Dalam sistem kalender modern, satu tahun umumnya terdiri atas 365 hari, atau 366 hari pada tahun kabisat. Namun, dalam sejarah, pernah ada masa ketika satu tahun hanya berlangsung selama 355 hari.
Peristiwa tersebut terjadi pada 1582. Melansir infoEdu yang mengutip laman Swinburne University of Technology, pengurangan jumlah hari itu dilakukan untuk menyelaraskan Kalender Julian dengan Kalender Gregorian yang digunakan hingga kini.
Saat itu, para ilmuwan dan pemimpin Gereja Katolik menghapus 10 hari dalam kalender, tepatnya dari 4 Oktober hingga 15 Oktober 1582. Akibatnya, tahun tersebut hanya memiliki 355 hari. Langkah ini diambil untuk memperbaiki selisih perhitungan waktu yang selama berabad-abad membuat kalender semakin tidak sinkron dengan pergerakan Matahari dan musim.
Selain jumlah hari, pembagian bulan dalam satu tahun juga merupakan hasil perkembangan panjang ilmu astronomi. Saat ini, satu tahun terdiri dari 12 bulan, tetapi pada awalnya kalender Romawi hanya mengenal 10 bulan.
Astronom dan pemimpin Romawi, Julius Caesar, menekankan pentingnya pembagian 12 bulan dalam satu tahun serta penerapan tahun kabisat agar kalender selaras dengan siklus musim. Pengamatan astronomi menunjukkan bahwa dalam satu tahun terdapat lebih dari 12 siklus bulan, sehingga sistem 10 bulan dianggap tidak lagi akurat.
Untuk menyempurnakan kalender, bulan Januari dan Februari kemudian ditambahkan. Sementara itu, bulan kelima dan keenam yang semula bernama Quintilis dan Sextilis diubah menjadi Juli dan Agustus sebagai bentuk penghormatan kepada Julius Caesar dan penerusnya, Augustus. Kedua bulan tersebut diberi jumlah hari 31 untuk mencerminkan pentingnya nama para pemimpin Romawi tersebut dalam sejarah.
Jika ditelusuri lebih jauh, satuan waktu yang lebih kecil seperti minggu juga memiliki sejarah tersendiri. Hingga kini, satu minggu terdiri dari tujuh hari, sistem yang telah digunakan selama ribuan tahun.
Menurut laman Royal Museums Greenwich, sistem tujuh hari dalam seminggu dapat ditelusuri hingga peradaban Babilonia dan dekrit Raja Sargon I dari Akkad sekitar tahun 2300 sebelum Masehi. Bangsa Babilonia memuja angka tujuh yang dianggap sakral.
Pada masa itu, sebelum ditemukannya teleskop, manusia mengenal tujuh benda langit utama yang dapat diamati dengan mata telanjang, yakni Matahari, Bulan, serta lima planet yang terlihat. Angka tujuh kemudian menjadi dasar pembagian waktu mingguan.
Sistem ini juga berkaitan erat dengan tradisi keagamaan, khususnya dalam Yudaisme melalui kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian, yang menyebutkan Tuhan beristirahat pada hari ketujuh.
Berbeda dengan hari, bulan, dan tahun yang memiliki keterkaitan langsung dengan fenomena astronomi seperti rotasi Bumi dan revolusi Matahari, satu minggu tidak memiliki dasar astronomi yang kuat. Secara matematis, satu minggu hanya mencakup sekitar 23 persen dari satu siklus bulan.
Meski demikian, sistem tujuh hari dalam seminggu tetap bertahan dan digunakan secara luas selama ribuan tahun, dari Tiongkok dan India hingga Timur Tengah dan Eropa, serta menjadi standar waktu global hingga saat ini.
Artikel ini sudah tayang di infoEdu







