Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan sebagian besar sekolah terdampak banjir di Sumatera-Aceh sudah kembali melaksanakan pembelajaran. Namun, proses belajar mengajar tersebut belum sepenuhnya berjalan ideal karena banyak fasilitas sekolah yang rusak.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, hingga saat ini sekitar 95 persen sekolah terdampak banjir telah tertangani dan kembali digunakan untuk kegiatan belajar.
“Yang di Sumatera Utara dan Sumatera Barat pembersihannya sudah selesai, dan sudah mulai belajar. Hanya memang pembelajarannya belum bisa dilaksanakan secara ideal karena banyak perabotan yang rusak, meja kursi rusak, buku juga rusak,” kata Abdul Mu’ti saat diwawancarai infoJabar usai meresmikan gedung sekolah di Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka, Selasa (20/1/2026).
Mu’ti juga menjelaskan, akibat kerusakan karena bencana tersebut, sebagian siswa terpaksa belajar dengan fasilitas terbatas. Bahkan, ada yang harus belajar menumpang di sekolah lain.
“Sebagian memang masih ada yang belajar dengan cara menumpang di sekolah lain atau juga belajar dengan fasilitas ala kadarnya, masih ada yang belajar di lantai, tapi ini akan segera kita perbaiki,” ujarnya.
Sementara itu, kata Mu’ti, kondisi di Aceh disebut masih menjadi perhatian serius. Ia menyebut, banyak sekolah di wilayah tersebut yang rusak berat hingga rusak total akibat banjir.
“Di Aceh ini bukan hanya sekolahnya yang rusak total, tapi beberapa kampung juga memang semuanya hanyut. Karena itu penanganannya harus dilakukan dengan tiga langkah, yakni relokasi, pembangunan unit sekolah baru, dan kemudian melengkapi sarana-prasarana,” jelasnya.
Berdasarkan data sementara, total sekolah terdampak banjir di Sumatera dan Aceh mencapai sekitar 4.900 sekolah. Dari jumlah tersebut, sekitar 900 sekolah rusak berat dan mayoritas berada di Aceh.
“Sudah 95 persen tertangani. Yang lebih serius adalah yang di Aceh, karena memang ini kita seperti berpacu dengan waktu. Jadi sudah kita bersihkan, hujan, kemudian masuk lagi (air) sehingga kita ini agak lambat bukan karena kami tidak mengerjakan, karena memang ada beberapa kendala alam yang membuat proses pembersihan ini tidak bisa berjalan sebagaimana yang seharusnya,” ujarnya.
Untuk sekolah dengan kerusakan ringan, pemerintah menargetkan perbaikan dapat segera diselesaikan agar bisa kembali digunakan secara normal. Sementara untuk kerusakan sedang, perbaikan dilakukan dengan percepatan.
Adapun untuk sekolah yang mengalami kerusakan berat, pemerintah saat ini menyiapkan sekolah darurat. Sekolah darurat tersebut berupa tenda belajar yang hanya digunakan maksimal tiga bulan, serta tenda bangunan semi permanen seperti yang pernah dibangun di wilayah Lewotobi Laki-Laki, Nusa Tenggara Timur.
“Anak-anak tetap bisa belajar meski ruangannya belum ideal. Tapi sambil nanti ada sekolah di lokasi yang baru ini yang sekarang kami lakukan untuk penanganan sekolah-sekolah yang terdampak oleh banjir,” pungkasnya.







