dan suasana hati.
Dalam kasus yang lebih parah, pasien dapat mengalami kejang dan koma dalam waktu singkat. Kondisi ini dapat berkembang dengan cepat dalam 24 hingga 48 jam setelah munculnya gejala neurologis.
Sebagian pasien dapat pulih sepenuhnya setelah menjalani perawatan. Namun, beberapa orang mengalami gangguan saraf jangka panjang seperti gangguan memori, kesulitan berkonsentrasi, dan perubahan perilaku. Selain itu, terdapat laporan kasus kambuh pada pasien yang sebelumnya dinyatakan sembuh.
Virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi dibandingkan banyak penyakit menular lainnya. Diperkirakan sekitar 40 persen hingga 75 persen pasien yang terinfeksi dapat meninggal dunia. Tingginya angka kematian menjadikan virus ini sebagai salah satu patogen paling berbahaya di kawasan Asia.
Risiko kematian dapat meningkat pada pasien dengan gejala berat, terutama yang mengalami gangguan pernapasan dan ensefalitis. Keterlambatan diagnosis dan keterbatasan fasilitas medis juga dapat memperburuk kondisi pasien.
Selain dampak pada kesehatan manusia, wabah virus Nipah juga berdampak besar pada sektor ekonomi. Infeksi pada hewan ternak seperti babi dapat menyebabkan kematian massal, pembatasan perdagangan, serta kerugian besar bagi peternak dan industri pangan.
Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin untuk mencegah infeksi virus Nipah. Penanganan pasien masih berfokus pada perawatan untuk mengurangi komplikasi dan menjaga fungsi organ vital.
Perawatan meliputi pemantauan ketat kondisi pasien, pemberian cairan, dukungan pernapasan, serta penanganan komplikasi neurologis. Pasien dengan gejala berat sering membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Pencegahan terhadap penyakit virus Nipah dapat dilakukan dengan pengendalian faktor risiko. Berikut adalah cara pencegahan dari penularan virus Nipah sebagaimana yang dipaparkan oleh Kemenkes RI :
Pada rentang 1 Januari hingga 29 Agustus 2025, National Focal Point IHR Bangladesh melaporkan kepada WHO bahwa terdapat empat kasus infeksi virus Nipah yang berujung kematian di negara tersebut. Keempat kasus tersebut terjadi pada waktu yang berbeda dan berasal dari empat distrik terpisah di tiga divisi wilayah Bangladesh, yaitu Barisal, Dhaka, dan Rajshahi.
Sementara itu, India melaporkan adanya dua tenaga kesehatan yang terinfeksi virus Nipah di Rumah Sakit Spesialisasi Narayana, sebuah rumah sakit swasta yang berlokasi di Barasat, Bengal Barat. Berdasarkan penyelidikan awal, salah satu perawat dilaporkan berada dalam kondisi koma. Keduanya diketahui sempat bekerja bersama dalam rentang waktu 28 hingga 30 Desember 2025.
Pada periode 31 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, kedua perawat tersebut mulai mengalami gejala seperti demam dan sesak napas. Diduga, penularan terjadi saat mereka merawat seorang pasien dengan gangguan pernapasan berat, yang kemudian meninggal dunia sebelum sempat menjalani pemeriksaan laboratorium.
Demikian ulasan lengkap mengenai pengertian virus Nipah beserta gejala, resiko penularan, angka kematian kasus hingga cara pencegahannya. Semoga bermanfaat!







