10 Hikmah Isra Miraj untuk Menata Kehidupan dan Memperbaiki Akhlak

Posted on

Di era modern yang serba instan, banyak individu menghadapi tantangan berupa rasa gelisah dan kehilangan arah. Rutinitas yang padat, ambisi duniawi, serta banjir informasi sering kali memicu kelelahan mental. Kondisi ini pun kerap memengaruhi hubungan spiritual dan kualitas keimanan seseorang.

Dalam situasi tersebut, peristiwa Isra Miraj hadir sebagai pengingat untuk menjaga keteguhan iman. Perjalanan Nabi Muhammad SAW bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pesan mendalam bagi umat yang tengah mengalami krisis spiritual. Melalui peristiwa agung ini, umat Islam diajak memahami hikmah di balik setiap ujian hidup.

Berikut adalah 10 hikmah Isra Miraj yang dapat dipetik oleh umat Islam:

Salat memiliki kedudukan fundamental sebagai tiang agama. Melalui peristiwa Isra Miraj, perintah salat lima waktu diturunkan. Istimewanya, syariat ini diterima langsung oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT tanpa perantara Malaikat Jibril, berbeda dengan kewajiban ibadah lainnya.

Dalam Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW menyaksikan tanda-tanda keagungan Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Isra ayat 1 dan Surah An-Najm ayat 14-18. Peristiwa ini membuktikan kebesaran Allah SWT; sesuatu yang mustahil bagi logika manusia adalah hal yang sangat mudah bagi-Nya.

Peristiwa ini menjadi ujian bagi logika dan keyakinan umat. Mereka yang beriman akan semakin teguh meyakini kebenaran Isra Miraj, sementara mereka yang ragu justru akan mengalami pelemahan iman karena hanya bersandar pada nalar manusia semata.

Sebelum memulai perjalanan, Malaikat Jibril membelah dada Nabi Muhammad SAW untuk menyucikan hatinya dengan air zamzam. Hal ini mengajarkan bahwa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, seorang hamba perlu membersihkan hatinya terlebih dahulu agar mencapai kesempurnaan spiritual.

Surah Al-Isra ayat 1 menyebut Nabi Muhammad SAW dengan istilah abdun yang berarti hamba. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan tertinggi seorang manusia di sisi Allah SWT adalah ketika ia benar-benar menjadi hamba yang bertakwa dan tunduk sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

Sebelum Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW kehilangan orang-orang tercinta yang menjadi pendukung utama dakwahnya. Ujian bertubi-tubi ini menjadi pembekalan agar Rasulullah semakin tangguh dan memiliki harapan baru dalam menyebarkan risalah Islam meski di tengah kesulitan.

Pagi harinya setelah kejadian, Rasulullah SAW langsung mengabarkan pengalamannya kepada kaum kafir Quraisy. Meski tahu akan ditolak dan dianggap tidak masuk akal, beliau tetap menyampaikannya. Ini mengajarkan bahwa kebenaran harus tetap disuarakan secara jujur.

Masjidil Aqsa menjadi titik singgah Nabi sebelum bertolak ke Sidratulmuntaha. Masjid ini pernah menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum berpindah ke Kakbah. Keutamaannya sangat besar; pahala salat di Baitul Maqdis dilipatgandakan hingga 500 kali lipat dibanding masjid biasa.

Melalui Isra Miraj, Rasulullah SAW menyaksikan secara langsung gambaran surga, neraka, dan hal-hal gaib. Pengalaman ini menjadi bahan introspeksi bagi umat untuk senantiasa memperbaiki diri dan menyadari bahwa setiap perbuatan akan memiliki konsekuensi di akhirat.

Saat diberi pilihan antara air, susu, dan khamar, Nabi memilih susu. Malaikat Jibril kemudian berkata, “Engkau telah memilih fitrah.” Ini adalah isyarat bahwa Islam adalah agama yang suci dan senantiasa menuntun manusia kembali kepada fitrah kemanusiaannya.

Itulah deretan hikmah di balik perjalanan agung Isra Miraj. Peristiwa ini bukan sekadar mukjizat, melainkan panduan bagi umat Islam untuk memperkuat keyakinan dan meneladani keteguhan iman Rasulullah SAW. Dengan menjadikan salat sebagai fondasi, umat Islam diharapkan mampu membentuk pribadi yang tenang, berakhlak mulia, dan istikamah dalam menebar kebaikan.

1. Pentingnya Salat Lima Waktu

2. Tanda Kebesaran Allah SWT

3. Ujian Keimanan

4. Penyucian Jiwa

5. Tingginya Derajat Kehambaan

6. Pembekalan Dakwah yang Tangguh

7. Menyampaikan Kebenaran Meski Pahit

8. Keistimewaan Masjidil Aqsa

9. Introspeksi Diri

10. Islam Agama yang Suci

Sebelum Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW kehilangan orang-orang tercinta yang menjadi pendukung utama dakwahnya. Ujian bertubi-tubi ini menjadi pembekalan agar Rasulullah semakin tangguh dan memiliki harapan baru dalam menyebarkan risalah Islam meski di tengah kesulitan.

Pagi harinya setelah kejadian, Rasulullah SAW langsung mengabarkan pengalamannya kepada kaum kafir Quraisy. Meski tahu akan ditolak dan dianggap tidak masuk akal, beliau tetap menyampaikannya. Ini mengajarkan bahwa kebenaran harus tetap disuarakan secara jujur.

Masjidil Aqsa menjadi titik singgah Nabi sebelum bertolak ke Sidratulmuntaha. Masjid ini pernah menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum berpindah ke Kakbah. Keutamaannya sangat besar; pahala salat di Baitul Maqdis dilipatgandakan hingga 500 kali lipat dibanding masjid biasa.

Melalui Isra Miraj, Rasulullah SAW menyaksikan secara langsung gambaran surga, neraka, dan hal-hal gaib. Pengalaman ini menjadi bahan introspeksi bagi umat untuk senantiasa memperbaiki diri dan menyadari bahwa setiap perbuatan akan memiliki konsekuensi di akhirat.

Saat diberi pilihan antara air, susu, dan khamar, Nabi memilih susu. Malaikat Jibril kemudian berkata, “Engkau telah memilih fitrah.” Ini adalah isyarat bahwa Islam adalah agama yang suci dan senantiasa menuntun manusia kembali kepada fitrah kemanusiaannya.

Itulah deretan hikmah di balik perjalanan agung Isra Miraj. Peristiwa ini bukan sekadar mukjizat, melainkan panduan bagi umat Islam untuk memperkuat keyakinan dan meneladani keteguhan iman Rasulullah SAW. Dengan menjadikan salat sebagai fondasi, umat Islam diharapkan mampu membentuk pribadi yang tenang, berakhlak mulia, dan istikamah dalam menebar kebaikan.

6. Pembekalan Dakwah yang Tangguh

7. Menyampaikan Kebenaran Meski Pahit

8. Keistimewaan Masjidil Aqsa

9. Introspeksi Diri

10. Islam Agama yang Suci