Mang Jaya, Sang Penjaga Dongeng Sunda yang Merambah Dunia Digital baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Sebagai sosok yang menekuni dongeng Sunda selama puluhan tahun, Kuswadijaya Jamsari (81) atau yang akrab disapa Mang Jaya, telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga tradisi tersebut. Baginya, meski zaman berubah drastis, dongeng Sunda harus tetap eksis dan lestari.

Mang Jaya memaparkan, sejak mulai menekuni bidang ini pada 1974, ia telah berkomitmen penuh pada pelestarian dongeng Sunda. Di masa televisi masih menjadi barang langka, dongeng Sunda adalah primadona hiburan masyarakat. Tak hanya bagi orang Sunda, kala itu dongengnya juga banyak digemari oleh masyarakat dari luar suku Sunda.

“Karena dongengnya berbahasa Sunda, ada anak SMA dari Sumatera yang sering mendengarkan. Saat sekolah di Kuningan, dia langsung mengerti bahasa Sunda berkat kebiasaan mendengarkan dongeng tersebut. Jadi, orang di luar Sunda pun banyak yang menyukainya,” tutur Jaya.

Saat era radio mulai meredup, Mang Jaya mencoba merambah dunia digital. Lewat akun YouTube, ia tetap aktif mendongeng. Langkah ini berawal dari kegelisahannya melihat banyak kaset dongeng miliknya dibajak dan diunggah ulang secara ilegal oleh pihak lain di media sosial.

Didorong rasa resah tersebut, pada 2021 Mang Jaya memutuskan untuk mengonversi seluruh koleksi kaset dongengnya ke YouTube. Ia mengakui, proses migrasi platform dari radio ke YouTube ini cukup menantang karena ia harus beradaptasi dengan teknologi baru.

“Kesulitannya karena kaset sudah banyak yang rusak, jadi cara memulihkannya itu yang susah. Sejak 1970-an, ada ribuan kaset yang saya hasilkan. Makanya sekarang saya masukkan ke YouTube, mulai dari memindahkan isi kaset, mengedit, sampai mengubah format ke digital. Dulu saat awal muncul media sosial, kami tidak langsung buat,” jelasnya.

Selain mendongeng, melalui YouTube Mang Jaya juga mengedukasi masyarakat mengenai tata cara mendongeng Sunda yang baik dan benar. Ia pun kerap melakukan live streaming untuk membahas hal-hal penting. Guna mencegah pembajakan, akun YouTube-nya kini telah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI.

Berkat ketekunannya, kanal YouTube Mang Jaya kini berkembang pesat dengan koleksi 2.800 video, 130 ribu pelanggan (subscriber), dan telah ditonton sebanyak 74 juta kali. Melihat antusiasme penonton yang tetap tinggi, Mang Jaya optimistis dongeng Sunda tidak akan punah ditelan zaman.

“Untuk live streaming bergantung kebutuhan saja. Sekarang fokus buat konten video, sehari bisa tayang dua episode dengan durasi sekitar 40 menit per episode. Saya juga mengajar cara pengucapan yang benar melalui siaran itu. Saya gembira karena sekarang di YouTube banyak yang membacakan dongeng Sunda dengan kualitas bagus,” kata Jaya.

Selain aktif di dunia digital, Mang Jaya sebelumnya rutin mendongeng secara luring dengan berkeliling memenuhi undangan di sekitar wilayah Kuningan. Namun, karena usianya yang kini telah senja, ia memutuskan untuk tidak lagi menerima undangan mendongeng secara langsung di lapangan.

Meskipun tidak lagi tampil luring, Mang Jaya menegaskan akan tetap mendongeng. Menurutnya, selagi fisik masih mampu, ia akan terus melestarikan budaya Sunda melalui media apa pun.

