Di sudut Kota Bandung yang selalu haus akan inovasi, sebuah bangunan berdiri dengan karakter kuat. Industrial, minimalis, namun memancarkan kesan eksklusif. Dinding-dinding beton karya arsitek Andra Matin ini bukan sekadar pameran estetika arsitektur, melainkan rumah bagi rekam jejak maestro seni lukis Indonesia almarhum Srihadi Soedarsono.
Sejak dibuka pada akhir Juni 2025 lalu, Museum Srihadi Soedarsono telah menjadi magnet baru. Bukan hanya bagi para kolektor atau praktisi seni, tetapi juga bagi Generasi Z yang datang dengan kamera dan rasa penasaran.
Museum ini adalah wujud cinta dan dedikasi. Awalnya, sang maestro merencanakannya sebagai museum pribadi. Namun, setelah beliau wafat, pihak keluarga memutuskan untuk melanjutkan pengelolaannya agar bisa dinikmati publik.
“Ini memang museum khusus untuk Pak Srihadi Soedarsono. Semua karyanya didedikasikan untuk beliau,” ujar Astrid selaku pengelola Museum Srihadi Soedarsono saat berbincang dengan infoJabar.
Saat ini, sekitar 40 karya pilihan dipajang untuk menyapa pengunjung di ruang pamer.
Meski baru beroperasi sekitar tujuh bulan, museum ini telah menemukan tempat di hati warga Bandung. Astrid mengakui pembukaan museum ini sangat tepat di tengah kondisi masyarakat yang membutuhkan hiburan baru yang berkualitas.
“Orang Bandung dan wisatawan sebenarnya membutuhkan tempat-tempat baru. Kami buka saat orang-orang sedang mencari hiburan. Untuk museum pribadi di Bandung yang bisa didatangi umum saat ini, mungkin hanya kami yang masih beroperasi,” jelas Astrid.
Bagi banyak anak muda, arsitektur gedung menjadi daya tarik utama. Sentuhan tangan dingin Andra Matin menciptakan ruang yang sangat Instagrammable.
“Banyak Generasi Z datang karena melihat estetika bangunannya. Desain industrial, minimalis, tapi eksklusif. Itu yang menarik untuk dijadikan konten. Tapi setelah masuk, barulah mereka melihat dan mengenal karya-karya Pak Sri,” tambah Astrid.
Astrid mengatakan museum ini tidak eksklusif hanya untuk kalangan tertentu. Visinya adalah merangkul semua orang, baik yang sudah mengenal sosok Pak Srihadi sebagai dosen ITB maupun mereka yang awam.
“Sebetulnya kita berharap museum ini bisa cocok untuk semua orang. Makanya sejauh ini, selain content creator, banyak praktisi seni, arsitektur, desain, hingga kolektor ke sini. Kami ingin semua orang bisa menikmati tempat ini dengan sudut pandang masing-masing,” jelas Astrid.
Menurutnya, museum ini berfungsi mengubah cara pandang seseorang terhadap seni. “Seni itu sebetulnya tidak mengenal kasta. Kebanyakan orang berpikir museum lukisan hanya untuk orang yang belajar seni saja, padahal tidak. Asal kita mau membuka diri, pasti bisa menikmatinya,” tuturnya.
Di museum ini, pengunjung disuguhi berbagai media, mulai dari cat minyak, cat air, hingga sketsa. Astrid sendiri memiliki kecintaan khusus pada koleksi sketsa Pak Srihadi dari tahun 1947-1948, saat sang maestro masih remaja.
“Orang banyak tahu Pak Srihadi dari lukisan cat minyak yang besar-besar. Tapi sebetulnya, kalau mau lihat karakter beliau, lihatlah dari sketsanya. Beliau kalau membuat sketsa sangat detail dan orang pasti tahu maksudnya apa,” ungkap Astrid.
Menurut Astrid, penting untuk melihat ke belakang sebelum mengejar tren yang bergerak sangat cepat. “Kita tidak boleh melupakan masa lalu. Tren itu berubah cepat, tapi sebelum ada tren, ada cerita sebelumnya. Kalau ingin tahu cerita seni rupa, lihatlah ke belakang. Jangan lupakan yang dulu,” pesan Astrid menutup perbincangan.
Museum Srihadi Soedarsono berdiri bukan hanya sebagai galeri, melainkan jembatan edukasi yang membuktikan bahwa seni bisa dinikmati dengan cara yang estetik.
Hal ini dialami oleh Nanda (21), salah satu pengunjung yang terpukau dengan suasana museum. Bagi Nanda, tempat ini adalah pelarian yang sejuk dan terjangkau.
“Adem banget, sih. Awalnya kepikiran museum bakal panas karena banyak lampu, ternyata di sini justru nyaman. Apalagi buat yang senang ‘ngonten’, cocok banget,” katanya kepada infoJabar.
Nanda sebagai pengunjung awam jatuh cinta pada aspek visual. “Aku suka yang bercorak, warna-warnanya menarik banget. Itu yang pertama kali bikin aku tertarik pas lihat,” ujar Nanda.
Warisan yang Terus Bernapas
Estetika yang Jadi Pintu Masuk








