Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis 62 temuan kasus varian influenza ‘Subclade K’ yang dikenal juga sebagai ‘Super Flu’ sejak Agustus 2025. Kasus terjadi di 8 provinsi, dan paling banyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan hingga Jawa Barat.
Kota Bandung sendiri, mulai mengantisipasi terjadinya kasus ‘Super Flu’. Salah satu puskesmas telah ditunjuk menjadi tempat sentinel ILI (Influenza Like Ilness) untuk pengambilan sampel pasien yang diduga terpapar.
“Jadi begini, kalau virus influenza itu dikenal dengan rajanya mutasi. Jadi mutasi pada virus influenza itu sangat mudah terjadi perubahannya. Kota Bandung memang memang menjadi tempat sentinel influenza like illness, itu merupakan program dari Kementerian Kesehatan,” kata Kadinkes Kota Bandung Sony Ahmad, Jumat (2/1/2026).
“Kota Bandung ada salah satu puskesmas, jadi setiap waktu tertentu kami ditugaskan untuk melakukan pengambilan sampel dari pasien-pasien yang diduga influenza. Kemudian sampel itu dikirim ke Kementerian Kesehatan, di Kementerian Kesehatan diperiksa dengan alat yang canggih, kemudian di-feedback-an,” ungkapnya menambahkan.
Berdasarkan informasi sementara, ia memastikan belum ada temuan varian kasus ‘Super Flu’ di Kota Bandung. Selain itu kata Sony, Kemenkes juga sudah menunjuk tempat lain di Jawa Barat untuk pengumpulan sampel pasien yang terindikasi terpapar kasus tersebut.
“Untuk virus Super Flu ini belum ada feedback dari Kementerian Kesehatan. Nah jadi kalau di Jawa Barat, mungkin Kementerian Kesehatan menunjuk tempat-tempat lain, kemudian juga ada feedback-nya ke tempat lain tersebut, saya enggak tahu ya di kabupaten/kota mana. Tqpi Kota Bandung belum terinformasikan, bahwa orang-orang yang flu di kota Bandung itu bahwa strain virusnya adalah Super Flu,” tuturnya.
“Jadi terindikasi superflu tidak ada, peningkatan datar saja (seperti) penyakit influenza mah,” tegasnya.
Meski demikian, Sony menyatakan Kota Bandung tetap mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus varian ‘Super Flu’ di Kota Bandung. Salah satu upaya yang digencarkan adalah promosi hidup bersih dan sehat ke masyarakat supaya bisa mencegah kemunculan varian tersebut.
“Ya, kita senantiasa promosi ya, promosi hidup bersih dan sehat. Bagaimana makan makanan yang teratur, kemudian olahraga. Kemudian karena memang ini adalah virus flu ya, kalau bersin maupun batuk itu harus ditutup, istirahat juga yang cukup. Itu merupakan bagian dari upaya pencegahan penurunan penyakit influenza tersebut,” bebernta.
“Kemudian juga minum yang banyak, cuci tangan sebelum makan atau kita setelah melakukan kegiatan salaman atau bersentuhan dengan yang sakit kita cuci tangan pakai sabun itu yang lebih efektif,” pungkasnya.
“Untuk virus Super Flu ini belum ada feedback dari Kementerian Kesehatan. Nah jadi kalau di Jawa Barat, mungkin Kementerian Kesehatan menunjuk tempat-tempat lain, kemudian juga ada feedback-nya ke tempat lain tersebut, saya enggak tahu ya di kabupaten/kota mana. Tqpi Kota Bandung belum terinformasikan, bahwa orang-orang yang flu di kota Bandung itu bahwa strain virusnya adalah Super Flu,” tuturnya.
“Jadi terindikasi superflu tidak ada, peningkatan datar saja (seperti) penyakit influenza mah,” tegasnya.
Meski demikian, Sony menyatakan Kota Bandung tetap mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus varian ‘Super Flu’ di Kota Bandung. Salah satu upaya yang digencarkan adalah promosi hidup bersih dan sehat ke masyarakat supaya bisa mencegah kemunculan varian tersebut.
“Ya, kita senantiasa promosi ya, promosi hidup bersih dan sehat. Bagaimana makan makanan yang teratur, kemudian olahraga. Kemudian karena memang ini adalah virus flu ya, kalau bersin maupun batuk itu harus ditutup, istirahat juga yang cukup. Itu merupakan bagian dari upaya pencegahan penurunan penyakit influenza tersebut,” bebernta.
“Kemudian juga minum yang banyak, cuci tangan sebelum makan atau kita setelah melakukan kegiatan salaman atau bersentuhan dengan yang sakit kita cuci tangan pakai sabun itu yang lebih efektif,” pungkasnya.