“Undangan mendongeng di sekitar Kuningan masih sering ada, cuma karena sudah tua, saya batasi. Apalagi acaranya sering malam hari. Selama mampu, saya akan terus melestarikan ini. Ini adalah nilai hidup saya, karena kehidupan saya ada di sana. Sejak dulu, saya tidak pernah berganti pekerjaan,” pungkas Jaya.

Tradisi dongeng Sunda menyimpan banyak keunikan, salah satunya terletak pada keragaman karakter yang dibawakan. Mulai dari sosok orang tua, anak muda, hingga tiruan berbagai suara hewan dan makhluk gaib.

Mang Jaya memaparkan seorang pendongeng Sunda yang baik harus mampu menirukan berbagai karakter suara dengan presisi. Diperlukan ketekunan dan latihan konsisten untuk bisa menguasai teknik pengisian suara dalam cerita-cerita tersebut.

Bahkan, demi mendalami karakter yang dibawakan, Mang Jaya berguru kepada para dalang. Baginya, kualitas dongeng sangat bergantung pada kepiawaian sang pembawa cerita, layaknya pertunjukan wayang yang ditentukan oleh sang dalang.

“Nada bicara orang tua, anak-anak, kakek, atau hewan itu berbeda-beda. Saya pelajari secara otodidak karena dulu sering menonton wayang. Bagaimana Bima atau Arjuna bicara, itu saya pelajari. Sebab, cerita bergantung pada pendongengnya. Saya seperti wayang, pembawaannya tergantung dalangnya,” tutur Jaya.

Selain penguasaan karakter, aspek krusial lainnya adalah bahasa. Jaya menjelaskan meski menggunakan bahasa Sunda, terdapat beragam dialek yang maknanya bisa dipahami secara berbeda di tiap wilayah. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penggunaan bahasa Sunda standar yang baik dan benar.

“Dongeng itu hiburan lewat cerita. Bahasa Sunda itu beragam, dialek Kuningan dan Priangan terkadang berbeda. Jadi, cara menyampaikannya pun beda. Jika ada pengucapan yang salah di masyarakat, saya harus membetulkannya. Harus menggunakan pengucapan bahasa Sunda standar agar dipahami semua orang,” kata Jaya.

Dari sekian banyak cerita yang pernah dibawakan, salah satu yang paling berkesan bagi Jaya adalah Sirod Jalma Gaib, sebuah kisah supranatural yang sarat makna. Menurutnya, dongeng Sunda bukan sekadar hiburan, melainkan media penyampai pesan moral, nasihat, dan etika masyarakat Sunda.

Jaya mengaku optimis dongeng Sunda akan tetap lestari di masa depan. Ia berpesan kepada para pendongeng baru agar tidak takut memulai dan terus belajar hingga menemukan karakter unik mereka sendiri.

“Banyak pelajaran kehidupan seperti etika yang dibungkus dalam dongeng. Untuk pendongeng baru, teruslah belajar. Nanti akan ketemu karakter masing-masing. Kita tidak bisa meniru karakter orang lain; karakter orisinal harus muncul dari kemampuan diri sendiri,” pungkas Jaya.

Mengenal Dongeng Sunda

Selain mendongeng, melalui YouTube Mang Jaya juga mengedukasi masyarakat mengenai tata cara mendongeng Sunda yang baik dan benar. Ia pun kerap melakukan live streaming untuk membahas hal-hal penting. Guna mencegah pembajakan, akun YouTube-nya kini telah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI.

Berkat ketekunannya, kanal YouTube Mang Jaya kini berkembang pesat dengan koleksi 2.800 video, 130 ribu pelanggan (subscriber), dan telah ditonton sebanyak 74 juta kali. Melihat antusiasme penonton yang tetap tinggi, Mang Jaya optimistis dongeng Sunda tidak akan punah ditelan zaman.

