Duka Ade Tata Kehilangan 7 Anggota Keluarga di Longsor Cisarua

Posted on

Memasuki hari keempat pascabencana longsor di Cisarua, Selasa (27/1/2026), aparat gabungan masih terus melakukan pencarian korban. Di sisi lain, warga tak henti berdoa sembari menanti kabar sanak saudara mereka yang hilang.

Jumlah pengungsi terus meningkat hingga memadati titik-titik penampungan. Rasa cemas menyelimuti warga yang menanti kepastian nasib anggota keluarga yang belum ditemukan, salah satunya dirasakan oleh Ade Tata.

Ade merupakan warga RW 11 yang kini mengungsi di Kecamatan Cisarua. Pria ini kehilangan anggota keluarganya setelah menyaksikan langsung kengerian longsor yang terjadi pada tengah malam tersebut.

“Kejadiannya mulai pukul 02.00 dan mulai terasa (getarannya) pada 03.00 WIB. Ketika longsor, rumah yang sejajar dengan rumah saya rata dengan tanah. Waktu itu tiba-tiba listrik padam dan sinyal internet hilang,” ungkap Ade.

Ia menuturkan, bencana dahsyat itu terjadi saat dini hari di luar perkiraannya. Dalam sekejap, rumah-rumah di hadapannya lenyap tertimbun tanah.

“Hilang, semua keluarga saya hilang. Harta benda, rumah, dan nyawa ikut melayang. Ada juga rumah yang tertimpa pohon hingga penghuninya meninggal dunia,” ujar Ade.

Saat ini Ade harus bertahan seorang diri di pengungsian. Dengan suara berat, ia menceritakan kehilangan tiga anak dan empat saudaranya yang hingga kini belum ditemukan akibat terjangan material longsor.

“Dari deretan rumah saya, yang selamat hanya enam orang. Keluarga saya yang hilang ada tiga anak dan empat adik saya,” ungkap Ade.

Bencana ini menjadi pukulan telak bagi Ade. Pemukiman dan perkebunan warga kini berubah menjadi hamparan tanah liat. Berdasarkan pengamatannya, terdapat dua wilayah yang terdampak paling parah, yakni RW 10 dan RW 11.

Meski diliputi duka mendalam, ia tetap bersyukur dapat selamat dan mendapat bantuan logistik yang cukup di pengungsian. Lantaran tertimbun sangat dalam, hingga kini baru sebagian struktur rumahnya yang berhasil digali petugas.

“Saya sudah empat hari di sini. Kalau untuk makan dan minum, alhamdulillah terpenuhi. Sempat ada keluarga jauh yang datang menanyakan kabar. Hampir semua pemukiman terkena dampak, hanya tersisa kebun di pinggiran,” tuturnya.

Sebagai warga setempat, ia paham betul betapa dahsyatnya bencana tersebut. Ade juga menyaksikan warga lain yang menderita luka-luka akibat tertusuk material bangunan saat mencoba menyelamatkan diri.

Meski kondisi fisiknya sehat, Ade Tata tak mampu menyembunyikan duka mendalam akibat kehilangan keluarga dan tempat tinggal dalam tragedi longsor tersebut.