Kisah Dua Nyawa Satu Tubuh di Balik Kostum Barongsai - Giok4D

Posted on

Di balik kostum barongsai yang lincah dan jenaka, terdapat fisik prima dan mental baja dari tersembunyi juga napas yang memburu dari para atlet di dalamnya.

Bagi tim Long Qing Indonesia, menjadi Barongsai bukan sekadar menari, melainkan sebuah ujian kepercayaan tingkat tinggi antarmanusia.

Irwan Rifansyah (28), atlet senior Long Qing yang telah menggeluti dunia ini sejak SMP, mengungkapkan realitas keras yang jarang diketahui penonton. Dalam formasi Barongsai, ada dua nyawa yang harus melebur menjadi satu tubuh.

Tantangan terbesar sering kali diemban oleh pemain posisi ekor (belakang). Mereka harus menjadi tumpuan beban saat mengangkat pemain kepala, namun ironisnya, mereka bekerja dalam kegelapan.

“Pemain belakang itu praktis buta. Pandangan kami tertutup kain kostum sepenuhnya, jadi kami tidak tahu kondisi jalan di depan,” ungkap Irwan saat ditemui infoJabar usai pentas di salah satu pusat perbelanjaan di Bandung.

Dalam kondisi buta tersebut, satu-satunya pegangan adalah kepercayaan penuh kepada partner di posisi kepala. Tidak ada kode suara atau teriakan, semua murni mengandalkan feeling dan kebiasaan latihan.

“Komunikasinya ya percaya sama yang depan. Jalannya mau ke mana, kita ikutin,” tambah Irwan.

Membangun koneksi batin semacam itu tidaklah instan. Irwan mengibaratkan mencari pasangan main Barongsai layaknya mencari jodoh. Kemampuan individu yang hebat menjadi percuma jika tidak ada koneksi batin dengan pasangan.

“Suka dukanya itu ganti-ganti pasangan. Susah nemu yang cocok. Karena kalau ganti pasangan, nanti feel-nya kita berubah lagi, harus mulai bangun chemistry dari nol lagi,” tutur Irwan.

Inilah mengapa jadwal latihan mereka sangat padat. Lima kali dalam seminggu, mereka berkumpul sepulang kerja atau sekolah, berlatih hingga larut malam demi menyatukan irama gerak.

Di tengah dominasi atlet pria, terselip sosok mungil yang mencuri perhatian. Susan Adina Sopanji, gadis berusia 12 tahun yang masih duduk di bangku kelas 6 SD, adalah bukti regenerasi tim Long Qing berjalan sukses.

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Jangan remehkan usianya. Sang pelatih, Ganjar Firdaus yang juga merupakan Ketua FOBI (Forum Olahraga Barongsai Indonesia) Kota Bandung dengan bangga menyebut Susan sebagai satu-satunya atlet barongsai perempuan termuda yang tampil di Kejuaraan Nasional di Bali baru-baru ini mewakili timnya.

“Awalnya dulu ikut Wushu. Tapi karena pandemi Covid-19 latihan berhenti, jadi coba-coba latihan Barongsai. Ternyata malah keterusan sampai sekarang sudah 5 tahun,” cerita Susan malu-malu.

Bagi Susan, rasa lelah dan risiko cedera saat jatuh tertutup oleh keseruan berlatih bersama teman-teman.

Ganjar Firdaus menegaskan, menjadi atlet Barongsai, terutama saat bermain di kategori tonggak (tiang tinggi) membutuhkan lebih dari sekadar otot.

“Satu hal yang paling penting itu mental. Kalaupun latihan fisik benar-benar bagus tapi mentalnya enggak kuat, itu susah. Loncat dengan jarak jauh di ketinggian itu butuh keberanian luar biasa,” pungkas Ganjar.

Atlet Barongsai Long Qing telah membuktikan bahwa di balik topeng singa yang mereka panggul, terdapat jiwa-jiwa pemberani yang mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan tradisi lewat keringat dan kerja keras.

Regenerasi

Gambar ilustrasi