Sekitar 120 hektare sawah di Desa Nanggalamekar, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diserang ribuan burung pipit selama dua pekan terakhir. Akibatnya, petani mengalami gagal panen lantaran bulir padi habis dimakan burung.
Teten Sopiandi (53), petani di Kampung Pasirangin, Desa Nanggalamekar, mengatakan sejak usia tanaman 45 hari, petani sudah dihadapkan dengan penyakit yang membuat tanaman padi menjadi kerdil. Setelah berhasil melewati fase tersebut, petani justru harus menghadapi serangan ribuan burung pipit.
“Saat masa persemaian, kami berhasil lolos dari kegagalan tanam setelah padi diberi obat. Tapi menjelang panen, bulir padinya dimakan burung pipit. Jumlah burungnya ribuan,” kata Teten, Senin (19/1/2024).
Menurutnya, burung pipit tersebut biasanya menyerang dan memakan padi petani menjelang sore hari saat cuaca mulai teduh. “Kalau pagi dan siang burung ini tidak ada, tapi kalau sore langsung memenuhi sawah. Padi yang sudah muncul dimakan semua, seolah tidak ada habisnya. Hampir semua sawah dihinggapi,” tuturnya.
Serangan masif ini berdampak fatal pada produktivitas lahan. Teten menjelaskan, dari satu hektare sawah yang biasanya menghasilkan 7-8 ton gabah, kini hanya tersisa sekitar satu kuintal atau 100 kilogram.
“Sebagian besar gagal panen. Adapun yang tersisa, paling banyak kurang dari seperempat hasil panen biasanya,” ucapnya.
Ia mengaku kejadian ini baru pertama kali terjadi dengan skala sebesar ini. Diduga, ribuan burung pipit tersebut bermigrasi dari daerah lain. Petani telah berupaya menghalau serangan dengan memasang jaring, namun langkah tersebut tidak efektif dan memakan biaya tinggi.
“Bisa saja dipasang jaring semua, tapi biayanya sampai puluhan juta. Saya saja coba pasang jaring di satu hektare sawah sudah habis Rp1,5 juta. Itu pun burung masih bisa masuk. Kami berharap ada solusi dari pemerintah untuk pencegahan di musim tanam berikutnya,” kata Teten.
Kepala Desa Nanggalamekar, Hilman, mengonfirmasi bahwa dalam dua pekan terakhir total 120 hektare sawah terdampak. “Ada sekitar empat kelompok tani yang terserang. Satu kelompok mengelola 30-35 hektare. Totalnya 120 hektare dan kemungkinan bertambah karena banyak lahan yang menjelang masa panen,” jelas Hilman.
Merespons hal tersebut, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Cianjur, Dandan, menyatakan pihaknya akan melakukan langkah penanganan darurat.
“Sebenarnya petani sudah melakukan antisipasi dengan memasang jaring dan alat pengusir tradisional. Namun, langkah berikutnya kami akan menyemprotkan pestisida khusus yang membuat burung tidak mendekat. Ke depannya, kami juga akan mendorong program tanam serempak untuk memutus siklus serangan hama,” pungkas Dandan.
