Saat sebagian ilmuwan menatap langit, berharap menemukan tanda kehidupan di luar Bumi, penelitian lain justru menunjukkan bahwa misteri terbesar masih tersembunyi di planet ini sendiri. Sepanjang 2025, berbagai ekspedisi ilmiah berhasil mengungkap spesies-spesies baru dari habitat ekstrem-mulai dari laut dalam hingga pegunungan terpencil-yang menegaskan bahwa keanekaragaman hayati Bumi masih jauh dari kata lengkap dipahami.
Temuan-temuan ini menjadi pengingat bahwa kehidupan tak hanya menunggu untuk ditemukan di luar angkasa, tetapi juga terus bersembunyi di sudut-sudut Bumi yang selama ini jarang tersentuh penelitian. Berikut lima spesies baru yang berhasil diidentifikasi sepanjang 2025.
Di kawasan pegunungan Eastern Arc, Tanzania, para peneliti mengungkap keberadaan tiga spesies katak baru dari genus Nectophrynoides yang memiliki cara reproduksi unik: melahirkan anak hidup, bukan bertelur. Penemuan ini merupakan hasil penelitian panjang selama lebih dari satu abad.
Awalnya, seluruh katak tersebut dianggap berasal dari satu spesies karena bentuknya yang sangat mirip. Namun, Christoph Liedtke bersama timnya menduga adanya keragaman tersembunyi. Dengan menganalisis DNA lebih dari 200 spesimen museum menggunakan teknologi sekuensing mutakhir, mereka akhirnya memisahkan tiga spesies berbeda.
Sayangnya, kondisi katak-katak ini memprihatinkan. Populasinya terus menyusut, satu spesies telah dinyatakan punah, dan beberapa lainnya tak lagi ditemukan selama lebih dari 20 tahun. “Jika mereka hilang, kita kehilangan potongan penting sejarah evolusi,” kata John Lyakurwa dari Universitas Dar es Salaam.
Di perairan Samudra Pasifik, hampir 3.400 meter di bawah permukaan laut, ilmuwan dari Monterey Bay Aquarium Research Institute menemukan spesies baru bernama Careproctus colliculi, atau dikenal sebagai bumpy snailfish. Dengan mata besar, sirip halus, dan ekspresi wajah yang tampak seperti tersenyum, ikan ini langsung menarik perhatian.
Menurut Mackenzie Gerringer, profesor biologi dari State University of New York, spesies ini menantang anggapan bahwa laut dalam selalu menjadi lingkungan yang suram dan ekstrem. Selain spesies ini, dua jenis snailfish lain juga berhasil diidentifikasi.
Keberadaan ikan-ikan laut dalam, kata Gerringer, sangat penting untuk dipahami karena ekosistem tersebut berperan besar dalam penyimpanan karbon global-faktor krusial dalam menghadapi perubahan iklim.
Di ketinggian Pegunungan Andes, Peru, para peneliti menemukan spesies baru opossum tikus berwarna kemerahan yang dinamai Marmosa chachapoya. Hewan mungil ini memiliki moncong panjang dan halus, serta penampilan yang sekilas mirip opossum tikus lainnya.
Penemuan ini terjadi secara tak sengaja. Silvia Pavan dari Cal Poly Humboldt awalnya melakukan survei mamalia lain di Taman Nasional Río Abiseo, kawasan lindung UNESCO. Namun, analisis DNA dan struktur tengkorak membuktikan bahwa hewan kecil tersebut merupakan spesies baru.
Nama chachapoya dipilih sebagai penghormatan kepada masyarakat adat yang pernah mendiami wilayah tersebut. Pavan menekankan bahwa banyak spesies berisiko punah akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia bahkan sebelum sempat dikenali oleh sains.
Seorang profesor biologi dari San Diego State University, Marshal Hedin, menemukan laba-laba cokelat yang tampak biasa di dekat sungai di California Utara-wilayah tempat ia dibesarkan. Bertahun-tahun kemudian, spesimen tersebut akhirnya diidentifikasi sebagai spesies sekaligus genus baru bernama Siskiyu armilla.
Laba-laba cokelat sering kali sulit dibedakan secara visual karena hidup di lingkungan serupa, seperti di bawah batu atau area lembap. Namun, analisis genetik menunjukkan bahwa spesies ini berbeda jauh dari kerabatnya.
Rodrigo Monjaraz Ruedas dari Natural History Museum of Los Angeles menyebut bahwa California menyimpan hampir 40 persen spesies laba-laba yang telah dideskripsikan di Amerika Serikat-dan kemungkinan masih banyak yang belum ditemukan.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Salah satu penemuan paling menonjol pada 2025 adalah fosil sapi laut purba bernama Salwasiren qatarensis, yang ditemukan di wilayah Al Maszhabiya, Qatar. Fosil berusia sekitar 21 juta tahun ini berasal dari kawasan yang kini dikenal sebagai salah satu lokasi terkaya fosil sapi laut di dunia.
Mamalia laut ini hidup di perairan dangkal Teluk Persia dan berperan penting sebagai “arsitek ekosistem”. Dengan moncong dan gadingnya, Salwasiren mencabut lamun hingga ke akar, mengangkat nutrien dari dasar laut, dan menciptakan lingkungan yang mendukung keanekaragaman hayati.
Nicholas Pyenson dari Smithsonian National Museum of Natural History menjelaskan bahwa padang lamun merupakan penyimpan karbon alami yang sangat efektif. Nama Salwasiren sendiri merujuk pada Teluk Salwa dan kata Arab “salwa” yang berarti penghiburan, mencerminkan harapan akan kerja sama lintas negara dalam melindungi warisan alam kawasan tersebut.
Padang lamun Teluk Salwa yang membentang di Qatar, Arab Saudi, dan Bahrain kini bahkan diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO-contoh nyata bagaimana sains dapat menjadi jembatan diplomasi.
Artikel ini telah tayang di
1. Katak yang Melahirkan
2. Ikan Snailfish Laut Dalam yang Menggemaskan
3. Marsupial Mini dari Andes Peru
4. Laba-laba Misterius dari California Utara
5. Sapi Laut Purba dari Qatar








