Untuk pertama kalinya setelah penetapan resmi hari jadi pada 11 Februari 1840, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka akan memperingati Hari Jadi ke-186 Kabupaten Majalengka. Pemerintah kini mulai mematangkan persiapan peringatan tersebut.
Salah satu agenda utama dalam rangkaian peringatan tersebut adalah ziarah dan doa bersama ke makam para bupati terdahulu. Persiapan itu dibahas dalam rapat pimpinan (rapim) khusus yang dipimpin langsung Bupati Majalengka Eman Suherman bersama jajarannya.
“Alhamdulillah hari ini kita mengumpulkan para eksekutif termasuk Forkopimda untuk melakukan rapim khusus. Agenda kita mendesak karena tanggal 11 Februari harus melaksanakan ulang tahun Majalengka, sehingga hari ini khusus membahas persiapan hari jadi,” kata Eman kepada infoJabar, Kamis (22/1/2026).
Eman memastikan, peringatan Hari Jadi Kabupaten Majalengka tahun ini akan berlangsung meriah, dan efisien.
“Meriah itu bukan berarti kegiatannya wah. Ukurannya adalah kehadiran masyarakat, banyak yang tahu, banyak yang ikut serta dan mendukung. Itu yang saya maksud meriah,” ujarnya.
Sementara konsep sederhana diterapkan dari sisi anggaran maupun bentuk kegiatan, tanpa mengurangi makna peringatan hari jadi. “Sederhana dari segi biaya dan kegiatannya juga tidak terlalu ‘rongkah’ (atau tidak terlalu glamor). Tapi tetap efektif dan efisien, baik dari sisi waktu maupun biaya,” jelasnya.
Dalam rangkaian kegiatan, puncak peringatan akan digelar pada 11 Februari. Sementara pada 10 Februari, Pemkab Majalengka berencana menggelar doa bersama dan ziarah ke makam para bupati terdahulu di TPU Girilawungan.
“Di Girilawungan itu ada makam bupati pertama sampai bupati ketujuh, semuanya sudah terdeteksi. Kita akan datang bersama-sama untuk berdoa,” tutur Eman.
Ia berharap kegiatan ziarah tersebut terbuka dan dihadiri masyarakat luas sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu. “Biar meriah itu dengan kehadiran. Datang ke makam, kita berdoa bersama. Bagi saya ukuran meriahnya adalah ketika masyarakat hadir dan mendoakan para bupati yang sudah terdahulu,” ucapnya.
Selain ziarah ke makam para bupati di Girilawungan, Eman juga menyebut akan tetap melakukan ziarah ke tokoh-tokoh yang selama ini hidup dalam cerita rakyat Majalengka.
“Cerita rakyat zaman dulu tetap harus kita hargai. Saya nanti juga akan ziarah ke sana (Makam Pangeran Muhamad), terus ke Makam Mbah Badori, lalu kita berangkat bersama-sama dari Pendopo, jalan kaki, pakai putih-putih ke sana (Gililawungan),” paparnya.
Sementara itu, Eman menyampaikan, perubahan hari jadi daerah berjuluk ‘Kota Angin’ ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan kajian empiris dan akademis, Kabupaten Majalengka resmi berdiri pada 11 Februari 1840.
“Ini tercatat di Besluit dan Arsip Nasional. Kabupaten Majalengka berdiri tanggal 11 Februari 1840, dengan bupati pertama Raden Aria Adipati Kertadiningrat,” ungkapnya.
Dengan dasar tersebut, tahun ini Kabupaten Majalengka memperingati hari jadi ke-186. Perhitungan ini berbeda dengan versi lama yang menyebut usia Majalengka ke-534 tahun.
“Setelah ada kajian mendalam atas permintaan semua pihak dan dikaji secara empiris dan akademis, disimpulkan bahwa Majalengka berdiri tahun 1840. Ini berdasarkan fakta, bukan lagi cerita,” pungkasnya.
Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.







