Bahaya Makanan Bakaran Jika Dikonsumsi Berlebihan, Ini Risikonya update oleh Giok4D

Posted on

Makanan bakaran kerap menjadi favorit di tengah masyarakat. Aroma smoky yang khas memiliki daya tarik tersendiri dan mampu menggugah selera siapa pun yang menciumnya.

Seiring berkembangnya inovasi kuliner, banyak makanan yang awalnya diolah dengan cara digoreng atau dikukus kini bertransformasi menjadi versi bakar demi mendapatkan cita rasa yang lebih kuat. Mulai dari ikan bakar, ayam bakar, sate, hingga jajanan kekinian seperti bakso bakar, sosis bakar, dan dimsum bakar selalu menjadi incaran para pecinta kuliner.

Rasanya yang lezat dengan bumbu meresap membuat makanan bakaran sulit ditolak. Namun, di balik tekstur yang juicy dan bagian luar yang sedikit gosong, terdapat potensi bahaya bagi kesehatan, terutama jika dikonsumsi berlebihan atau diolah dengan cara yang kurang tepat.

Dilansir dari laman Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (Ners Unair), daging yang dibakar dapat mengandung senyawa kimia berbahaya berupa heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH).

HCA terbentuk dari reaksi antara asam amino, gula, dan kreatin dalam otot daging ketika terpapar suhu pembakaran yang sangat tinggi. Sementara itu, PAH terbentuk saat lemak dan cairan daging menetes ke bara api, menghasilkan asap yang kemudian menempel kembali pada permukaan makanan.

Kedua senyawa ini diketahui memiliki sifat mutagenik, yaitu dapat memicu perubahan pada DNA sel yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan serius.

Konsumsi makanan bakaran secara berlebihan, terutama pada bagian daging yang hangus, dapat meningkatkan paparan HCA dan PAH. Akumulasi zat karsinogen ini berpotensi merusak DNA sel dan meningkatkan risiko kanker.

Organ yang paling rentan terdampak adalah sistem pencernaan. Paparan jangka panjang terhadap senyawa hasil pembakaran dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus besar, lambung, hingga pankreas.

Makanan bakaran, khususnya yang terlalu gosong, dapat memicu keluhan pada penderita maag atau GERD. Bagian makanan yang hangus cenderung lebih sulit dicerna dan dapat mengiritasi dinding lambung.

Kondisi ini membuat lambung bekerja lebih keras dan memproduksi asam berlebih. Akibatnya, seseorang bisa mengalami nyeri ulu hati, perut kembung, hingga sensasi panas di dada setelah mengonsumsi makanan bakaran yang terlalu hangus atau pedas.

Risiko infeksi cacing sebenarnya bukan berasal langsung dari proses pembakaran, melainkan dari teknik memasak yang tidak sempurna. Beberapa makanan bakaran seperti sate atau steak sering dimasak cepat dengan suhu tinggi.

Akibatnya, bagian luar daging tampak matang atau gosong, sementara bagian dalamnya masih mentah atau setengah matang. Kondisi ini berbahaya karena larva cacing, seperti cacing pita, tidak mati jika daging tidak matang sempurna. Jika tertelan, larva dapat berkembang di dalam usus dan menimbulkan gangguan kesehatan serius.

Proses pembakaran dengan suhu tinggi dapat merusak kandungan gizi dalam makanan. Vitamin yang sensitif terhadap panas, seperti vitamin B kompleks dan vitamin C, dapat berkurang atau bahkan hilang.

Selain itu, protein pada daging yang dibakar terlalu lama hingga kering atau gosong akan mengalami perubahan struktur. Protein yang rusak menjadi lebih sulit dicerna dan diserap tubuh, sehingga manfaat gizinya tidak optimal.

Agar tetap bisa menikmati makanan bakaran dengan lebih aman, perhatikan beberapa tips berikut:

Menikmati kuliner memang sah-sah saja, asalkan dilakukan dengan bijak dan tidak berlebihan. Memperhatikan cara pengolahan dan porsi konsumsi merupakan langkah penting, karena kesehatan adalah investasi jangka panjang.

Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.

Pembentukan Senyawa Kimia Saat Proses Pembakaran

Risiko Konsumsi Makanan Bakaran Berlebihan

1. Meningkatkan Risiko Kanker

2. Memicu Gangguan Asam Lambung

3. Ancaman Infeksi Cacing

4. Penurunan Kualitas dan Kandungan Gizi

Tips Aman Menikmati Makanan Bakaran