Dalam kehidupan, kita pasti pernah merasakan dimana ada suatu ingatan yang terasa begitu jelas dan meyakinkan, namun ketika mengecek ulang kebenarannya ternyata berbeda dari yang kita yakini.
Salah satu contohnya adalah ketika banyak orang meyakini bahwa karakter Mickey Mouse memakai suspender pada celananya. Namun, jika diperhatikan dengan seksama, karakter Disney tersebut tidak pernah mengenakan suspender sama sekali.
Fenomena ketika ingatan terasa nyata dan diyakini bersama-sama namun bertentangan dengan fakta ini dikenal sebagai “Mandela Effect” atau “Efek Mandela”.
Efek Mandela merupakan sebuah istilah yang ramai sejak beberapa tahun terakhir, bukan hanya populer di media sosial, tetapi juga dalam kajian psikologi kognitif dan ilmu saraf.
Fenomena ini merupakan keadaan dimana sekelompok orang memiliki ingatan yang sama terhadap suatu peristiwa, detail, atau fakta, padalah ingatan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan objektif. Ingatan ini terasa sangat meyakinkan, bahkan sulit digoyahkan, meski bukti faktual menunjukkan sebaliknya.
Secara ilmiah, Efek Mandela dapat dijelaskan melalui cara kerja memori manusia yang bersifat rekonstruktif, bukan sebagai rekaman peristiwa yang utuh. Dimana ingatan dibangun ulang setiap kali diingat, sehingga rentan mengalami distorsi.
Ketika detail tertentu terlupakan, otak akan mengisinya dengan informasi yang terasa logis berdasarkan pengalaman, kebiasaan visual, atau pola yang sudah dikenal. Selain itu, terdapat juga penjelasan mengenai konsep “pemusnahan memori” atau “confabulation”.
Otak akan mencampur adukkan atau membuat ingatan palsu sebagai upaya mengisi celah dalam memori. Konsep ini menunjukan bahwa ingatan dapat terbentuk atau berubah akibat sugesti dan pengulangan informasi.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2009 oleh Fiona Broome yang merupakan seorang peneliti dan penulis asal Amerika Serikat. Berawal dari pengalaman pribadi Broome ketika berada di sebuah konferensi, dimana ia terlibat percakapan santai mengenai tokoh dunia.
Dalam diskusi tersebut, ia menyadari bahwa dirinya dan orang lain memiliki ingatan yang sama mengenai Nelson Mandela yang meninggal dunia dalam penjara pada tahun 1980-an. Ia mengingat dengan jelas adanya liputan berita internasional yang menayangkan suasana berkabung, bahkan pidato penghormatan kematian Nelson Mandela.
Dalam diskusi tersebut, banyak orang yang sama-sama mengingat peristiwa tersebut dengan detail serupa. Namun, kebingungan mulai muncul ketika fakta sejarah menunjukan bahwa Nelson Mandela tidak mati di dalam penjara. Mandela dibebaskan pada tahun 1990, kemudian terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan pada 1994, dan wafat secara resmi pada 5 Desember 2013.
Perbedaan tajam antara ingatan kolektif dan catatan sejarah inilah yang memicu rasa ingin tahu Broome. Setelah konferensi, Broome menuliskan pengalaman tersebut di situs pribadinya dan di berbagai forum internet. Ia menyebut fenomena ini sebagai “Mandela Effect” karena merujuk pada kasus Mandela sebagai contoh kuat dari ingatan keliru yang diyakini banyak orang.
Menariknya, semakin banyak orang yang membaca tulisan Broome, semakin banyak pula yang mengaku memiliki pengalaman serupa. Mereka menyadari bahwa ingatan tertentu, mulai dari film, logo, hingga peristiwa sejarah ternyata tidak sesuai dengan fakta.
1. Ingatan Manusia Tidak Bersifat Rekaman
Dalam dunia psikologi, ingatan manusia bukanlah rekaman video yang statis, melainkan rekonstruksi yang dapat berubah seiring waktu. Ingatan sangat mudah dipengaruhi oleh informasi baru, sugesti, dan konteks sosial.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
2. Skema dan Pola Pikir
Otak manusia cenderung mengisi kekosongan informasi dengan pola yang dianggap lebih masuk akal.
3. Pengaruh Sosial dan Memori Kolektif
Ketika suatu ingatan keliru dibagikan dan diperkuat oleh banyak orang, ingatan tersebut akan terasa semakin valid.
4. Kesamaan Visual dan Bahasa
Efek Mandela juga kerap muncul akibat adanya kemiripan kata, logo, atau bentuk visual. Otak menyederhanakan informasi agar mudah diproses, tetapi penyederhanaan ini kadang menghasilkan distorsi.
Logo dan Budaya Pop
– Pikachu: Banyak orang mengingat Pikachu memiliki ujung ekor berwarna hitam, padahal tidak pernah ada.
– Fruit of the Loom: Orang-orang mengingat logonya memiliki keranjang buah (corncopia), faktanya tidak pernah ada keranjang yang digunakan.
Kutipan Film dan Lagu
– Snow White: Kalimat yang diingat adalah “Mirror, mirror on the wall” padahal sebenarnya adalah “Magic mirror on the wall”.
– Lagu Bintang Kecil: lirik aslinya adalah “Bintang kecil di langit yang tinggi” bukan “Bintang kecil di langit yang biru”.
Di ranah populer, Efek Mandela seringkali dikaitkan dengan teori Paralel Universe atau realitas alternatif. Namun, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukan klaim tersebut.
Para peneliti dari pendekatan neuroscience dan psikologi sepakat bahwa Efek Mandela lebih tepat dijelaskan melalui mekanisme kognitif, bukan fenomena fisika kuantum.
Di era digital ini, informasi menyebar dengan sangat cepat. Konten visual, potongan video, dan narasi viral berpotensi memperkuat ingatan keliru secara massal. Hal ini menunjukan kerentanan ingatan manusia terhadap pengaruh eksternal.
Efek Mandela menjadi pengingat penting bahwa keyakinan bersama tidak membuat sesuatu menjadi fakta dan sebagai tolak ukur sejauh mana ingatan kita bisa di percaya. Untuk itu kita perlu lebih kritis terhadap informasi yang diterima untuk mengantisipasi disinformasi dan penyebaran berita palsu di era digital ini.