“Untuk live streaming bergantung kebutuhan saja. Sekarang fokus buat konten video, sehari bisa tayang dua episode dengan durasi sekitar 40 menit per episode. Saya juga mengajar cara pengucapan yang benar melalui siaran itu. Saya gembira karena sekarang di YouTube banyak yang membacakan dongeng Sunda dengan kualitas bagus,” kata Jaya.

Selain aktif di dunia digital, Mang Jaya sebelumnya rutin mendongeng secara luring dengan berkeliling memenuhi undangan di sekitar wilayah Kuningan. Namun, karena usianya yang kini telah senja, ia memutuskan untuk tidak lagi menerima undangan mendongeng secara langsung di lapangan.

Meskipun tidak lagi tampil luring, Mang Jaya menegaskan akan tetap mendongeng. Menurutnya, selagi fisik masih mampu, ia akan terus melestarikan budaya Sunda melalui media apa pun.

“Undangan mendongeng di sekitar Kuningan masih sering ada, cuma karena sudah tua, saya batasi. Apalagi acaranya sering malam hari. Selama mampu, saya akan terus melestarikan ini. Ini adalah nilai hidup saya, karena kehidupan saya ada di sana. Sejak dulu, saya tidak pernah berganti pekerjaan,” pungkas Jaya.

Tradisi dongeng Sunda menyimpan banyak keunikan, salah satunya terletak pada keragaman karakter yang dibawakan. Mulai dari sosok orang tua, anak muda, hingga tiruan berbagai suara hewan dan makhluk gaib.

Mang Jaya memaparkan seorang pendongeng Sunda yang baik harus mampu menirukan berbagai karakter suara dengan presisi. Diperlukan ketekunan dan latihan konsisten untuk bisa menguasai teknik pengisian suara dalam cerita-cerita tersebut.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Bahkan, demi mendalami karakter yang dibawakan, Mang Jaya berguru kepada para dalang. Baginya, kualitas dongeng sangat bergantung pada kepiawaian sang pembawa cerita, layaknya pertunjukan wayang yang ditentukan oleh sang dalang.

“Nada bicara orang tua, anak-anak, kakek, atau hewan itu berbeda-beda. Saya pelajari secara otodidak karena dulu sering menonton wayang. Bagaimana Bima atau Arjuna bicara, itu saya pelajari. Sebab, cerita bergantung pada pendongengnya. Saya seperti wayang, pembawaannya tergantung dalangnya,” tutur Jaya.

Selain penguasaan karakter, aspek krusial lainnya adalah bahasa. Jaya menjelaskan meski menggunakan bahasa Sunda, terdapat beragam dialek yang maknanya bisa dipahami secara berbeda di tiap wilayah. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penggunaan bahasa Sunda standar yang baik dan benar.

“Dongeng itu hiburan lewat cerita. Bahasa Sunda itu beragam, dialek Kuningan dan Priangan terkadang berbeda. Jadi, cara menyampaikannya pun beda. Jika ada pengucapan yang salah di masyarakat, saya harus membetulkannya. Harus menggunakan pengucapan bahasa Sunda standar agar dipahami semua orang,” kata Jaya.

Dari sekian banyak cerita yang pernah dibawakan, salah satu yang paling berkesan bagi Jaya adalah Sirod Jalma Gaib, sebuah kisah supranatural yang sarat makna. Menurutnya, dongeng Sunda bukan sekadar hiburan, melainkan media penyampai pesan moral, nasihat, dan etika masyarakat Sunda.

Jaya mengaku optimis dongeng Sunda akan tetap lestari di masa depan. Ia berpesan kepada para pendongeng baru agar tidak takut memulai dan terus belajar hingga menemukan karakter unik mereka sendiri.

“Banyak pelajaran kehidupan seperti etika yang dibungkus dalam dongeng. Untuk pendongeng baru, teruslah belajar. Nanti akan ketemu karakter masing-masing. Kita tidak bisa meniru karakter orang lain; karakter orisinal harus muncul dari kemampuan diri sendiri,” pungkas Jaya.

Mengenal Dongeng Sunda