Tak hanya rutin mendonorkan darah, Jemaat Ahmadiyah Manislor juga dikenal gencar mendaftarkan diri sebagai calon pendonor kornea mata. Hingga kini, ribuan anggota komunitas tersebut telah terdaftar sebagai calon pendonor di Bank Mata.
Salah satu pendonor tersebut adalah Salma (21), warga Jemaat Ahmadiyah Manislor. Salma mengaku sengaja mendaftarkan diri karena termotivasi oleh keluarga dan jemaat lain yang telah lebih dulu menjadi pendonor.
“Saya terinspirasi oleh keluarga, mulai dari abah, mamah, hingga kakak dan adik. Sangat terharu melihat proses kornea mata diberikan kepada yang membutuhkan,” tutur Salma, Rabu (21/1/2025).
Karena pengambilan kornea dilakukan setelah pendonor wafat, Salma tak merasa khawatir. Ia justru bangga karena satu kornea mata yang didonorkan kabarnya bisa membantu hingga lima penerima.
“Rasa khawatir itu tidak ada karena dilakukan setelah meninggal. Awalnya sempat ragu karena mata saya minus, tapi ternyata tetap bisa didonorkan. Kecuali jika memiliki penyakit tertentu seperti hepatitis B. Sekarang, satu kornea bisa untuk lima penerima, artinya dua kornea bisa membantu 10 orang,” jelas Salma.
Melalui donor kornea ini, Salma ingin tetap bermanfaat bagi sesama meski telah tiada. Ia berharap langkahnya dapat memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas netra untuk melihat indahnya dunia.
“Saya ingin memberi kesempatan bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan agar bisa melihat dunia dengan jelas. Alasannya sederhana, saya ingin berguna bagi orang lain, sejak hidup hingga setelah meninggal dunia nanti,” ungkapnya.
Leni Haryani (43), bidan sekaligus tenaga eksisi tersertifikasi di Bank Mata Kuningan, menyebut gerakan donor mata ini didukung penuh oleh jemaat. Sejak 2015, sebanyak 123 jemaat Ahmadiyah Manislor telah mendonorkan kornea matanya melalui Bank Mata.
“Baru-baru ini ada delapan jemaat yang mendonorkan kornea matanya. Secara total, sejak program ini berjalan di Manislor, sudah ada 123 jemaat yang mendonorkan kornea,” kata Leni.
Leni memaparkan, dari 3.500 anggota jemaat, lebih dari 2.100 orang telah terdaftar sebagai calon pendonor. Saat ini, Bank Mata Kuningan memiliki tujuh tenaga eksisi yang bertugas mengambil jaringan kornea dari pendonor yang telah wafat untuk ditransplantasikan kepada pasien kebutaan.
“Pendaftar terdiri dari 1.015 perempuan, 900 laki-laki, dan 200 anak-anak. Dari tujuh tenaga eksisi yang ada, tiga di antaranya berasal dari jemaat Ahmadiyah Manislor, termasuk Bapak Rusdi yang merupakan Kepala Desa Manislor sekaligus Kepala Bank Mata Kuningan,” tambah Leni.
Sebelum pengambilan jaringan, tenaga eksisi akan memeriksa riwayat penyakit pendonor. Jika pendonor mengidap penyakit menular seperti HIV, proses eksisi tidak dapat dilakukan. Proses pengambilan kornea ini sendiri tergolong cepat, hanya memakan waktu sekitar 30 menit.
Berkat tingginya antusiasme tersebut, Desa Manislor memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pada 2017. Desa di Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan ini dinobatkan sebagai desa dengan penduduk pendonor kornea mata terbanyak secara berkesinambungan.
Juru Bicara Ahmadiyah Manislor, Agus Mulyana, menyebut keinginan untuk tetap bermanfaat bagi sesama menjadi dorongan utama banyaknya jemaat yang bersedia mendonorkan kornea mata.
“Donor dilakukan saat seseorang meninggal dunia. Setiap ada jemaat yang wafat, hampir selalu ada yang mendonorkan matanya untuk siapa saja yang membutuhkan, tidak terbatas bagi warga Ahmadiyah. Tujuannya murni kemanusiaan, agar hidup kita memberi manfaat bagi orang lain,” pungkas Agus.







